JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Info Teknologi

Cabai merupakan komoditas strategis Kementerian Pertanian yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan mempengaruhi nilai inflasi mata uang RI. DKI Jakarta dengan jumlah penduduk yang padat turut mempengaruhi tingkat konsumsi cabai. Oleh karena itu, dengan keterbatasan lahan pertanian yang ada, Jakarta ingin turut berkontribusi dalam penyediaan cabai dengan teknologi spesifik pertanian yang memanfaatkan lahan yang terbatas. Polikultur merupakan salah satu teknik budidaya yang efisien dan hemat lahan.

Pengkajian ini bertujuan menguji volume media tanam polikultur cabai – sayuran dalam pot, ii) menguji  tanaman polikultur cabai - sayuran dalam pot; iii) menguji kelayakan teknologi budidaya cabai dalam pot secara polikultur di tingkat petani pengguna, baik dari segi teknis, sosial, maupun ekonomi.

Hasil kajian menunjukkan ukuran pot yang optimal untuk polikultur cabai dan sayuran adalah pot dengan diameter 55. Populasi caisim yang terbaik adalah 5 tanaman/pot, sedangkan untuk tanaman kangkung berat benih yang memberikan hasil maksimal adalah 3 g/pot. 

Persepsi pengguna terhadap inovasi teknologi polikultur cabai yang meliputi persepsi terhadap keuntungan relatif, tingkat kesesuaian, tingkat kerumitan, tingkat kemudahan dapat dicoba, dan tingkat kemudahan untuk dilihat hasilnya termasuk dalam katagori baik. Teknologi polikultur dapat diterima dan berpeluang untuk diadopsi oleh pengguna. Faktor yang paling mempengaruhi persepsi terhadap teknologi budidaya polikultur cabai adalah tingkat kemudahannya untuk dicoba dan diterapkan dengan nilai yang paling tinggi yaitu 94,44%.

Penambahan input pada polikultur cabai-kangkung untuk satu periode panen kangkung adalah 3 gram benih dan 3 gram NPK dengan total tambahan biaya Rp. 6.120,- per pot per tahun dapat menambah output sebesar Rp. 30.000,- per pot per tahun.

Paket teknologi pemeliharaan dan peningkatan nilai tambah ternak kelinci di wilayah perkotaan merupakan penerapan beberapa komponen teknologi diantaranya adalah teknologi pakan, teknologi perkandangan, teknologi pembibitan/reproduksi, teknologi pasca panen dan analisis kelayakan usaha peternakan kelinci.

Teknologi pakan yang bergizi dengan membuat formula pakan berbentuk pellet sehingga pakan dapat disimpan lama dengan kualitas yang tetap terjaga.  Teknologi perkandangan menggunakan sistim kandang battery dilengkapi tempat pakan dan nipple air minum serta tray penampung feses dan talang urin. Teknologi pembibitan adalah kegiatan budidaya menghasilkan bibit ternak untuk keperluan sendiri atau untuk diperjualbelikan.

Faktor yang mempengaruhi tingkat produktivitas kelinci, diantaranya adalah bibit kelinci baik sebagai pejantan maupun sebagai indukan. Teknologi pasca panen dan pengelolaan limbah ternak untuk memberikan peningkatan nilai tambah melalui olahan daging kelinci dan pemanfaatan limbah feses dan urin sebagai pupuk organik. Analisis kelayakan usaha pemeliharaan kelinci menjadi satu rangkaian yang terintegrasi dalam satu paket pengelolaan yang sinergis.

Bawang merah (Allium ascalonicum) adalah salah satu komoditas hortikultura yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan cukup penting untuk dikembangkan di Indonesia. Permintaan bawang merah segar, baik sebagai bahan konsumsi rumah tangga, maupun untuk bahan baku industri terus mengalami peningkatan setiap tahun.  Masalah yang sering dihadapi oleh petani bawang merah adalah fluktuasi harga yang cukup tinggi, yang disebabkan produksi  sangat berlimpah pada saat tertentu, sehingga harganya sangat rendah.  Salah satu kendala tersebut, antara lain adalah  pemilihan varietas,  tidak cukup tersedianya benih umbi bawang merah dan adanya serangan hama dan penyakit.  Sampai saat ini peningkatan produksi bawang merah umumnya sangat tergantung  varietas dan saat musim  tanam. 

Pada saat off season,  serangan organisme pengganggu tanaman (OPT),  menyebabkan terjadinya kegagalan panen,  tidak efisien dengan risiko kegagalan panen yang tinggi, akibat  genangan air maupun serangan hama dan penyakit.  Salah satu  kunci  keberhasilan usaha tani bawang merah di luar musim  adalah  pemilihan varietas yang tepat. Untuk itu diperlukan usaha untuk  menguji teknologi  budidaya  tanaman bawang merah off seasons  dengan menggunakan  teknologi  budidaya  menggunakan polybag dan lahan pekarangan di DKI Jakarta. 

Kegiatan  pengkajian  dilaksanakan mulai  bulan   Januari  sampai  bulan   Desember  2018,  di  wilayah  DKI Jakarta  (Selatan dan  Barat).  Pengkajian  menggunakan  5  perlakuan   Rakitan  Teknologi, yaitu:  1).  Var. Sembrani + Teknologi rekomendasi, 2). Var. Trisulla  +  Teknologi  rekomendasi,  3)  Var.   Bima   +   Teknologi   rekomendasi, 4). Var.  Mentes +  Teknologi  rekomendasi, dan  5). Kontrol/teknologi petani. Dari hasil kajian disimpulkan bahwa untuk perlakuan menunjukkan untuk semua varietas adaptip  untuk  disahakan dan dikembangkan di wilayan DKI Jakarta. Rata – rata  pada perlakuan A, memberikan hasil yang tertinggi dibandingkan pada perlakuan B, hal ini disebabkan karena Varietas yang digunakan pada perlakuan A, secara genetik memberikan pertumbuhan dan hasil yang lebih besar dibadingkan pada perlakuan yang lain.

Untuk pertumbuhan dan hasil, masing - masing lokasi memberikan respon yang berbeda-beda, hal ini disebakan karena kondisi lingkungan santa berpengaruh terhadap  data pertumbuhan dan hasil yang diperoleh pada 3 lokasi pengkajian.   Selain itu  ada beberapa hal yang harus dilakukan pada saat off seasons antara lain: a). menjaga kelembaban (pengaturan kerapatan populasi, jumlah umbi pada setiap polybag), b). menambah lubang airasi pada setiap  polybag,  c). Pembilasan  tanaman  setelah hujan, d). Penggunaan  Fungisida  nabati (Bioprotektor), e). penggunaan  Fungisida Sintetis (ambang batas, Score, Copcide).  Selain itu  untuk yang  dilahan; Perlunya penambahan bahan organik di lahan untuk memperoleh kondisi penanaman yg optimal bagi pertumbuhan tanaman dan memperhatikan pengairan dan perawatan.

BPTP Jakarta pada tahun 2018 terlibat aktif dalam Program Strategis Kementerian pertanian berupa “Penerapan Inovasi Teknologi untuk Meningkatkan Indeks Pertanaman”. Hal tersebut dilakukan dalam rangka turut mewujudkan target peningkatan produksi pangan (padi, jagung, dan kedelai) guna mencapai swasembada. Target utama kegiatan ini adalah memperoleh atau menunjukkan model paket inovasi teknologi pertanian untuk meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) lahan sawah di DKI Jakarta, dari 1-2 kali menjadi 2-3 kali setahun, serta peningkatan produktivitas padi dari 5-6 t/ha menjadi lebih dari 6 t/ha.

Namun demikian, dalam pelaksanaannya terdapat tiga hal utama dalam kegiatan tersebut, yaitu: melakukan identifikasi dan menginventarisasi potensi sumber daya air, luas layanan pemanfaatan lahan untuk rekomendasi pembangunan infrastruktur dan tata kelola air, melakukan pengkajian penerapan inovasi teknologi untuk peningkatan Indeks Pertanaman, dan meningkatkan peran Tim Gugus Tugas Katam dalam verifikasi sistem informasi (SI) Katam terpadu serta memperoleh umpan baliknya. Rekomendasi yang dihasilkan merupakan satu kesatuan model yang didasarkan pada tiga komponen pokok kegiatan tersebut. Kegiatan dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan petugas lapangan dan petani, serta instansi-instansi terkait seperti Bappeda dan Dinas PU. 

Data pengamatan dari kegiatan identifikasi dan inventarisasi potensi sumber daya air meliputi hasil identifikasi lokasi, kondisi eksisting, dan rekomendasi tata kelola. Data pengamatan dari kegiatan penerapan inovasi teknologi untuk peningkatan Indeks Pertanaman meliputi data primer dan sekunder terhadap karakteristik lahan dan sumber air, data alsintan, serta pola tanam per tahun. Data pengamatan dari kegiatan verifikasi Katam meliputi kondisi luas baku sawah, waktu tanam, luas realisasi tanam, varietas yang digunakan, jenis pupuk dan dosisnya, serta kemungknan terjadinya ancaman banjir, kekeringan, dan serangan OPT.

Data hasil pengamatan diolah menggunakan analisis deskriptif dan analisis kelayakan ekonomis teknologi yang diujikan didasarkan pada rasio R/C. Analisis kuantitatif dilakukan untuk menghitung kelayakan finansial usahatani menggunakan partial budget analysis dengan parameter R/C (Revenue Cost Ratio). Persepsi petani terhadap teknologi budidaya tanaman pada lahan sawah/kering/rawa (lahan tergenang) di DKI Jakarta dianalisis menggunakan analisis  rataan skor. Hasil kegiatan identifikasi dan inventarisasi potensi sumber daya air menunjukkan bahwa secara umum sistem irigasi yang dipergunakan oleh petani padi di Jakarta merupakan irigasi yang bukan diperuntukkan khusus untuk pengembangan budi daya komoditas padi tetapi lebih kepada pemanfaatan saluran air pemukiman yang dikelola sebagai sarana pengairan komoditas padi yang dikembangkan di lahan-lahan tidur.

Dengan demikian salah satu permasalahan yang ada adalah terkait kualitas dan tata kelola sumber air. Hasil kegiatan pembuatan demonstrasi plot (demplot) teknologi peningkatan IP padi melalui penerapan paket teknologi budidaya padi berupa Jarwo Super menunjukkan terdapat peningkatan indeks penanaman sebesar 0.3-0.8 untuk wilayah Jakarta Barat dan juga peningkatan produktivitas yang seumula berkisar 5 t/ha menjadi lebih dari 7 t/ha. Berdasarkan analisis R/C diketahui bahwa secara umum penerapan paket teknologi budi daya Jarwo Super meningkatkan nilai dari 1,28 menjadi 1.85. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa teknologi budi daya yang diperkenalkan dapat meningkatkan efisiensi usahatani per musim tanam dan meningkatkan pendapatan petani per tahun. Sedangkan kegiatan peningkatan peran Tim Gugus Tugas Katam dalam verifikasi SI Katam Terpadu adalah berupa database kondisi riil di lapangan.

Pakan menjadi factor utama dalam peternakkan termasuk beternak kelinci. Kelor mempunyai kandungan nutrisi, terutama kandungan protein kasar yang tinggi dan penggunaannya dapat memperbaiki produksi ternak. Oleh karena itu diperlukan kajian yang mendalam untuk menguj ikesukaan daun kelor pada kelinci dan membuat formulasi pakan dalam bentuk pakan pellet serta melihat pengaruh nya terhadap ternak kelinci pedaging.

Untuk membuat formulasi pakan daun kelor beserta tangkainya dicampur dengan bahan lain seperti dedak padi, bungkil kedelai, onggok, mineral premix dan molase. Uji kesukaan daun kelor dilakukan pada ternak kelinci dicoba dengan pemberian dalam bentuk segar dan kering, sedangkan percobaan pemberiannya pada ternak kelinci dalam bentuk pellet dilakukan melalui beberapa perlakuan. Ternak kelinci ditempatkan pada kandang individu dan diberikan pakan sesuai perlakuan setiap hari.

Hasil pengkajian menunjukkan bahwa daun dan tangkai kelor cukup palatable (disukai) oleh kelinci yang diberikan dalam bentuk segar dan kering. Sedangkan untuk membuat formula pakan terdiri dari dedak padi 30%, bungkil kedelai 30%, tepung daun kelor 10%, onggok 15%, mineral premix 5%, dan molase 10% memberikan respon yang terbaik terhadap performans kelinci berdasarkan peubah yang diukur yaitu rataan konsumsi pakan 89,1 g/ekor, rataan pertambahan bobot badan harian 18,8 g/ekor/hari dan nilai konversi pakan 4,7.

 

Sumber: Laporan Akhir BPTP Jakarta Tahun 2017

 Penulis: Syamsu Bahar, Neng Risris Sudolar, Umming Sente, Dini Andayani, Ega Lingga Agnesia Megafatwa, Wylla Sylvia Maharani

Subcategories