JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

limbah pasar

Sampah organik pasar berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik.  Kandungan nutrien yang terdapat dalam sampah organik pasar mencapai 100 kilogram per ton berat kering sampah.  Kandungan unsur hara makro, meliputi N, P, K, Ca, Mg, dan S masing-masing berkisar 101-3.771mg.kg-1 sedangkan unsur hara mikro Fe, Mn, Cu, dan Zn berkisar 0,2-0,62 mg.kg-1. Salah satu strategi pengomposan yang dapat dilakukan adalah melalui sistem pengomposan menggunakan cacing atau vermicompost.

Tahapan pengkajian meliputi: (1) pengkajian produksi pupuk organik menggunakan sistem vermicomposting, (2) pengujian keefektivan pupuk di rumah kaca, (3) pengujian keefektivan lindi kompos di rumah kaca, (4) pengujian keefektivan pupuk di tingkat petani.  Pengujian keefektivan pupuk dilakukan dalam sistem pembibitan tanaman sayuran tomat, cabai, selada, dan sawi.

Tehnik pengomposan dengan vermicomposting menghasilkan kompos (vermikompos) dengan kandungan hara makro, pH, dan kapasitas tukar kation yang sama dengan sistem pengomposan biasa. Akan tetapi diduga memiliki kandungan hara mikro dan fitohormon yang lebih baik dibanding kompos dari pengomposan biasa. Hal tersebut disebabkan respon pembibitan tanaman sayuran yang lebih baik pada media dengan penambahan vermikompos. Lindi yang dihasilkan pada proses pengomposan, baik pada sistem vermikompos ataupun pengomposan biasa mampu meningkatkan pertumbuhan bibit sawi, selada, cabai, dan tomat.

Pengujian keefektivan vermikompos dan kompos dengan enam tingkat konsentrasi sebagai media pembibitan diperoleh hasil bahwa tiap-tiap perlakuan menghasilkan pengaruh yang berbeda pada tiap komoditas. Vermikompos 60% memberikan pertumbuhan terbaik untuk bibit selada dan sawi, vermikompos 60%, 80% dan 100% member hasil terbaik untuk tomat, sedangkan perlakuan terbaik untuk bibit cabai adalah kompos 100%.

Pengujian pengaruh lindi pengomposan terhadap pembibitan menunjukkan interaksi jenis lindi dengan tingkat konsentrasi memberi pengaruh nyata hanya pada komoditas cabai, dengan perlakuan terbaik lindi vermikompos 90%. Sedangkan pada komoditas sawi, selada, dan tomat, perlakuan jenis lindi tidak memberi pengaruh yang nyata, tetapi tingkat konsentrasi lindi memberi pengaruh nyata dengan konsentrasi terbaik untuk pembibitan sawi adalah 30%-90%, konsentrasi 70%-90% untuk pembibitan selada, dan konsentrasi 50% untuk pembibitan tomat.

Pengujian keefektifan kompos dan vermikompos pada media pembibitan di tingkat petani dengan komposisi vermikompos/kompos banding sekam 1 : 1, memberikan hasil bahwa media yang diperkaya vermikompos mampu meningkatkan daya tumbuh benih selada, sawi, cabai, dan tomat serta meningkatkan tinggi bibit selada, sawi dan tomat dibanding media pembibitan dengan penambahan kompos.

Introduksi vermikompoos ke pengguna yang lebiih luas untuk diadopsi memiliki kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman tersendiri berdasar analisis SWOT yang telah dilakukan. Strategi yang telah disusun harus dilakukan dengan terlebih dahulu merencanakan program kerja seperti mengadakan TOT, menguatkan kelembagaan pemasaran hasil dan mengadakan kerjasama dengan stakeholder terkait.

Limbah pasar yang sebagian besar terdiri dari limbah sayur sangat potensial untuk menjadi bahan pakan ternak namun terkendala dengan kondisinya yang mudah menjadi busuk dan tidak bisa disimpan lama. Sehubungan dengan itu, sebelum dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, terlebih dahulu lebih baik dibuat menjadi silase. untuk itu, BPTP Jakarta telah melakukan kegiatan pengkajian yang bertujuan untuk mengetahui teknologi pembuatan pakan yang murah berbahan limbah pasar dan menyusun formulasi pakan sapi potong yang tepat dengan menggunakan bahan silase limbah pasar di wilayah DKI Jakarta. Pengkajian terbagi dalam dua tahap yaitu proses pembuatan silase dari limbah sayuran dengan beberapa perlakuan yang dilaksanakan di laboratorium BPTP DKI Jakarta dan penerapan metode yang memberikan kualitas silase yang terbaik ditingkat petani kooperator yang tergabung dalam Gapoktan Usaha Terpadu.

Pengkajian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 macam perlakuan yaitu P1 (60% campuran limbah sayur + 20% onggok + 20% dedak), P2 (60% campuran limbah sayur + 20% onggok + 20% konsentrat), P3 (60% campuran limbah sayur + 20% tepung singkong + 20% dedak) dan P4 (60% campuran limbah sayur + 20% tepung singkong + 20% konsentrat).

Hasil yang diperoleh bahwa kadar air silase yang mendekati dengan kondisi awal terdapat pada P1 dan P3,  kadar protein pada P1 (16,32%) tidak berbeda dengan perlakuan P3 (16,38%) tetapi berbeda nyata dengan perlakuan P2 (5,92%) dan P4 (5,48%), berat susut  pada P1 (456 gr)  tidak berbeda dengan P3 (445 gr) tetapi berbeda nyata dengan P2 (299 gr) dan P4 (308 gr), pH silase pada perlakuan P1 (3,80) tidak berbeda dengan perlakuan P3 (4,10) tetapi berbeda nyata dengan perlakuan P2 (5,00) dan P4 (5,00) dan kualitas yang paling bagus terdapat pada P1 dan P2, dimana skornya hampir mencapai 100 (sekitar 90) yang ditandai dengan wangi yang seperti bau tape, berwarna hijau kekuningan, teksturnya empuk dan kering dengan lama penyimpanan dapat mencapai 1,5 bulan. Penerapan pembuatan silase di tingkat petani memberikan hasil bahwa silase limbah pasar yang dibuat telah dicobakan untuk dikonsumsi oleh ternak, ternyata ternak kambing dan sapi potong suka mengkonsumsi silase tersebut.  sehingga peternak sangat antusias untuk terus membuat silase karena dapat mengatasi kelangkaan hijauan utamanya pada musim kemarau.