JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Jakarta -- (8/09/2020) Kelor (Moringa oleifera) dikenal juga dengan nama The miracle tree, Tree for life, Amazing tree. Hal ini karena kandungan dan manfaat kelor yang luar biasa. Kelor telah banyak dibudidayakan sejak lama di Indonesia. Selain sebagai sayuran, kelor juga dimanfaatkan sebagai tanaman fungsional untuk penyembuhan berbagai penyakit.

Mendukung pengembangan budidaya dan pemanfaatan kelor sebagai pangan dan pakan, BPTP Jakarta mengadakan webinar dengan tema Kelor (Moringa oleifera L): Budidaya dan Pengolahannya untuk Pangan dan Pakan. Webinar BPTP Jakarta Seri 2 ini cukup menyedot perhatian peserta, terbukti dengan jumlah pendaftar yang mencapai angka lebih dari 230 orang dengan beragam latar belakang profesi seperti peneliti, penyuluh, akademisi, bahkan wiraswasta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Memanfaatkan platform zoom meeting dan Live-streaming youtube BPTP  Jakarta  menjadikan diskusi lebih interaktif dan hidup.

Dalam sambutannya, Kepala BPTP Jakarta Dr. Ir. Arivin Rivaie, M.Sc menyatakan kelor merupakan superfood, ini bukan tanpa alasan karena tanaman ini kaya akan vitamin, mineral dan anti oksidan yang lebih tinggi dari sayuran lainnya. Untuk DKI Jakarta kegiatan pengembangan kelor dapat ditujukan untuk mengurangi stunting khusunya untuk wilayah kepulauan seribu.  BPTP Jakarta mendukung program pemeritah dalam mendorong pengembangan kelor sebagai sumber pangan lokal.

Nofi Anisatun Rokhmah menyampaikan tehnik budidaya kelor di lahan terbatas dengan menggunakan pot atau planterbag. Pembibitan menggunakan bahan stek batang dipilih dari pohon indukan yang baik, diperlukan zat pengatur tumbuh, dan media tanam yang porous.  Zat pengatur tumbuh yang dapat digunakan antara lain Root up, BAP, bawang merah, atau air kelapa.  Sementara itu, media tanam dapat menggunakan sekam dengan campuran kompos, vermikompos, pukan kelinci, atau pukan sapi.  Pot yang digunakan berdiameter 30-50 cm.  Ukuran pot tergantung besaran bibit kelor dan ruang yang tersedia. Wadah yang besar memiliki cadangan hara yang lebih banyak.  Bibit dapat dipindah tanam ke wadah yang lebih besar umur 2-3 bulan.  Tanaman kelor disiram minimal 2 kali sehari. Pemupukan dilakukan tiga bulan sekali dengan memberikan pupuk organik 500 g/pot, urea 3 g/pot, KCL 1 g/pot, dan TSP 1 g/pot.

Selanjutnya pemanfaatan kelor sebagai bahan pakan disampaikan secara rinci oleh Syamsu Bahar, M.Si.  Kelor telah dimasukkan dalam formulasi pakan pellet kelinci.  Kelor yang digunakan adalah daun kelor yang telah ditepungkan.  Komposisi formula pakan pellet kelinci tersebut adalah tepung kelor 10%, onggok 15%, bungkil kedelai 30%, dedak padi 30%, mineral mix 5%, dan molase 15%.  Seluruh bahan dicampur merata dan dicetak dalam mesin pellet.  Kandungan nutrisi pakan pellet kelinci dengan formulasi tersebut memiliki kandungan nutrisi Protein 15,16%; lemak 2,76%;  serat kasar 20,56%; Calsium 0,70%; dan Posphat 0,44%.  Pelet dapat digunakan sebagai pakan kelinci sebanyak ±80-93 g/ekor/hr untuk kelinci lepas sapih umur 5 minggu.  Pertambahan bobot harian berkisar antara 14 – 18,8 g/hr dengan nilai konversi pakan 4,7 – 6,9.

Penanganan kelor dan pengolahannya pada produk pangan disampaikan oleh Yossi Handayani, STP.  Salah satu pengolahan kelor adalah dalam bentuk bahan sediaan tepung kelor.  Tahap awal pembuatan tepung kelor adalah pengeringan yang dapat dilakukan dengan 3 cara.  Pengeringan dengan matahari (menggunakan naungan plastik uv, kain); pengeringan ruangan (menggunakan rak, suhu 35-40 C, 3-4 hari); menggunakan mesin pengering (suhu 50 C, 5 jam).  Tepung kelor yang dihasilkan memiliki karakteristik kimia kadar air 7,8%; kadarabu 9,32%; protein 29,6%; lemak 6,98%; karbohidrat 39,4%; serat kasar 6,91%; kalium 1,86%; kalsium 2,21%; besi 91,2 mg/kg; B-karoten 271 mg/kg; vitamin C 498 mg/kg.  Dari bahan sediaan ini dapat diolah menjadi es krim kelor, cendol moringa jagung, nugget kelor, smoothies kelor, teh kelor dan masih banyak lagi variasi olahan.

Webinar ini mendapat respon yang sangat luar biasa. Interaksi antara peserta dengan narasumber mengalir dengan sangat menarik. Semoga webinar ini meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan minat untuk membudidayakan dan memanfaatkan kelor.

Link berita lainnya :

https://technology-indonesia.com/pertanian-dan-pangan/inovasi-pertanian/budidaya-tanaman-kelor-dalam-pot-di-daerah-perkotaan/

https://technology-indonesia.com/pertanian-dan-pangan/inovasi-pertanian/budidaya-tanaman-kelor-dalam-pot-di-daerah-perkotaan/

https://pangannews.id/budidaya-tanaman-kelor-dalam-pot-di-daerah-perkotaan/

https://rilis.id/budidaya-tanaman-kelor-dalam-pot-di-daerah-perkotaan

https://pilarpertanian.com/budidaya-tanaman-kelor-dalam-pot-di-daerah-perkotaan/

https://suaratani.com/news/agro-industri/nilai-gizi-tinggi-pemanfaatan-daun-kelor-mampu-tanggulangi-stunting

https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/family-style/14415-Kaya-Gizi-dan-Percantik-Pekarangan-Budidaya-Kelor-Jadi-Pilihan-Urban-Farming