JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

SDM dan KTI

ABSTRACT

Pengembangan ternak kelinci sebagai penyedia daging sampai saat ini masih menemui banyak kendala karena daging kelinci belum populer dan belum diterima oleh sebagian masyarakat. Hal ini disebabkan oleh faktor kebiasaan makan (food habit) dan efek psikologis yang menganggap bahwa kelinci sebagai hewan hias atau kesayangan yang tidak layak untuk dikonsumsi dagingnya. Daging kelinci termasuk dalam kategori makanan fungsional, karena kandungan komposisi nutrisinya sangat baik untuk kesehatan. Daging kelinci mengandung 20-21% dari protein, asam lemak tak jenuh (oleat dan linoleat; 60% dari semua asam lemak), kalium, fosfor, dan magnesium, memiliki konsentrasi lemak yang rendah, kolesterol, dan natrium. Daging kelinci dapat dikembangkan pada semua jenis olahan yang berbahan baku daging, seperti bakso, nugget, rolade, dan berbagai jenis olahan daging lainnya. Bakso, sosis dan nugget adalah produk olahan daging yang telah diterima oleh masyarakat dari berbagai lapisan, demikian pula abon dan dendeng adalah produk olahan yang telah lama dikenal masyarakat dan mempunyai masa simpan yang panjang. Kulit bulu kelinci juga bisa dimanfaatkan untuk pembuatan kerupuk rambak, selain itu kulit bulu  kelinci juga bisa dijadikan souvenir yang menarik. Pengenalan inovasi teknologi dan berbagai produk olahan yang berbasis daging kelinci diharapkan dapat mendorong minat masyarakat untuk mengonsumsi  daging kelinci.

Kata kunci: karakteristik, daging kelinci, produk olahan

 

  • Download Full Text

ABSTRACT

Sarapan merupakan kegiatan yang sangat penting dilakukan sebelum memulai aktivitas, baik bagi anakanak maupun orang dewasa, karena mengabaikan sarapan dapat mengakibatkan menurunnya kadar gula dalam darah sehingga dapat mengakibatkan kurangnya masukan nutrisi pada otak dan akan mempengaruhi konsentrasi baik dalam bekerja maupun dalam belajar. sarapan pagi dapat memenuhi sepertiga kecukupan gizi, oleh karena itu menu sarapan pagi harus memiliki kualitas makanan serta pilihan sumber makanan yang terbaik dan dapat memenuhi sebanyak  20–35%  dari kecukupan energi harian (Giovanni et al., 2008, Pereira et al., 2011).  Sarapan berkualitas dapat dipenuhi dengan mengonsumsi flakes yang diformulasi dengan menggunakan bahan baku pangan lokal yang difortifikasi dengan kacang-kacangan sebagai sumber protein. Dengan memanfaatkan bahan pangan lokal sebagai bahan baku pembuatan flakes sarapan maka akan meningkatkan nilai tambah dari bahan pangan tersebut, selain itu dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan pangan impor.

Kata kunci: pangan lokal, flakes

 

  • Download Full Text

ABSTRACT

Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan data potensi yang dicapai oleh Kebun Bibit dalam mengoleksi dan melestarikan pohon induk sebagai plasma nutfah di Wilayah DKI Jakarta. Data diperoleh dari 13 Kebun Bibit yang ada di lima wilayah DKI Jakarta melalui survey langsung. Jumlah koleksi pohon induk yang telah dideterminasi di masing-masing Kebun Bibit Tahun 2013 adalah sebagai berikut: belimbing dewi, durian otong, jambu citra, rambutan rapiah dan binjai, kelengkeng pingpong, jambu biji wijaya merah, jambu jamaika, dan manga. Kebun Bibit Lebak Bulus mempunyai beberapa koleksi pohon pisang yang telah dideterminasi, yaitu pisang ambon, pisang barangan, pisang raja bulu, pisang raja sere, pisang tanduk, pisang ampyang, pisang kepok kuning, dan pisang cavendis. Kebun Bibit juga mempunyai koleksi tanaman anggrek yang telah dideterminasi, yaitu anggrek wangleng selfi, anggrek Jaya karta, anggrek undiletum, anggrek fatahilah, dan anggrek anggur merah.

Kata kunci: potensi, pohon induk, kebun bibit, DKI Jakarta, plasma nutfah.

 

 

ABSTRACT

Cabe adalah salah satu komoditas sayuran yang sangat popular dan diminati oleh semua kalangan. Akan tetapi cabe memiliki sifat mudah rusak sehingga mempunyai masa simpan yang relative singkat. Oleh karena itu perlu teknologi pengolahan cabe menjadi bahan sediaan pada saat produksi berlimpah untuk mengatasi kelangkaan cabe dan harga jual yang tinggi. Penelitian  ini  bertujuan untuk mengetahui  preferensi konsumen terhadap cabe bubuk. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan 2 faktor, yaitu metode blansing dan lama blansing terhadap cabe segar sebelum proses pengeringan.  Uji organoleptik dilakukan terhadap warna dan aroma cabe bubuk, rendemen cabe bubuk, kadar air dan warna secara chroma . Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode blansing dan lama blansing berpengaruh terhadap rendemen dan kadar air. Rendemen tertinggi diperoleh pada perlakuan blansing kukus selama 3 menit, yaitu 23,1%  sedangkan kadar air terendah pada blansing celup 3 menit, yaitu 6,13%. Hasil penilaian konsumen menunjukkan bahwa perlakuan metode blansing dan lama blansing tidak memberikan respon konsumen yang berbeda terhadap warna dan aroma baik pada cabe blansing maupun cabe bubuk.

Kata kunci: Cabe,  cabe bubuk,  blansing, konsumen, preferensi

 

  • Download Full Text

ABSTRACT

Until recently, rice is the staple food of Indonesian society, so it will need to be very high commodity rice. This of course would threaten the stability of food in Indonesia. In Jakarta, the population has reached more than 12.7 million inhabitants (2014), of course in the the foreseeable future will continue to grow. This is impacting on the need for rice, because it causes the rice needs to be very high. Diverse array of species and varieties of plants owned by our country, opening up opportunities for the development of food crops have become agribusiness activities to support the acceleration of food self-sufficiency, to encouraging local food crops, such as sweet potato, taro and ganyong. Plant tubers contain many nutrients, protein, fat, minerals and vitamins as well as calcium, phosphorus, Ferrum (iron), vitamin A, vitamin B1, and vitamin C. These plants suitable for use as a raw material agro-flour and used as diverse types of snacks high value, among other things, sticks taro, taro cake, potato cake, taro roll, roll potatoes, brownies, donuts, dodol, mocha, ice cream, noodles and others. Of the potential of this tuber crops studies conducted activities aimed to determine the potential of some types of root crops to be cultivated and developed in Jakarta in order to support the acceleration of food self-sufficiency. This assessment activities carried out from April to December 2014 was held on 2 farmer groups, namely farmers group “Cempaka” Green Garden – North Jakarta and in farmers group “Mawar” Ciracas Sub Dsitrict – east Jakarta. This research is a randomized block design (RAK). Type plant bulbs, used, among others: Sukuh, Antin, Beta, Sari, BENIAZUMA, Talas and Canna. Results of the study, showed that, sweet potato, that adapt in Cempaka Farmers Group – North Jakarta is the sweet potato. Weight potato/plants, resulting from Sari varieties, namely: (782,17 g/plant), Antin 1 (489,83 g), Sukuh (364,67 g), and Beta 1 (330,33 g). While on location in WK,East Jakarta, plant tubers are adaptable and can be developed is Ganyong (776,0 g/plant) and Talas (242,0 g/TNM).

Keywords: potential, sweet potato, taro, ganyong

 

  • Download Full Text