JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Kajian Model Klinik Pertanian Agribisnis Perkotaan di Jakarta (2006)

Konsep klinik agribinis perkotaan adalah suatu wahana kerjasama agribisnis yang merupakan suatu jejaring pelayananan jasa konsultasi yang meliputi diagnosa dan tindakan terhadap masalah yang timbul pada kegiatan agribisnis di perkotaan. Melalui jejaring ini diharapkan dapat memberikan diagnosa terhadap situasi/masalah yang terjadi pada suatu kegiatan agribinis secara holistik, dan mampu memberikan gambaran/ situasi tentang investasi agribisnis yang layak dan mampu bersaing di pasar.

Inisiasi pembentukan Klinik Agribisnis berbasis lahan sawah pada tahun 2006 dilakukan di Wilayah Jakarta Utara, khususnya di Kecamatan Cilincing, karena di kecamatan inilah dilaksanakan kegiatan pengembangan wilayah melalui pendekatan PRIMA TANI.

Wilayah Jakarta Utara bagian timur terdapat Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang merupakan basis pertemuan para penyuluh pertanian lapang dan sekaligus basis aktivitas penyuluhan. Berbagai kegiatan dilaksanakan di BPP, antara lain: pelatihan petugas, kursus bagi petani, dan berbagai pertemuan antar petugas, antara petugas dan petani. Berdasarkan pertimbangan eksistensi BPP dan segala aktivitasnya, maka disepakati BPP sebagai basis pelayanan Klinik Agribisnis di tingkat lapangan. Selain Penyuluh Pertanian Lapang yang masing-masing mempunyai wilayah kerja, juga terdapat kelompok-kelompoktani yang merupakan wahana para petani untuk saling belajar dalam meningkatkan usahataninya. Berdasarkan hubungan yang sudah ada kelompok-kelompoktani ini dapat dimanfaatkan sebagai simpul-simpul jaringan pelayanan Klinik Agribisnis. Dari enam kelompok yang dibina wilayah Laboratorium agribisnis pada program peningkatan produktivitas sawah melalui pendekatan PRIMA TANI yang mempunyai tempat yang memadai sebagai simpul pelayanan konsultasi dan informasi teknologi hanya ada satu kelompoktani, yaitu kelompoktani Karangtengah Jaya.

Berdasarkan potensi, dukungan dan keterbatasan in put khususnya sumberdaya manusia dan anggaran, secara konsep klinik agribisnis pada wilayah tersebut dapat terbentuk tanpa membuat lembaga baru, melainkan dengan menyempurnakan kelembagaan penyuluhan yang sudah ada, yaitu BPP sebagai basis pelayanan dan kelompoktani sebagai pos pelayanannya. Peningkatan kinerja pelayanan informasi dan konsultasi usahatani/agribisnis dapat ditingkatkan intensitasnya dengan adanya suatu program yang mempunyai target tujuan yang disepakati bersama baik oleh petani maupun pemerintah. Program peningkatan produktivitas lahan sawah yang diakselerasi melalui pendekatan PRIMA TANI merupakan moment untuk meningkatkan kinerja klinik agribisnis. Melalui aktivitas ini diharapkan proses adopsi teknologi akan meningkat dan pemecahan permasalahan usahatani maupun pemasaran akan terfasilitasi.

Setelah dilakukan pendekatan dan pembinaan didapatkan berbagai masalah dan kendala penghambat operasionaliasi klinik agribisnis. Permasalahan dan kendala penghambat tersebut muncul karena kondisi sosial budaya dan institusi setempat. Masyarakat petani selama ini sudah terpola persepsinya bahwa program pemerintah merupakan sinterklas yang selalu memberi dalam bentuk hadiah natura, sehingga ketika ada program yang sifatnya pembinaan atau pembelajaran untuk mandiri lebih banyak diterima sambil lalu saja. Masyarakat lebih memperhitungkan realita jangka pendek daripada realita jangka panjang. Hal ini berkaitan dengan kondisi rata-rata tingkat pendidikan yang rendah pada sebagian besar petani pada lahan sawah, serta pengalaman terhadap pelaksanaan program pembangunan yang berupa proyek. Kendala institusi yang ditemui adalah ketidak-berpihakan pemerintah tingkat kota dalam pengembangan pembinaan petani lahan sawah, serta kebijakan pemindahan petugas lapang pada pertengahan kegiatan. Ketiadaan biaya operasional lapang merupakan kendala untuk keberlanjutan kegiatan secara formal. Ketidakmandirian sikap dan kemampuan petani dan petugas lapang dalam program merupakan kendala untuk keberlanjutan konsep pelayanan klinik agribisnis.

Komponen pendukung Klinik Agribisnis berbasis lahan sawah yang juga merupakan komponen penyuluhan pertanian belum dapat sepenuhnya mendukung konsepsi klinik agribisnis. Konsep kemandirian petugas dan ketua kelompok tani sebagai fasilitator maupun petani sebagai klien belum ada. Kinerja yang dapat diaplikasikan pada konsep klinik hanyalah pelayanan informasi dan konsultasi apabila petani menemui kesulitan. Alternatif pemecahannya dilakukan secara partisipatif dan penyuluh sebagai fasilitator pencari solusi. Alternatif pengelolaan klinik agribisnis yang dapat diterapkan adalah pembinaan dan supporting terhadap mekanisme pelayanan informasi dan konsultasi. Pada kondisi ini BPTP hanya berfungsi sebagai konsultan dan memperkaya informasi bagi fasilitator di tingkat lapang. Untuk itu komunikasi lewat telepon maupun sms dapat diterapkan tanpa melalui jalur birokrasi.

Komponen pendukung Klinik Agribisnis berbasis non sawah telah terformulasi dalam wadah pelayanan agribisnis dan telah diresmikan sebagai Klinik Agribisnis DKI Jakarta berbasis Teknologi Informasi (TI) yang dikelola oleh Kontaktani Andalan di bawah binaan BPTP Jakarta, dengan misi pelayanan informasi, konsultasi, kursus agribisnis dan meningkatkan kontak bisnis bagi para pelaku agribisnis. Operasionalisasi Klinik Agribisnis ini diarahkan untuk bekerjasama dengan lembaga lain baik sebagai sumber teknologi, sumber informasi yang dapat mendukung. Oleh karena itu perlu dilakukan suatu jaringan komunikasi dengan para stakeholder lainnya. Alternatif pengelolaan Klinik Agribisnis diarahkan sebagai lembaga yang mandiri. Kemandirian tersebut perlu strategi, promosi, dan modal. Modal ini dapat dihasilkan dari pelaksanaan konsultasi dan pelatihan maupun kontak bisnis.
Data dan informasi Klinik Agribisnis telah dimuat dalam situs website yang dapat diakses pada http://jakarta.litbang.deptan.go.id/klinikagribisnis.