Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Banner
banner4
Banner5
eproduk
banner2
Sinar Tani
M-KRPL
Pemanfaatan Limbah Sayuran dan Buah-Buahan sebagai Pupuk Organik Cair dan Pakan Ternak (2007) PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Kamis, 10 November 2011 08:51
Produksi limbah organik di DKI Jakarta mencapai 4.500 ton per hari. Sebagian besar diantaranya (±60%) adalah limbah sayuran dan buahan. Merujuk pada literatur, nutrien yang terkandung dalam limbah sayuran dan buahan mencapai 100 ton per berat kering limbah sehingga potensial untuk dimanfaatkan sebagai pupuk dan bahan pakan ternak.

Pada tahun anggaran 2007, BPTP Jakarta melakukan kajian mengenai pemanfaatan limbah sayuran dan buahan. Pelaksanaan pengkajian ini memiliki dua pendekatan, yakni pendekatan laboratorium dan lapangan. Pendekatan laboratorium diarahkan pada pengujian kualitas produk yang dikaji, meliputi pupuk organik cair dan bahan pakan, sedangkan pengkajian lapangan ditujukan untuk menguji kelayakan teknis dan ekonomis teknologi yang dikaji. Pelaksanaan pengkajian di lapangan dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan enam petani sebagai pelaksana atau kooperator. Paket teknologi yang dikaji diatur menggunakan metode petak berpasangan, masing-masing petani sebagai ulangan. Rincian teknologi yang dikaji, meliputi: 1)  Paket teknologi BPTP, yakni pupuk organik cair berbahan baku saripati perasan limbah sayuran dan buah yang telah difermentasi dan diperkaya dengan unsur mineral dan mikroba, Paket teknologi petani, yakni pemupukan menggunakan pupuk kandang sapi sebanyak 4 ton/ha dan urea sebanyak 10 kg/ha. 

Kegiatan pengkajian dilaksanakan sebanyak dua tahap, yaitu tahap pertama meliputi pengujian laboratorium dan tahap kedua melakukan pengujian teknis pupuk di lapangan.

Berdasarkan hasil kajian secara laboratoris, pupuk organik cair yang berasal dari saripati limbah sayuran dan buahan memenuhi syarat sebagai pupuk, baik sebagai sumber unsur makro maupun mikro.  Kandungan unsur makro yang meliputi N, P, K, Ca, Mg, dan S berkisar 101-3.771 mg.l-1, sedangkan unsur hara mikro meliputi Fe, Mn, Cu, dan Zn berkisar antara 0,2-0,62 mg.l-1. Demikian juga halnya dengan tepung ampas perasan limbah, juga layak untuk dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak (unggas dan ruminansia). Karakteristik kimiawi bahan pakan, meliputi kandungan protein kasar (11,79-14,35), lemak kasar (2,15-3,45), Beta-N (35,86-38,84), fosfor (0,31-0,39), kalsium (1,32-1,47), dan serat kasar (9,41-14,35); bahan kering (66,57-76,38); dan energi bruto (2.805-3.753).

Hasil pengujian di lapangan menunjukkan bahwa pupuk organik cair berbahan baku saripati limbah sayuran dan buahan (Teknologi BPTP) memiliki kemangkusan yang hampir sama dengan pupuk kandang 5 ton/ha + urea 10 kg/ha (Teknologi Petani). Hasil bayam per petak 100 m2 pada kedua cara pemupukan tersebut, masing-masing mencapai 562 kg (Teknologi Petani) dan 465 kg (Teknologi BPTP), sedangkan hasil kangkung mencapai 433 kg (Teknologi Petani) dan 420 kg (Teknologi BPTP).

Bahan padatan hasil pengolahan limbah pasar dapat dikategorikan sebagai bahan pakan konsentrat sumber energi, sehubungan dengan rataan kandungan serat kasar (SK) dan protein kasar (PK) di dalam bahan adalah masing-masing sebesar 11,88% dan 12,98%. Sebagaimana diketahui bahwa suatu bahan pakan yang mempunyai kandungan SK sebesar kurang dari 18% dan kandungan PK kurang dari 20% adalah termasuk ke dalam bahan konsentrat sumber energi (Sutardi, 1991). Oleh sebab itu bahan padatan ini mempunyai potensi yang sangat baik untuk dijadikan bahan pakan ternak, baik untuk ternak unggas maupun ruminansia, sehingga dapat digunakan sebagai bahan pakan alternatif untuk pengganti semua bahan pakan yang biasa digunakan.

Diharapkan bahwa bahan limbah pasar ini tidak akan mempunyai berbagai kelemahan dalam penggunaannya sebagai pakan ternak, karena bahan utama untuk pembuatannya adalah limbah dari buah-buahan dan sayur-sayuran yang pada umumnya sangat disukai ternak. Selain itu karena dalam pembuatan bahan ini telah dilakukan berbagai proses ekstraksi yang dapat mengakibatkan hilangnya atau matinya berbagai racun patogen dan zat-zat berbahaya lainnya. Oleh sebab itu akan sangat kecil kemungkinan bahwa bahan limbah pasar ini mengandung bahan bersifat racun atau anti nutrisi yang akan mengganggu produktivitas ternak. Namun demikian, untuk mengetahui adanya hambatan dalam penggunaan limbah pasar ini sebagai bahan pakan ternak, maka masih diperlukan berbagai pengujian baik dalam skala kecil di laboratorium maupun dalam skala besar di lapangan.

Sebagai bahan perbandingan dan pertimbangan dalam penggunaan bahan limbah pasar ini untuk ransum pemeliharaan ayam buras dewasa, maka telah dilakukan penyusunan formula ransum uji coba menggunakan bahan-bahan yang biasa digunakan untuk ayam buras tersebut. Dalam formula ransum uji coba ini digunakan bahan limbah pasar sebagai pengganti dedak padi. Ransum ini disusun dengan metoda “least cost diet formulation” menggunakan program komputer Mixit-2, agar dapat tercapai komposisi ransum dengan kandungan gizi yang diinginkan dan dengan biaya yang serendah mungkin (ASC, 1984). Dalam hal ini diasumsikan bahwa harga bahan limbah pasar adalah sebesar Rp 500/kg. Hasil yang diperoleh adalah seperti yang tercantum di dalam Tabel 5.
Terlihat bahwa dengan menggunakan bahan limbah pasar menyebabkan harga ransum menjadi lebih murah sebanyak Rp 514/kg dibanding penggunaan dedak padi. Namun demikian penggunaan bahan limbah pasar (35,7%) lebih banyak dibandingkan dengan dedak padi (31,1%). Selain itu juga terjadi sedikit kenaikan dalam penggunaan bungkil kedele (0,41%), akan tetapi terjadi pengurangan dalam penggunaan jagung giling, tepung ikan dan tepung daging. Sedangkan penggunaan bahan-bahan lainnya tidak terjadi perubahan yang cukup nyata.
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com