JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

SDM dan KTI

ABSTRACT

Penggunaan tepung terigu sebagai bahan baku pangan lokal menyebabkan masyarakat Kepulauan Seribu sangat tergantung pada bahan baku tersebut. Saat ini Indonesia memiliki ketergantungan impor terigu yang tinggi. Salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan bahan baku terigu adalah pemanfaatan tanaman lokal seperti sukun. Setiap 100 gram berat basah sukun mengandung karbohidrat 35,5%, protein 0,1%, lemak 0,2%, abu 1,21%, fosfor 35,5%, protein 0,1%, lemak 0,2%, abu 1,21%, fosfor 0,048%, kalsium 0,21%, besi 0,0026%, kadar air 61,8%, dan serat 2%. Pengolahan sukun menjadi tepung merupakan alternatif cara pengolahan yang memiliki beberapa keunggulan yaitu meningkatkan daya simpan dan memudahkan pengolahan bahan bakunya. Tepung sukun memiliki kandungan karbohidrat, vitamin, mineral yang cukup tinggi. Selain itu,  sukun juga mengandung serat kasar yang cukup tinggi. Kadar serat sukun hasil penelitian  2,49%. Tepung sukun dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pangan olahan untuk mensubstitusi tepung terigu. Beberapa produk olahan yang dapat dibuat dari tepung sukun antara lain: cake, mie, cookies dan pangan tradisonal (pukis).

Kata kunci:  tepung sukun, diversifikasi, olahan produk pertanian

 

  • Download Full Text

ABSTRACT

Produk hasil pertanian khususnya sayuran dan buah-buahan mudah mengalami kerusakan (perishable). Kerusakan dapat terjadi karena faktor fi siologis, fi sik, kimia, parasitik maupun mikrobiologis. Kerusakan hasil pertanian terjadi mulai dari produsen/ petani, pedagang pengumpul, pedagang besar sampai pedagang pengecer. Kehilangan  hasil pasca panen produk sayuran mencapai 25-40%. Salah satu teknologi pasca panen yang dapat digunakan untuk mempertahankan mutu adalah kemasan. Pengemas dapat memperlambat proses respirasi sehingga dapat memperpanjang umur simpan sayuran dan buah. Pengemasan dapat dilakukan dengan kardus/ karton, keranjang, warring atau plastik, sedangkan teknlogi kemasan yang banyak digunakan adalah modifi ed atmosfer packaging (MAP), pengemasan aktif (active packaging) dan smart packaging. Penggunaan kemasan plastik mempunyai susut bobot dan kerusakan sayuran kubis lebih kecil yaitu 0,20% dan 7,30% bila dibandingkan tanpa kemasan yaitu 5,18% dan 15%. Kesegaran brokoli dapat betahan sampai 7 hari setelah dikemas dengan plastik polyethilen.

Kata kunci: kehilangan hasil, teknologi pascapanen, kemasan, respirasi, MAP

 

  • Download Full Text

ABSTRACT

Sari belimbing masih mengalami masalah mutu, yaitu masih banyaknya endapan yang terbentuk pada produk sehingga penampilannya tidak menarik. Karena itu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengurangi endapan dengan melakukan blanching dan pemberian bahan penstabil terhadap sari buah belimbing. Penelitian dibagi menjadi dua tahap, yaitu penelitian pendahuluan dan penelitian lanjutan.  Penelitian pendahuluan dilakukan untuk mendapatkan jenis bahan penstabil sari buah belimbing. Pada penelitian pendahuluan digunakan dua bahan penstabil, yaitu CMC dan gum arab. Diantara kedua bahan tersebut, CMC memberikan kestabilan yang lebih baik karena CMC lebih mampu mengurangi endapan yang terjadi pada sari belimbing daripada gum arab. Penelitian lanjutan dilakukan untuk mengetahui pengaruh bahan penstabil yang terpilih dari penelitian pendahuluan dan proses blanching terhadap endapan sari belimbing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses blanching dengan pencelupan buah belimbing dalam air panas (suhu 800C) selama 5 menit dan penambahan CMC 0,03%, dapat memperbaiki kualitas sari belimbing melalui pengurangan endapan. Penambahan CMC harus disertai adanya proses blanching karena keduanya memiliki interaksi. Tanpa adanya proses blanching, maka penambahan CMC justru lebih menambah berat endapan yang terjadi.

Kata kunci: Sari belimbing, endapan, blanching, bahan penstabil.

 

  • Download Full Text

ABSTRACT

Kubis atau kol (Brassica oleracea L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura penting di Indonesia. Salah satu yang mempengaruhi harga kubis di pasaran adalah panjang pendeknya pola saluran pemasaran. Apabila melibatkan banyak lembaga pemasaran, maka akan berdampak pula pada harga yang harus dibayar oleh konsumen. Selain itu tingkat kerusakan kubis yang mempunyai kadar air 85-95%, menyebabkan kubis mudah rusak, dan akan mempengaruhi harga serta pendapatan dari pelaku pertanian. Tingkat kerusakan kubis yang masuk ke wilayah DKI Jakarta umumnya terjadi saat pengiriman/ distribusi, hal tersebut terjadi karena pedagang pengumpul tidak menggunakan jenis kemasan dan hanya ditutup terpal plastik. Sehubungan permasalah tersebut, tujuan dari pengkajian ini yaitu a) mengetahui saluran pemasaran kubis di Pasar Induk Kramat Jati, marjin pemasaran dan bagian (share) harga yang diterima petani, b) mengetahui penggunaan kemasan yang paling menguntungkan untuk mengatasi kehilangan dan kerusakan kubis yang berakibat tingginya limbah kubis. Pengkajian ini dilaksanakan di Pangalengan (Kab. Bandung) dan Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur pada Bulan Maret – Nopember 2015. Diperoleh data bahwa saluran pemasaran kubis di Pasar Induk Kramat Jati adalah Petani à Pedagang Pengumpul à Pedagang Besar à Pedagang Pengecer à Konsumen, dengan marjin pemasaran sebesar Rp. 3.200,-/kg bagian harga (share) petani terhadap harga jual di tingkat pedagang akhir sebesar 41,81%. Selain itu, berdasarkan nilai ekonomi, introduksi bahan kemasan yang memberikan keuntungan lebih tinggi adalah kemasan plastik, hal ini dikarenakan harga plastik yang relatif murah dan nilai susut bobot paling kecil dibandingkan dengan kemasan lain, yaitu sebesar 0.2%.

Kata Kunci: analisis ekonomi, rantai pemasaran, kubis

 

  • Download Full Text

ABSTRACT

Pengkajian ini bertujuan untuk mengkaji proses produksi dan formulasi tablet temulawak dengan menggunakan bahan tambahan yang murah dan mudah diperoleh serta sesuai dengan kondisi yang ada di tingkat petani pengolah maupun agroindustri skala kecil lainnya. Kajian proses produksi dilakukan dengan metode menggunakan alat pentablet/alat pencetak tablet yang telah dimiliki BPTP Jakarta. Kajian formulasi tablet effervescent difokuskan pada perbandingan antara pengasam (asam sitrat), karbonat (soda kue), dan pemanis (gula pasir) terhadap instan temulawak dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Formula  terbaik akan ditentukan berdasarkan analisis fi sik (waktu larut) dan uji organoleptik terhadap atribut mutu produk, yaitu kecepatan larut, warna/penampilan, rasa temulawak, dan rasa manis dengan 7 skala hedonik. Hasil kajian menunjukkan bahwa sebelum proses produksi, semua bahan perlu dilakukan penghalusan terlebih dahulu sehingga partikel atau granula yang akan ditabletkan bisa lebih homogen dan tercampur rata. Proses pencampuran sebaiknya dilakukan didalam oven pada suhu sekitar 600C. Hasil kajian menunjukkan bahwa formula terpilih untuk effervescent temulawak adalah 70% instan temulawak , 8% soda kue, 14% gula pasir  dan 8% asam sitrat. Tablet dengan formula tersebut memiliki waktu larut kurang dari 2 menit dan disukai oleh konsumen dengan nilai hedonik 6 (suka).

Kata kunci: temulawak, tablet, formula, waktu larut, organoleptik

 

  • Download Full Text