JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Uji Adaptasi Ternak Kelinci Sebagai Hewan Hias dan Penghasil Daging di Wilayah Perkotaan DKI Jakarta (2013)

Semenjak merebaknya kasus penyakit flu burung pada unggas dan dengan telah diterbitkannya Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No.4 tahun 2007, maka pemeliharaan unggas di wilayah ini sudah tidak diperbolehkan lagi. Sebagai pengganti ternak unggas tersebut, telah direncanakan untuk mengintroduksikan ternak kelinci untuk dipelihara oleh peternak yang sebelumnya memelihara unggas. Sehubungan dengan itu telah dilakukan suatu pengkajian yang bertujuan untuk: a) Mengintroduksikan teknologi pemeliharaan kelinci di wilayah perkotaan DKI Jakarta, b) Mengintegrasikan pemeliharaan ternak kelinci ke dalam program pengembangan m-KRPL di wilayah DKI Jakarta,  c) Mengembangkan pusat bibit dan pembibitan kelinci untuk peternak yang berada di wilayah DKI Jakarta, dan d) Mengetahui tingkat adaptasi dan produktivitas ternak kelinci di wilayah perkotaan DKI Jakarta. Untuk pelaksanaan kegiatan ini telah dipelihara  kelinci jenis New Zealand White sebanyak 70 ekor di UPT Pusat Pengembangan Teknologi Produksi dan Pengolahan Hasil Peternakan (PPTP-PHP), Bambu Apus dan 17 ekor di Kelompok Tani Lestari, Kramat Jati. Pengamatan dilakukan selama 6 bulan berturut-turut, mulai dari masa perkawinan sampai dengan kelahiran dan penyapihan anak kelinci. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabulasi. Diperoleh hasil bahwa tingkat adopsi kelinci untuk wilayah perkotaan DKI Jakarta sangat rendah, kemungkinan disebabkan karena temperatur, pakan, umur kelinci dan pengalaman pemeliharanya.

Untuk pengembangan bibit dan pembibitan kelinci telah dipelihara  kelinci jenis New Zealand White sebanyak 70 ekor di UPT PPTP-PHP, Bambu Apus dan 17 ekor di Kelompok Tani Lestari, Kramat Jati. Dalam mendukung pemeliharaan dan pengolahan daging kelinci telah dilakukan pelatihan tentang budidaya dan pengolahan daging kelinci. Tingkat adopsi kelinci untuk wilayah perkotaan DKI Jakarta sangat rendah, kemungkinan disebabkan karena temperatur, pakan, umur kelinci dan pengalaman pemeliharanya. Kegiatan pembibitan kelinci perlu secara terus menerus dilakukan dengan cara yang lebih intensif sesuai dengan masa adaptasi yang sudah mencukupi dan umur kelinci yang semakin dewasa. Sebaiknya pada tahun berikutnya dipersiapkan sarana untuk pemeliharaan kelinci di beberapa lokasi tempat pelaksanaan kegiatan m-KRPL, sehingga integrasi pemeliharaan kelinci dan m-KRPL dapat diwujudkan.