JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Jakarta -- Kedelai, meskipun kurang popular untuk dibudidayakan di wilayah DKI Jakarta tetapi tetap berpeluang untuk dikembangkan, terutama di lahan-lahan dengan sumber daya air terbatas. Umumnya, saat musim penghujan dengan curah hujan tinggi di Jakarta akan rawan dengan bencana banjir, namun di lokasi dan kesempatan lain juga dapat terjadi kasus kekeringan, baik di lahan pertanian yang telah ada atau pun lahan-lahan produktif belum tergarap lainnya. Balitbangtan melaui BPTP Jakarta telah memperkenalkan beberapa komoditas alternatif untuk dikembangkan dalam rangka mengatasi hal tersebut, di antaranya melalui pengenalan beberapa VUB padi gogo (Inpago atau pun Rindang). Begitu juga dengan VUB kedelai. Namun komoditas-komoditas ini dirasa belum terlalu dikenal.

Oleh karena itu, pada musim tanam ini, kembali diperkenalkan salah satu VUB komoditas pangan alternatif, yaitu kedelai Anjasmoro, di lahan pertanian Rorotan-Jakarta Utara. Beberapa waktu sebelumnya komoditas ini juga akan diperkenalkan di lahan pertanian Jakarta Barat, bahkan telah dilakukan juga di Ujung Menteng-Jakarta Timur. Perbaikan sistem diseminasi teknologi sangat diperlukan guna membatu pengembangan komoditas alternatif tersebut.

Dengan perencanaan produksi akan dipanen muda (bukan panen biji tua), komoditas ini diharapkan dapat dibudidayakan di musim kemarau atau lahan produktif belum optimal pemanfaatannya karena keterbatasan air, sehingga mampu meningkatkan indeks pertanaman, yang pada akhirnya juga dapat menambah pendapatan petani di DKI Jakarta.

Pusbang Benih dan Proteksi Tanaman DKI Jakarta siap membantu pengembangan komoditas-komoditas tersebut apabila telah diperoleh rekomendasi dari hasil evaluasi kajian atau pengenalan VUB tersebut.
Sekecil apapun peluang, pembuktian tetap diperlukan.

Majulah pertanian Indonesia.