JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Jakarta, (29/04/2021) -- Dalam cerita pewayangan, “Para Dewa berkumpul dalam Ruangan Balairung Utama karena akan ada pemberian berupa Benih Kehidupan, untuk itu semua para dewa di kumpulkan tanpa kecuali karena bila ada satu saja dewa tidak hadir maka benih kehidupan ini tidak bisa di keluarkan dari cupunya.  Setelah semua terkumpul di bukalah cupu benih kehidupan, tetapi benih kehidupan ini terjatuh ke Bumi, ternyata ada seorang dewa yang tidak hadir saat itu yaitu, dewa pembuat perkakas perang, karena sibuknya membuat perkakas hingga dewa tersebut tidak hadir.  Benih Kehidupan ini jatuh hingga menembus Bumi, di dasar Bumi sedang ada Naga yang bertapa, benih ini masuk dalam rongga mulut naga hingga tertelan.  Di Jonggrang swargaloka Dewa memerintahkan untuk mengejar jatuhnya Benih Kehidupan, di hadapan Naga Pertapa utusan dewa meminta Benih Kehidupan yang tertelan, Naga pun memuntahkan Benih Kehidupan dan ternyata keluar dari Mulut Naga  sepasang bayi.  Akhirnya kedua bayi ini di bawa ke tempat para dewa, kedua bayi ini lalu di beri nama yang lelaki Sedana dan yang wanita dinamai Dewi Sri…Itulah penggalan cerita Pewayangan dimana kelak kita mengenal Dewi Sri sebagai Dewi Padi (Oryza Satva). Masyarakat dahulu  sangat menghormati Padi ini, untuk menghasilkan benih yang baik para petani dahulu sebelum panen memisahkan dahulu padi yang bagus untuk tanam berikutnya.

Era telah berganti tapi usaha dalam mempertahankan Benih Kehidupan yang lebih baik tetap di pertahan kan, karena benih yang baik mendukung keberhasilan produksi hingga 20 persen, Banyak Lembaga perbenihan yang eksis dalam menghasilkan benih, namun kini kelompok kelompok tani pun menghasilkan benih sendiri untuk tujuan mempertahankan mutu dan daya jual yang lebih baik.

Petani di DKI Jakarta biasanya menggunakan varietas unggul lama seperti Ciherang, Mekongga, Situ Bagendit dan lain-lain. Selain menggunakan varietas lama, mereka juga menggunakan benih yang tidak berlabel. Sehingga diperoleh hasil produksi yang kurang maksimal.  Tim Pendampingan padi mencoba memperkenalkan varietas yang  berlabel dan unggul baru untuk dicoba  ditanam oleh petani. Petani yang bersedia menanam benih-benh tersebut terdapat , berasal dari 2 wilayah sentra produksi padi di Jakarta yaitu Jakarta Barat dan Jakarta Utara

Kegiatan Pendampingan yag akan dilakukan meliputi Penangkaran  budidaya tanaman padi dari mulai semai hingga panen nantinya. Beberapa Kelompok Tani Binaan baik yang di Jakarta Utara maupun di Jakarta Barat, dalam berusahataninya mecoba untuk membuat benih sendiri di damping oleh BPTP Jakarta yang memberikan Bimbingan Teknis tentang Perbenihan, DKPKP yang mendorong kelompok untuk melaksanakan penangkaran dengan di kawal oleh BPSB, POPT dan Penyuluh di wilayah masing masing.

Demplot Penangkaran untuk Jakarta Barat di laksanakan di Kelompok Tani Jawa Indah dengan Varietas Inpari 32 label putih dari Balai Besar Padi, untuk Jakarta Utara Penangkaran dilaksanakan di Rorotan oleh Kelompok Tani Maju, Kelompok ini semua telah melaksanakan Bimtek Perbenihan yang di laksanakan dimasing masing wilayahnya semoga benih tidak menjadi kendala lagi dalam bertanam padi sawah, karena kesiapan benih yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan benih baik di kelompok maupun di wilayah sekitarnya.