JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
|Mengenal M-KRPL| Lokasi M-KRPL BPTP Jakarta| |Success Story| |Galery Photo| |Video KRPL|

M-KRPL Kramat Jati:

Dimulai dengan Cinta, Dilanjutkan dengan Proses, Diakhiri dengan Sukses

Diyakini. Semua perlu proses. Tidak bisa sim salabim lalu ada. Meski dirancang, disusun dan direncanakan sebagus apapun tetap memerlukan suatu proses yang bahkan kadang perlu menghabiskan beberapa tahun, untuk bisa sukses.

Diakui, fakta tanpa rekayasa. Warga RW 10 Kelurahan Tengah, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur baru-baru ini menjadi sering sibuk menyambut tamu dan pejabat negara mulai dari Camat, Walikota, Kepala Badan Litbang Pertanian,  sampai dengan Menteri Pertanian, anggota DPR RI dan juga dari lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Pun pekarangan yang menghijau di gang sempit tempat mereka tinggal menjadi sering dijadikan contoh pembelajaran dan studi banding ibu-ibu mulai dari kelompok arisan tetangga RT sampai ibu-ibu PKK dari pulau Jawa dan Sumatra . Tak luput juga, surat kabar dan stasiun televisi ibukota mengangkat upaya dan kerja keras mereka menjadi sebuah berita yang menggugah dan menginspirasi.

Dipublikasi, tanpa ditutupi. Mereka meraih sukses bukan hanya semata-mata karena adanya program M-KRPL selama setahun saja. Jujur. Untuk meraih sukses seperti saat ini, mereka membutuhkan proses yang panjang, bahkan dimulai sejak 12 tahun yang lalu. Dan, M-KRPL hanyalah sebagi pembuka akses yang tersembunyi. M-KRPL hanyalah sebagai penggosok mutiara yang memang telah berharga.

Diawali dari cinta. Bermula dari seseorang yang bernama H. Ramin Sa’aman yang memiliki rumah di RT 06, RW 10 Kelurahan Tengah. Beliau sangat suka bercocok tanam dan sangat cinta akan lingkungan. Kemudian beliau menjadikan halaman rumahnya menjadi pusat kegiatan kelompok tani Lestari untuk bercocok tanam rempah dan tanaman obat serta sedikit sayuran. Lokasi rumah beliau sangatlah dekat dengan pasar terbesar di Jakarta, yaitu Pasar Induk Kramat Jati, sehingga untuk memperoleh rempah dan sayuran  sangatlah mudah. Tapi tidak. Beliau dan kelompoknya menyadari bahwa tanaman yang dijual di pasar tersebut tidak terjamin keamanannya. Maksudnya, beliau telah melihat dengan jelas ketika berkunjung ke pusat-pusat produksi tanaman obat dan sayuran, para petani banyak sekali menggunakan pupuk dan pestisida anorganik. Bahkan penggunaannya boleh dibilang tak terkontrol tanpa kendali. Padahal, beliau hanya ingin makan sayuran yang dipupuk organik dan hanya menggunakan pestida alami. Maka, sejak tahun 2001-an, beliau dan kelompoknya mengolah sampah kulit bawang merah yang diperoleh dari tetangga yang banyak bekerja sebagai pengupas bawang merah di Pasar Kramat Jati menjadi pupuk terfermentasi, yang kemudian dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman obat keluarga (TOGA) dan sayuran yang ditanam di halaman rumah.

Terus, proses dan kegiatan tersebut berjalan bertahun-tahun. Ketika Pak Ramin ditanya kenapa terus, jawabannya ya itu tadi. Pertama demi kesehatan. Mengkonsumsi makanan yang ditanam sendiri akan lebih baik karena kita tahu dengan yakin bahwa tanaman tersebut hanya dipupuk dengan pupuk alami. Dan kedua, demi lingkungan. Dengan adanya tanaman dan penghijauan maka udara dan lingkungan akan lebih bersih, apalagi daerah perkotaan khususnya daerah gang-gang seperti di Kelurahan Tengah, sangat membutuhkan tanaman karena dengan adanya tanaman akan sedikit banyak membantu menyegarkan udara dan juga sekaligus menyegarkan mata karena lingkungan menjadi lebih asri dan nyaman.

Kemudian gayung bersambut. Pada tahun 2012, aktivitas beliau menjadi tempat percontohan dan lebih dikembangkan serta diintensifkan dengan adanya program model kawasan rumah pangan lestari (M-KRPL) yang diinisiasi oleh Badan Litbang Pertanian, melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jakarta. Melalui program M-KRPL lahan pekarangan yang telah dipakai sebagai tempat pengomposan dan penanaman lebih di tata berdasarkan strata luas lahan yaitu lahan sempit. Selain itu, dibangun pula kebun bibit tempat penyemaian dan penyediaan benih tanaman sayuran yang dibutuhkan. Untuk lebih mengoptimalkan lahan yang sempit diperkenalkan pula cara bertanam metode vertikultur selain metode pot dan polybag sebagai pelengkap dari cara bertanam langsung di atas tanah yang telah dilakukan selama ini.

Sebagai pendukungnya dilakukan pelatihan cara penyemaian benih tanaman dan cara pemindahan bibit tanaman (transplanting) dari trey ke polybag, pot atau rak vertikultur; serta cara pembuatan media tanamnya. Komoditas yang dikembangkanpun lebih diperbanyak sesuai hasil survey kesukaan konsumen, yaitu tanaman sayuran (bayam, kangkung, caisin, selada, pakcoy, seledri, pare, oyong, terong, tomat dan cabe), tanaman buah (pepaya, jeruk, jambu air, belimbing wuluh, mangga, sukun dan pisang) dan ternak (kelinci, lele, ikan patin, ikan mas, ikan gabus, ikan bawal dan ikan gurame).

Selain dengan penanaman vertikultur dan dalam pot/polybag, diintroduksikan pula inovasi teknologi tanaman sayuran hydroponik/aquaponik untuk jenis tanaman caisin, selada dan kangkung. Penanaman model aquaponik dilakukan dengan menggunakan gelas plastik yang diisi media arang sekam bakar, kemudian diletakkan di atas kolam ikan. Penanaman dengan model aquaponik di atas kolam ikan selain bertujuan untuk menyaring air kolam agar selalu bersih, kotoran ikan yang tersaringpun dipakai sebagai pupuk tanaman sayuran yang ditanam di atasnya (menghemat pupuk).

Dan akhirnya, karena kecintaan Pak H. Ramin, para tetanga dan kelompok taninya akan tanaman dan lingkungan serta usaha tanpa pamrih untuk menunjukkan bahwa pemanfaatan pekarangan dengan menanam tanaman TOGA, sayuran, buah dan ternak sangatlah bermanfaat, bukan hanya untuk keindahan dan kelestarian lingkungan tetapi juga untuk memperoleh tanaman yang sehat tanpa pupuk dan pestisida sintetis, semakin lama kerja beliau dan kelompok taninya semakin terlihat.  Ditambah lagi dengan sukses yang mereka tunjukkan dengan semakin seringnya tempat beliau dikunjungi oleh pejabat daerah maupun nasional, maka muncul pulalah kemauan dan kepeduliaan dari tetangga lain, bahkan bukan hanya di RT 06, melainkan di seluruh RT yang ada di RW 10, Kelurahan Tengah. Tak heran, KRPL di RW 10 dengan pesat berkembang dan menyebar ke RT - RT lain di RW 10.

Maka, RW 10 Kelurahan Tengah sekarang benar-benar memang menjadi kawasan (daerah) rumah pangan lestari (KRPL) karena memang satu kawasan RW itu menghijau dengan tanaman-tanaman yang tumbuh subur di pekarangan dan tanah terbuka lainnya. Dalam hal ini, tempat H. Ramin difungsikan sebagai tempat pengomposan dan Kebun Bibit Kawasan (KBK) yang berperan memasok pupuk organik kulit bawang merah,media tanam dan bibit/benih sayuran, sedangkan warga RT lain berperan dalam menyiapkan lahan, wadah (talang vertikultur) dan pemeliharaan tanaman.

Lebih jelasnya, keperluan pupuk dan media tanam untuk lingkungan warga RW 10 disediakan oleh Pak H. Ramin Sa’aman. Pupuk yang disediakan Pak H. Ramin adalah pupuk terfermentasi berbahan kulit bawang merah, yang telah lama beliau kembangkan. Satu kantong pupuk kulit bawang merah dijual dengan harga Rp. 10.000,-. Untuk media tanam, pak Haji Ramin membuatnya seusai dengan teknologi yang diintroduksikan oleh BPTP Jakarta yaitu campuran dari kompos, sekam dan tanah dengan perbandingan 1:1:1. Sedangkan untuk komposnya sendiri, Pak H. Ramin membuatnya sesuai dengan yang biasa dilakukan sejak 12 tahun yang lalu yaitu mencampurkan sampah basah (kulit bawang merah + sayuran), serbuk gergaji dan sekam menjadi satu dengan perbandingan tiap bahan 1:1:1.

Pendistribusian media tanam dan pupuk serta benih/bibit dilingkungan RW 10 yang dikoordinir oleh H. Ramin Sa’aman dilakukan dengan sistem pengisian ulang (mengikuti sistem isi ulang galon air minum). Warga yang belum mempunyai talang dapat membeli talang baru yang sudah terisi media tanam dan bibit tanaman seharga Rp. 30.000,- sampai Rp. 35.000,-. Setelah masa panen, warga dapat melakukan isi ulang talang vertikulturnya. Penukaran talang yang kosong untuk diisi kembali dengan media tanam dan bibit hanya memerlukan biaya sebesar Rp. 7.500,- sampai Rp. 10.000,-. Untuk rak-rak penyimpanan talang vertikultur, saat ini warga RW 10 juga sudah memproduksi sendiri, yaitu rak vertikultur berbahan galvanis (baja ringan). Untuk anggota kelompok hanya dikenakan biaya pembelian Rp. 250.000,- tanpa media dan tanaman. Sedangkan untuk di luar anggota dikenakan biaya Rp. 300.000,-.

Dengan kata lain, berkat kerjasama dan persatuan warga RW 10 Kelurahan Tengah, sistem duplikasi KRPL  yang diinginkan dan idealpun telah terwujud. Kenyataannya saat ini, warga RT 04, RT 05, RT 06, RT 07 dan RT 08, sangat aktif secara bersama-sama membangun KRPL di lingkungannya. Bahkan, di masing-masing kelima RT tersebut, saat ini telah terbangun suatu taman yang disebut Taman TOGA (tanaman obat keluarga).

Taman TOGA tersebut sangat spesial. Perumahan yang berada di sekitar lokasi tersebut bukanlah tempat mewah yang memiliki lahan luas. Warga yang tinggal di daerah tersebutpun sangat beragam asal sukunya. Namun spesialnya, berkat kerjasama dan persatuan berbagai suku bangsa yang ada di daerah tersebut, lahan sesempit apapun dapat dirubah menjadi taman yang indah. Selain indah dipandang, taman tersebut juga sangat spesial karena dipenuhi tanaman bermanfaat, yaitu tanaman obat keluarga (TOGA) ditambah beberapa tanaman sayuran. Kunyit putih, kunyit kuning, temu kunci, temu mangga, temulawak, jahe, lengkuas, kencur dan tanaman rempah lainnya ada di taman tersebut.

Lebih spesial lagi, setelah melihat apa yang terjadi, Bapak Lurah Kelurahan Tengah sangat bersimpati dengan kegiatan KRPL, sehingga beliau ikut menyumbangkan talang-talang vertikultur sebanyak 15 talang kepada RW 08, RW 05 dan RW 06 yang akan ikut berpartisipasi untuk mengembangkan KRPL di masing-masing RW mereka. Pemesanan talang akan di sediakan oleh RW 10 sebagai pemerkasa KRPL di lingkungan Kelurahan Tengah. Pada saat ini yang akan launching program KRPL mengikuti jejak RW 10 adalah RW 13.

Dan, KRPL rasa spesial ala RW 10 tersebut memang layak dijadikan inspirasi. Maka tak heran, beberapa stasiun TV telah meliput kegiatan KRPL di RT 06/RW 10, Kelurahan Tengah, diantaranya adalah a) MNCTV dalam acara liputan khusus tentang KRPL, b) DAAI TV yang disiarkan di tiga negara meliputi Malaysia, Taiwan, dan USA, yaitu mengenai aktivitas warga RT 06/RW 10 dalam membangun KRPL dilingkungan rumah, c) ANTV dalam program selebriti menanam dan d) Metro TV dalam acara liputan khusus. Selain itu, lokasi ini juga telah dikunjungi oleh CEO dan staf dari UPLIFT International serta Pengurus Organisasi Slow-Food International yang berkedudukan di Negara Italia. Muantab kan!? Salut buat Pak H. Ramin, salut buat warga RW 10. Kita?

 

 

 

M-KRPL Marunda:

Sayuran Susun di Rumah Susun

Alasan klise. Banyak orang yang malas pindah apalagi dipindahkan ke rumah susun adalah karena mereka ingin memiliki halaman sendiri, mereka ingin memiliki tanah sendiri, biar kecil yang penting bisalah untuk sekedar bercocok tanam. Ya sangat klise.

Tentu saja, klise tidak sama dengan bohong atau tidak benar. Ya, biar klise bisa saja benar. Paling tidak, hasrat dan keinginan para penghuni rumah susun (Rusun) untuk memiliki halaman yang dapat ditanami sangat nyata terlihat di rumah susun Angkatan Laut Marunda.  Hasrat dan keinginan terpendam itu pulalah yang ditengarai menjadi modal kuat atas suksesnya program Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL) di kawasan Rusun yang terletak di daerah Cilincing tersebut.

Sejak awal sosialisasi yang dilakukan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jakarta, program M-KRPL disambut gembira dan didukung penuh bukan hanya oleh Suku Dinas Pertanian Jakarta Utara dan Panglima TNI AL, melainkan juga oleh sebagian besar penghuni Rusun yang tergabung dalam persatuan istri prajurit (Persit) TNI AL, Rusun Marunda. M-KRPL yang berkonsep kawasan dan lestari serta harus dilakukan secara bersama oleh warga (bukan hanya sendiri-sendiri secara pribadi, sangat cocok untuk rumah susun yang hanya memberikan satu pekarangan besar untuk semua warga. Partisipan yang aktif mendukung dan melaksanakan program M-KRPL di Rusun tersebutpun sangat banyak sehingga harus dibagi menjadi 3 kelompok. Dalam hal ini, pengelompokkan dilakukan berdasarkan flat tempat tinggal.

Setelah yakin animo dan dukungan penghuni Rusun sangat besar maka segeralah dibangun kebun bibit kawasan (KBK) dan tempat pengolahan kompos. Pengelolaan kebun bibit dan tempat pengomposan tersebut sejak awal dilakukan oleh penghuni rusun sendiri. BPTP sebagai inisiator bersama pihak suku dinas pertanian Jakarta Utara cukup menjadi pembimbing dan memberikan arahan serta pelatihan tentang tata cara penyemaian benih tanaman dan cara pemindahan bibit tanaman (transplanting) dari trey ke polybag, pot atau rak vertikultur, serta cara pembuatan media tanam. Kenapa teknik penanaman yang dipilih adalah metode penanaman dalam pot, polybag dan talang air yang disusun pada rak-rak bertingkat adalah agar tanaman dapat dengan mudah dipindah dan ditempatkan di temapt yang sesuai dengan memperhatikan aspek keindahan dan kenyamanan bagi para warga. Halaman Rusun sering digunakan pula untuk kegiatan aktif para warga seperti untuk olehraga dan bermain anak-anak sehingga untuk tidak mengurangi area aktif tersebut maka tanaman hanya di tempatkan di pinggir sepanjang dinding Rusun serta tempat lain yang dianggap indah dan pas secara estetika. Lebih dari itu, agar manfaatnya lebih optimal maka komoditas yang dikembangkanpun disesuaikan dengan keinginan warga, yaitu komoditas sayuran dataran rendah (cabe, terung, kangkung, bayam, tomat, kacang panjang, dan mentimun) dan peternakan / perikanan (budidaya ikan nila).

Warga kooperator dengan cepat mengerti cara memanfaatkan pekarangan rumah susun agar dapat memenuhi sebagian kebutuhan dapur seklaigus menciptakan lingkungan hijau, bersih, dan sehat secara mandiri. Selain itu, kebersamaan dalam mengelola tanaman dan kebun bibit sangat besar dirasakan manfaatnya untuk lebih memperkuat persatuan dan kesatuan warga Rumah susun TNI AL Marunda. Dan dengan adanya kerjasama yang harmonis dalam kebersamaan serta sedikit imajinasi cantik dari para istri anggota TNI AL, ternyata sayuran susun dapat juga memperindah rumah susun. Muantab.

 

School Gardening Madrasah DKI Jakarta

Dalam upaya pengembangan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (MKRPL) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta bekerjasama dengan UPLIFT International mengembangkan kegiatan School Gardening. Adapun tujuan awal dari kegiatan ini adalah kesehatan sekolah dan gizi untuk sekolah dasar (school health and nutrition for primary level schools ) melalui kantin sehat dari kebun sendiri.

Langkah awal dari kegiatan ini, BPTP Jakarta bekerjasama dengan UPLIFT International  pada Rabu, 26 September 2012 telah mengadakan TOT Model Kawasan Rumah Pangan Lestari kepada guru dan komite sekolah 10 madrasah yang tersebar di seluruh wilayah DKI Jakarta. TOT dihadiri oleh CEO UPLIFT International, Mark Schlansky, MA, manajer program UPLIFT Indonesia, Pande Trimayuni, M.Sc, guru-guru dan komite sekolah madrasah yang berjumlah 40 orang.

Pada acara TOT tersebut disampaikan materi “Pengembangan school gardening dengan Model Rumah Pangan Lestari” dan “Budidaya Tanaman di Perkotaan “dan dilanjutkan dengan praktek lapang mengenai budidaya tanaman sayuran. Pada kesempatan tersebut juga diberikan paket bibit sayuran untuk 10 madrasah dengan tujuan materi yang telah disampaikan dapat segera diimplementasikan di sekolah masing-masing.

Dalam sambutannya CEO Uplift international sangat mendukung program ini dan sangat mengharapkan program ini dapat berlanjut dan dipraktekkan di lapangan, program ini sangat baik diterapkan di sekolah terlebih lagi masih banyaknya lahan kosong sekolah yang masih belum termanfaatkan.

Dengan diadakannya pelatihan ini diharapkan pengembangan school gardening melalui Model Rumah Pangan Lestari dapat diterapkan di lingkungan sekolah, sehingga selain  pihak sekolah dapat menyediakan makanan sehat bagi murid  juga dapat memberikan pembelajaran kepada murid-murid bercocok tanam yang baik dan ramah lingkungan . Untuk kedepannya BPTP Jakarta bekerjasama dengan UPLIFT Internasional akan melakukan TOT kembali kepada 28 madrasah lainnya binaan UPLIFT International yang tersebar di lima wilayah DKI Jakarta.

banner-krpl

Bannerjakarta