JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Pembuatan Wafer Limbah Sayuran Pasar di DKI Jakarta Untuk Mengatasi Kelangkaan Hijauan Pakan Ternak Kambing

Produktivitas ternak sangat dipengaruhi oleh ketersediaan pakan, baik secara kualitas maupun kuantitas. Pakan dasar ternak ruminansia adalah hijauan. Namun saat ini ketersediaan lahan untuk penanaman pakan ternak sangat terbatas. Apalagi di perkotaan lahan padang rumput banyak dikonversi untuk perumahan, sehingga untuk pakan ternak kambing yang pelihara harus dicarikan alternatif pengganti hijauan. Salah satu alternatif tersebut adalah limbah sayuran yang sangat banyak tersedia di pasar yang akan dibuat dalam bentuk wafer. Kajian ini diharapkan dapat menunjang Program Penelitian, Pengkajian, Pengujian, dan Perakitan Inovasi Pertanian spesifik perkotaan dimana ternak yang dikembangkan adalah kambing lokal dengan memanfaatkan limbah sayuran pasar. Pengkajian ini terbagi dua tahap yaitu proses pembuatan wafer limbah sayuran dengan beberapa perlakuan yang dilaksanakan di laboratorium BPTP DKI Jakarta dan penerapannya di tingkat petani kooperator yang tergabung dalam Gapoktan Usaha Terpadu. Tujuan pengkajian ini adalah untuk menguji pemberian wafer limbah sayuran pasar sebagai alternatif pengganti hijauan terhadap performa ternak kambing.

Kajian ini dilakukan di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur. Rancangan yang digunakan adalah T-test untuk membandingkan perlakuan pakan pemeliharaan ternak menggunakan 8 ekor kambing potong lokal jantan untuk masing-masing perlakuan pakan. Perlakuan pakannya merupakan perlakuan pakan dasar yaitu pakan dasar (RR) + konsentrat dan pakan dasar wafer limbah sayuran (WK) + konsentrat. Pakan dasar dan konsentrat diberikan dengan perbandingan 50 : 50. Bobot badan ternak ± 20 kg. Peubah yang diukur adalah Pertambahan Bobot Badan Harian (g), Konsumsi Pakan, Konversi Pakan dan Analisa Ekonomi.  Hasil yang diperoleh adalah rataan pertambahan bobot badan harian kambing lebih tinggi dimiliki oleh perlakuan pemberian wafer limbah sayuran sebanyak 129,76 gram/hari, bila dibandingkan dengan perlakuan pemberian rumput sebanyak 73,75 gram/hari, Rataan konsumsi bahan kering harian kambing lebih tinggi dimiliki oleh perlakuan wafer limbah sayuran sebanyak 294.94 gram/hari dibandingkan dengan perlakuan pemberian rumput sebanyak 218.17 gram/hari, dilihat perlakuan pemberian pakan wafer limbah sayuran memberikan rataan konversi pakan yang paling rendah sebesar 2,27±0,11 dibandingkan perlakuan pemberian rumput memberikan rataan konversi pakan tertinggi sebesar 2,96±0,62. Keuntungan yang diperoleh dengan menerapkan teknologi peternak (A) dan teknologi inovasi (B), masing-masing adalah Rp. 175.250 (Gross B/C ratio = 1.18) dan Rp. 526.750 (Gross B/C ratio = 1.54). Penggunaan wafer limbah sayuran pasar sebagai hijaun dalam ransum berpengaruh baik terhadap performa ternak kambing penggemukan. Hal ini dapat dilihat dari perlakuan wafer limbah sayuran, yaitu 50% wafer + 50% konsentrat menunjukkan nilai konsumsi bahan kering sebesar 1078.70 gr/ekor/hari dan nilai pertambahan bobot badan harian kambing  sebesar 129.76 gram/hari/hari serta nilai konversi pakan yang paling rendah sebesar 2.27±0,38. Juga disimpulkan bahwa teknologi peternak (A), setiap RP. 1 yang dikeluarkan untuk usahatani ternak kambing mampu mendatangkan penerimaan sebesar Rp. 1.18 lebih rendah dari teknologi inovasi (B), setiap RP. 1 yang dikeluarkan untuk usahatani ternak kambing mampu mendatangkan penerimaan sebesar Rp 1.54.