JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Teknologi Pemanfaatan Limbah Industri Tahu sebagai Pupuk Organik dan Biogas

Industri tahu di wilayah Jakarta dan sekitarnya makin berkembang. Sebanyak 315 unit usaha  dengan total produksi tahu mencapai 108.675.000 kg/th. Hasil pengolahan industri tahu menyisakan limbah yang berupa limbah padat dan limbah cair. Salah satu cara menanggulangi dampak negatif limbah industri tahu adalah memanfaatkannya dengan mengolahnya menjadi produk yang lain. Namun demikian kajian pemanfaatan limbah tahu selama ini belum dilakukan secara komprehensif. Oleh sebab itu kajian mendalam tentang pemanfaatan limbah tahu sebagai pupuk organik dan energi alternatif (biogas) masih perlu dilakukan untuk mendukung upaya pengembangan bioindustri pertanian perkotaan.

Pengkajian terdiri dari tiga tahapan kegiatan meliputi  (1) Pengujian produksi pupuk organik dan biogas dari limbah industri tahu melalui proses digestasi biogas skala mini (volume 1000 l) , (2) Pengujian efektivitas pupuk organik padat dan cair slurry biogas limbah tahu pada selada, caisim, dan bawang merah skala rumah kaca, dan (3) Pengkajian efektivitas pupuk organik padat dan cair slurry biogas limbah tahu pada selada, caisim, dan bawang merah skala lapangan. Perbedaan antar perlakuan pada pengujian tingkat laboratorium dan rumah kaca ditentukan menggunakan Analisis Varian yang dilanjutkan dengan uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) untuk pengujian tingkat rumah kaca serta uji t untuk pengkajian tingkat lapangan.

Hasil pengkajian menunjukkan bahwa (1) karakteristik kimia pupuk oganik padat dan cair produksi slurry biogas limbah tahu memiliki klasifikasi lebih rendah dari baku mutu pupuk organik padat dan cair sesuai dengan Permentan 24/2011.  Namun demikian tetap potensial untuk digunakan sebagai pemacu pertumbuhan tanaman dengan pertimbangan adanya unsur2 sekelumit, hormon dan like hormon serta metabolit sekunder lainnya yang biasa dihasilkan dalam suatu proses dekomposisi, baik yang berasal dari substansi bahan organik maupun produk metabolit mikroba pendekomposisi; (2) efektivitas pupuk kompos slurry biogas limbah tahu pada selada, sawi, dan bawang secara umum setara dengan pupuk organik pembanding.  Namun demikian, efektivitas pupuk cair limbah tahu cenderung lebih rendah dibandingkan pupuk cair pembanding. Terdapat kecenderungan penurunan tingkat pertumbuhan dan hasil selada, caisim, dan bawang merah pada perlakuan pupuk organik cair limbah tahu; (3) Efektivitas pupuk kompos dan cair slurry biogas ampas tahu pada skala lapangan secara umum lebih rendah dari pupuk pembanding, baik terhadap pupuk pembanding sejenis maupun NPK.