JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Teknologi Penampilan Reproduksi dalam Persilangan Kambing Boer x Lokal untuk Menghasilkan Kambing Pedaging Unggul

Tingkat produktivitas kambing yang ada di wilayah DKI Jakarta masih tergolong rendah dan bahkan cenderung menurun, terutama karena sistem pemeliharaan yang kurang baik. Untuk meningkatkan produktivitas kambing lokal yang dipelihara di wilayah ini agar menjadi kambing pedaging yang lebih baik, maka diperlukan teknologi persilangan, melalui inseminasi buatan (IB), dengan jenis kambing tipe pedaging unggul.

Tujuan dari pengkajian ini adalah untuk mempelajari performans reproduksi kambing persilangan Boer x lokal. Pengkajian ini dibagi menjadi dua sub kegiatan yaitu: a) persilangan melalui IB menggunakan semen beku kambing Boer terhadap 4 jenis kambing lokal yaitu kambing Kacang, PE, Saanen dan Jawa Randu dan b) pengamatan terhadap kebuntingan, kelahiran, pertumbuhan dan performans induk dan anak kambing hasil persilangan.

Pengkajian ini dilaksanakan selama 2 tahun berturut-turut di 4 wilayah kota administrasi, Provinsi DKI Jakarta, yang banyak terdapat peternak kambing. Kambing yang terpilih disinkronisasi birahi menggunakan hormon Prostaglandin (PGF2α) sebanyak 2 kali dalam selang waktu 10 hari, lalu diinseminasi 3 hari kemudian sebanyak 2 kali dalam selang waktu 10-12 jam. Anak yang lahir akan disapih pada umur 3 bulan dan setiap induk kambing yang telah beranak akan diinseminasi lagi pada 3 bulan kemudian. Pelaksanaan inseminasi telah dilakukan terhadap sebanyak 3 ekor kambing selama bulan Juli 2011, 48 ekor bulan Agustus 2011, dan masing-masing 6 ekor pada bulan Oktober 2011 dan bulan Januari 2012.Sehingga diharapkan bahwa 4,76% dari kambing yang diinseminasi akan melahirkan dalam bulan Desember 2011, 76,2% bulan Januari 2012 dan masing-masing 9,52% dalam bulan Maret 2012 dan Juni 2012. Pemeriksaan kebuntingan telah dilakukan pada 33 ekor kambing, yaitu terdiri atas 2 ekor kambing Kacang, 3 ekor PE, 8 ekor Saanen dan 20 ekor Jawa Randu/Campuran.

Hasil USG menunjukkan bahwa sebanyak 54,5% dari kambing yang diperiksa ternyata dalam keadaan positif bunting, 27,3% tidak bunting dan 18,2% kemungkinan bunting. Sampai dengan awal bulan Januari 2012 baru satu ekor kambing hasil inseminasi yang telah melahirkan anak, dengan periode kebuntingan kambing tersebut adalah selama 164 hari. Jumlah anak yang dilahirkan adalah sebanyak 2 ekor dengan jenis kelamin yang berbeda, yaitu 1 ekor jantan dan 1 ekor lagi betina. Anak jantan mempunyai bobot lahir sebesar 3 kg, dan betina 2 kg, dengan warna bulu kombinasi antara warna putih dan hitam. Kegiatan inseminasi akan dilakukan lagi secara terus menerus selama 2 bulan berturut-turut, yaitu pada bulan Januari dan Februari 2012.

Dengan demikian diharapkan bahwa kelahiran anak tahap kedua ini akan terjadi pada sekitar bulan Juni dan Juli 2012.