JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Teknologi Budidaya Sayuran dengan Pemanfaatan Urin dan Feses Kelinci Sebagai Pupuk dan Media Tanam

Pertanian perkotaan memiliki ciri khas memanfaatkan limbah perkotaan, sehingga kotoran kelinci memiliki potensi sebagai sumber pupuk organik dalam budidaya sayuran. Saat ini, terdapat sedikitnya 11 peternak kelinci di DKI Jakarta dengan jumlah kepemilikan 5-30 ekor dan terus bertambah dengan adanya kegiatan “Bioindustri” di kawasan Marunda - Jakarta Utara dan Pekayon – Jakarta Timur. Oleh karena itu penelitian terkait pemanfaatan limbah kelinci sebagai sumber hara dalam teknis budidaya pertanian perkotaan yang berlahan sempit penting untuk dilakukan. 

Pengkajian terdiri dari beberapa tahap. i) Pengujian cara dan umur simpan urin dan feces kelinci. ii) Pengujian keefektifan pupuk urin kelinci.  Pengujian dirancang menggunakan rancangan faktorial 3 faktor dengan 5 ulangan. Faktor yang diujikan meliputi penyediaan urin kelinci dengan fermentasi dan tanpa fermentasi; konsentrasi pupuk urin terdiri atas 5 taraf perlakuan yaitu 20%, 40%, 60%, 80% dan kontrol; intensitas pemberian terdiri atas 2 taraf yaitu 1 kali/minggu dan 2 kali/minggu.  iii) Pengujian keefektifan feses kelinci sebagai media tanam. Pengujian dirancang menggunakan rancangan acak kelompok 2 faktor dan 5 ulangan. Faktor yang diujikan yaitu penyediaan feses kelinci dengan fermentasi dan tanpa fermentasi; dan komposisi feses kelinci pada media tanam yaitu 0%, 20%, 40%, 60%, dan 80%.  iv) Pengujian tingkat petani kooperator berdasar hasil terbaik dari pengujian sebelumnya dan dibandingkan dengan teknologi eksisting petani.  Dikumpulkan juga persepsi petani terhadap teknologi pemupukan menggunakan urin dan feses kelinci.

Urin kelinci dapat dimanfaatkan sebagai pupuk pada tanaman sayuran daun untuk menggantikan NPK dengan dosis 40%-60% dan diaplikasikan 1 kali perminggu. Urin yang digunakan tidak perlu difermentasi terlebih dahulu, karena urin kelinci yang difermentasi memberikan hasil yang tidak baik terhadap tanaman. Aplikasi urin kelinci pada tanaman bawang tidak meningkatkan pertumbuhan dan hasil panen. Feses kelinci efektif diaplikasikan sebagai media tanam pada komoditas sawi, selada dan bawang merah.  Komposisi yang paling optimal adalah 25%-50% dari total volume media. Feses kelinci yang digunakan sebaiknya telah melalui proses fermentasi/pengomposan, atau telah disimpan minimal 2 bulan.

Penyimpanan urin kelinci dapat menggunakan wadah yang tembus cahaya ataupun yang tidak tembus cahaya. Kandungan hara hingga 2 bulan penyimpanan tidak megalami penurunan yang berarti. Kandungan hara pada penyimpanan selanjutnya masih dalam analisa laboratorium.  Pengemasan urin kelici sebaiknya dilakukan menggunakan kemasan yang memiliki pori seperti karung dan tidak tembus cahaya. Kemasan plastik yang tembus cahaya meyebabkan tumbuhnnya lumut di permukaan feses yang bersinggungan langsung dengan plastik kemasan.

Pemanfaatan urin dan feses kelinci pada budidaya tanaman memiliki potensi mudah diadaptasikan karena prosesnya yang sederhana dan mudah untuk diaplikasikan, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, serta mengurangi permasalahan limbah yang muncul dari peternakan kelinci.