JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Info Teknologi

Pakan menjadi factor utama dalam peternakkan termasuk beternak kelinci. Kelor mempunyai kandungan nutrisi, terutama kandungan protein kasar yang tinggi dan penggunaannya dapat memperbaiki produksi ternak. Oleh karena itu diperlukan kajian yang mendalam untuk menguj ikesukaan daun kelor pada kelinci dan membuat formulasi pakan dalam bentuk pakan pellet serta melihat pengaruh nya terhadap ternak kelinci pedaging.

Untuk membuat formulasi pakan daun kelor beserta tangkainya dicampur dengan bahan lain seperti dedak padi, bungkil kedelai, onggok, mineral premix dan molase. Uji kesukaan daun kelor dilakukan pada ternak kelinci dicoba dengan pemberian dalam bentuk segar dan kering, sedangkan percobaan pemberiannya pada ternak kelinci dalam bentuk pellet dilakukan melalui beberapa perlakuan. Ternak kelinci ditempatkan pada kandang individu dan diberikan pakan sesuai perlakuan setiap hari.

Hasil pengkajian menunjukkan bahwa daun dan tangkai kelor cukup palatable (disukai) oleh kelinci yang diberikan dalam bentuk segar dan kering. Sedangkan untuk membuat formula pakan terdiri dari dedak padi 30%, bungkil kedelai 30%, tepung daun kelor 10%, onggok 15%, mineral premix 5%, dan molase 10% memberikan respon yang terbaik terhadap performans kelinci berdasarkan peubah yang diukur yaitu rataan konsumsi pakan 89,1 g/ekor, rataan pertambahan bobot badan harian 18,8 g/ekor/hari dan nilai konversi pakan 4,7.

 

Sumber: Laporan Akhir BPTP Jakarta Tahun 2017

 Penulis: Syamsu Bahar, Neng Risris Sudolar, Umming Sente, Dini Andayani, Ega Lingga Agnesia Megafatwa, Wylla Sylvia Maharani

Pembibitan adalah kegiatan budidaya menghasilkan bibit ternak untuk keperluan sendiri atau untuk di perjual belikan. Bibit ternak adalah semua hasil pemuliaan ternak yang memenuhi persyaratan tertentu untuk dikembangbiakkan. Salah satu tujuan utama yang ingin dicapai dalam beternak kelinci adalah meningkatkan performa kelinci yang dihasilkan. Perkawinan silang adalah salah satucara yang telah umum diketahui untuk meningkatkan performa anakan.
 
Kajian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh jenis kelinci pejantan (Hyla, Hycole, Hyla-Hycole, NZW-Lokal) terhadap performa anakannya di Jakarta. Data yang dikumpulkan berupa jumlah anak sekelahiran, bobot lahir, pertumbuhan bobot badan. Jumlah anak sekelahiran serta bobot lahir tersebut dievaluasi berdasarkan jenis pejantannya yang dianalisis melalui analisis deskriptif. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa baik jumlah anak sekelahiran maupun bobot lahirnya antara anak yang dihasilkan keempat jenis pejantan tersebut tidak berbeda nyata (P > 0,05). Namun demikian, anak kelinci yang berasal dari pejantan Hyla memiliki kecenderungan untuk mempunyai bobot lahir yang lebih berat, sedangkan anak kelinci yang berasal dari pejantan Hyla-Hycole cenderung memiliki litter size yang lebih banyak.

Sumber: Laporan Akhir BPTP Jakarta Tahun 2017
Penulis: Neng Risris Sudolar; Syamsu Bahar; Dini Andayani; Lingga Agnesia; Umming Sente; Wylla Silvia M; Affan Raffandi

Tanaman Okra (Abelmoschus Esculentus) merupakan tanaman yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi, dapat tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis. Hampir semua bagian tanaman okra mempunyai manfaat terutama untuk kesehatan mulai dari daun, tunas, bunga, buah, batang dan bijinya. Akan tetapi masyarakat pada umumnya belum mengetahui pengolahan/pasca panen buah okra untuk dijadikan sebagai bahan baku olahan. Saat ini pemanfaatan buah okra baru sebatas untuk dijadikan benih dan untuk dibudidayakan kembali serta belum banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku olahan. Oleh karena itu BPTP Jakarta mengkaji paket teknologi penanganan dan pengemasan buah okra segar,dan mengkaji teknologi olahanproduk minuman berbahan baku buah okra.

Hasil analisa serat pangan terhadap 3 jenis buah okra hijau, merah dan putih memiliki nilai serat pangan yang cukup tinggi dengan nilai 3.26 gram sampai 7.27 gram. Peyimpanan okra segar dengan suhu kulkas dapat mempanjang umur simpan dibanding dengan suhu ruang hingga 7 hari. Kemasan plastik poliprophilen (PP) dapat memperpanjang umur simpan buah okra dibanding kemasan S.film dan kertas. Ekstraksi lendir okra terbaik didapatkan dengan metode blancing dibanding tanpa blancing. Minuman okra yang paling disukai adalah dengan formulasi konsentrasi cmc 0.3 % dan gula pasir 12 %.

Peluang untuk memproduksi minuman minuman ekstrak okra masih terbuka lebar. Dengan rendemen hasil produksi ekstrak okra 85%, dari 6 liter bahan baku diperoleh hasil 5 liter ekstrak okra. Dengan harga jual Rp.3000/cup @200 ml ekstrak okra, akan diperoleh penerimaan sebesar Rp. 75.000. Keuntungan yang diperoleh dari produksi 5 liter ekstrak okra adalah Rp. 27.466. Biaya investasi untuk memproduksi ekstrak okra sebesar Rp. 1.841.000 sedangkan untuk memproduksi 5 liter ekstrak okra di butuhkan total biaya produksi sebesar Rp. 47.534. Produksi 5 liter ekstrak okra memiliki nilai R/C ratio sebesar 1,58.

 

Sumber : Laporan Akhir BPTP Jakarta Tahun 2017

Pennulis : Yossi Handayani, Syarifah Aminah, Muflihani Yanis,  Waryat, Budiantoro, Wylla Sylvia Maharani, Usmiza Astuti

Okra merupakan salah satu sayuran indigenous Indonesia yang memiliki kandungan gizi cukup tinggi, akan tetapi sayuran ini masih sedikit dibudidayakan oleh masyarakat, khususnya masyarakat di perkotaan. BPTP Jakarta telah melakukan penelitian komprehensif mengenai teknologi produksi benih, teknik pengemasan dan penyimpanan serta teknologi budiadaya okra di perkotaan.
    
Rekomendasi teknologi perbenihan pada tanaman okra antara lain, melakukan penjarangan buah selang satu buah, dengan melakukan penjarangan terbukti meningkatkan produksi benih okra. Teknologi penyimpanan yang direkomendasikan untuk benih okra adalah dengan plastic Polipropilen (PP) tidak perlu di-vacuum serta disimpan pada suhu ruang.  

Teknologi budidaya okra dalam pot yang direkomendasikan adalah penggunaan media tanam dengan komposisi tanah dan pupuk kandang ayam atau pupuk kandang sapi sebesar 1:1. Berdasarkan analisa teknis budidaya serta kelayakan ekonomi penggunaan ukuran polybag 40 x 45 memberikanhasil yang terbaik.

 

Sumber: Laporan Hasil Pengkajian BPTP Jakarta Tahun 2017

Penulis: Ikrarwati, Emi Sugiartini, Susi Sutardi, NofiAnisatun R, Nurmalinda, Kartika Mayasari, Ana feronika, Yosep Fadilah

Kelinci dikenal sebagai hewan peliharaan yang lucu dan menarik, namun demikian kelinci juga merupakan hewan penghasil daging yang produktif, karena memiliki  kemampuan reproduksi yang tinggi dengan interval kelahiran yang pendek sehingga mampu memproduksi daging sehat dalam waktu singkat. Daging kelinci memiliki kandungan nutrisi yang sangat baik, bahkan aman untuk dikonsumsi oleh berbagai tingkatan usia, karena memiliki kandungan lemak yang rendah. Namun konsumsi daging kelinci masih sangat terbatas, hal ini disebabkan sebagian masyarakat tidak terbiasa mengonsumsi daging kelinci dan olahan kelinci lainnya. Sentuhan teknologi sangat diperlukan agar masyarakat menyukai daging dan olahan kelinci lainnya.Untuk menambah minat masyarakat terhadap daging kelinci BPTP Jakarta telah mebuat formula teknologi panganolahan berbahan baku daging kelinci, yaitu formula teknologi pembuatan kerupuk rambak kulit kelinci dan formula teknologi pembuatan nugget daging kelinci.

Dari hasil pengkajian didapat, berdasarkan uji organoleptik kerupuk kulit yang disukai adalah kerupuk dengan perendaman air kapur dengan konsentrasi 400 g per liter per kg kulit kelinci, dengan lama perendaman selama 12 jam sedangkan nugget yang disukai oleh panelis adalah nugget dengan penambahan bahan pengikat dengan perbandingan tepung daun kelor : susu= 5 : 55 dan perbandingan bahan pengisi  tepung mocaf : maizena= 15 : 30.

 

Sumber: Laporan Akhir BPTP Jakarta Tahun 2017

Penulis : Muflihani Yanis; Syarifah Aminah; Yossi  Handayani; Waryat; Budiyantoro; Nurmalinda; Kartika Mayasari

Subcategories