Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Banner
Sinar Tani
M-KRPL
banner4
Banner5
eproduk
banner2
Kerusakan Produk Sayuran di DKI Jakarta (2006) PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Kamis, 10 November 2011 08:42
DKI Jakarta merupakan wilayah dengan kondisi yang sangat spesifik bila dibandingkan dengan propinsi-propinsi lain. Dari sekitar 650 km2 wilayah daratan propinsi DKI Jakarta, hanya 13% yang merupakan lahan pertanian dan umumnya didominasi oleh suasana perkotaan. Dengan kondisi seperti itu, untuk memenuhi kebutuhan akan hasil pertanian khususnya sayuran sebagian besar didatangkan dari luar Jakarta. Untuk sampai ke tangan konsumen di DKI Jakarta, komoditas sayuran tersebut harus melalui suatu rantai tataniaga yang cukup panjang. Konsekuensi dari semakin panjangnya rantai tata niaga tersebut adalah meningkatnya penurunan mutu dan kehilangan bobot. Pada tahun 1987, di pasar induk Kramat jati Jakarta kerusakan produk hortikultura berkisar 650 ton setiap hari dari total produksi sebanyak 1690 ton (Badan Litbang Pertanian, 1991).

Kerusakan suatu komoditas mengakibatkan kehilangan (loss) yang disebabkan tidak dapat dimanfaatkannya lagi sehingga tidak layak untuk dikonsumsi. Tingkat kerusakan komoditas hortikultura khususnya sayuran yang masuk ke wilayah DKI Jakarta umumnya terjadi saat distribusi. Sehubungan dengan hal tersebut, Dinas Pertanian dan Kehutanan DKI Jakarta meminta BPTP Jakarta untuk melakukan kajian guna mengatasi masalah tersebut. Pada tahun 2006 direncanakan untuk melaksanakan kajian kehilangan hasil kubis dan cabai pada distribusi sayuran di DKI Jakarta.

Komoditas sayuran setelah dipanen masih melakukan reaksi-reaksi metabolik dan mempertahankan sistem fisiologis seperti halnya pada saat komoditas tersebut masih menempel di pohonnya (sebelum dipanen). Hal yang penting diketahui adalah bahwa komoditas tersebut masih melakukan proses respirasi yaitu mengambil oksigen dan melepaskan gas karbondioksida, air dan panas. Selain itu komoditas tersebut juga mengalami transpirasi yaitu kehilangan air. Hal itu juga menyebabkan kerusakan komoditas tersebut. Faktor lain yang dapat mengakibatkan kerusakan pada komoditas sayuran adalah akibat penanganan yang kurang baik dalam: pemanenan, penampungan, pengemasan, pengangkutan, penyimpanan dan tahapan pasca panen lainnya (Syaifullah, 2001).

Menurut Syaifullah (2001), penanganan pasca panen melalui berbagai langkah kegiatan dari panen sampai dengan konsumsi. Pada umumnya langkah-langkah itu adalah sebagai berikut: 1) panen, 2) pengepakan, 3) pengangkutan, 4) pengemasan, 5) penyimpanan, 6) pemerapan, 7) pengecer, 8) penyimpanan di rumah tangga dan 9) konsumsi. Setiap tingkat penanganan pasca panen saling tergantung satu sama lainnya. Penanganan yang tidak baik selama rantaian distribusi berakibat meningkatnya kehilangan/kerusakan suatu komoditas. Kerugian yang dialami sebagai akibat penanganan pasca panen yang tidak baik merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian. Dari studi yang pernah dikerjakan, banyaknya bagian yang terbuang akibat penanganan pasca panen yang tidak baik antara 10-25% untuk produk kentang, bawang merah, bawang putih dan cabai, sedangkan untuk produk kubis dan sawi berkisar antara 25-40%.

Kubis yang beredar di pasar Jakarta mempunyai bentuk gepeng, kadar air 73-83%, tingkat kerusakan 1,7-17,2%, total mikroba antara 1,8 x 106 sampai dengan 2,0 x 106, dan residu pestisida berkisar 0,02-0,03 mg/kg. Tingkat kerusakan kubis berkisar antara 1,7-17,2%. Penyebab tingginya kerusakan kubis antara lain alat panen, sistem pengeringan dan transportasi tidak higines, penggunaan bahan pengawet yang berlebihan dan tidak aman, sistem pengangkutan/bongkar muat yang kurang memperhatikan kekuatan produk dan sanitasi pasar yang kotor.

Cara untuk mengatasi kerusakan kubis, dari pedagang pengumpul, pedagang besar sampai pada pedagang pengecer antara lain adalah: (1) Alat yang digunakan untuk panen (pisau dan keranjang) sebelum digunakan harus terlebih dahulu dibersihkan sehingga terjamin bebas kontaminan. (2) Pergunakan sistem tempat pengeringan yang hygines dan bebas kontaminan serta selalu dibersihkan. (3) Truk yang digunakan untuk mengangkut juga dibersihkan dari kotoran-kotoran, sehingga truk terjamin bebas dari kontaminan. (4) Sebaiknya kubis diangkut tidak bersamaan dengan sayuran lain dan hindari penumpukan kubis. (5) Pergunakan bahan pengawet yang aman bagi tubuh dan tidak merusak kubis dengan dosis yang telah ditentukan antara lain chlorin, tohor dan lain-lain. (6) Sebaiknya pedagang menggunakan alas yang dapat mencegah kontak langsung antara kubis dan kontaminan dan hindari penumpukan kubis saat berjualan/penyimpanan. (7) Sanitasi pasar harus benar-benar terjaga, hindari penumpukan sampah/kotoran yang menjadi sumber kontaminan.

Sedangkan tingkat kerusakan/kehilangan hasil produk cabai berkisar antara 0,8-10,6%. Penyebab kerusakan/kehilangan hasil cabai disebabkan pemanenan dilakukan pada saat yang tidak tepat, alat panen, sistem pengeringan dan transportasi tidak higienis, hama dan penyakit, sistem bongkar muat yang kurang hati-hati, sistem pengangkutan yang tidak baik, termasuk sanitasi lingkungan pasar yang buruk.

Cara untuk mengatasi kerusakan cabai, dari pedagang pengumpul, pedagang besar sampai pada pedagang pengecer antara lain adalah: (1) Sebaiknya pemanenan dilakukan tepat umur panen cabai sehingga diperoleh warna dan ukuran yang seragam. (2) Alat yang digunakan untuk panen (pisau dan keranjang) sebelum digunakan harus terlebih dahulu dibersihkan sehingga terjamin bebas kontaminan. (3) Sebelum dijual ke pedagang pengumpul, sebaiknya petani mensortasi cabai berdasarkan keadaan (baik/buruk) dan keseragaman baik warna maupun ukuran. (4) Pemuatan dan pembongkaran harus dilakukan dengan hati-hati, terutama pada waktu mengangkat, menyimpan dan menyusun dalam alat angkut. Sistem pengangkutan juga harus memperhatikan kualitas dan keadaan produk. Sebaiknya pengangkutan suatu produk sayuran tidak dicampur untuk menghindari kontaminasi. (5) Perlu ada usaha perlindungan produk cabai dari pengaruh lingkungan selama pengangkutan (panas dan hujan), antara lain dengan cara menutup dengan kain terpal, penggunaan alat angkut yang tertutup tetapi berventilasi atau penggunaan kontainer yang dilengkapi pengaturan udara. (6) Penyusunan kemasan dalam alat angkut hendaklah mempertimbangkan kekuatan kemasan dan ventilasi. Hal ini dapat dilakukan dengan menyusun kemasan yang tidak terlalu tinggi atau dengan membuat rak penyangga yang dipasang pada alat angkut. (7) Sanitasi lingkungan pasar harus dijaga dalam keadaan bersih. (8) Sebaiknya sistem penyimpanan produk cabai tidak dijadikan satu tempat dengan produk/sayuran lain.
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com