JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Pengkajian Pemanfaatan Limbah RPA Sebagai Bahan Pakan Ternak di DKI Jakarta

Salah satu permasalahan dalam pengelolaan RPA adalah limbah padat yang berupa ayam mati (ayam tiren), limbah bulu, limbah jeroan, serta limbah padat lainnya. Beberapa metode yang sering digunakan untuk mengatasi limbah ayam mati ini maupun limbah padat lainnya antara lain dengan pembakaran/insinerasi, disposal di lahan/penguburan dan pengomposan. Sedangkan metode terakhir yang belum banyak diketahui dan dilakukan orang yaitu fermentasi dengan menggunakan asam laktat. Metode fermentasi ayam mati maupun limbah padat lainnya dapat dilakukan dengan peralatan yang sederhana dan tidak memerlukan waktu yang lama. Proses fermentasi dapat selesai dalam waktu dua minggu, dan produk dapat tahan hingga berbulan-bulan, setidaknya hingga delapan bulan sebelum digunakan atau diolah menjadi bahan pakan.

Kegiatan ini dilakukan untuk memberikan solusi pengolahan limbah padat RPA/RPU terutama bangkai ayam mati (ayam tiren) menjadi bahan bernilai tambah tinggi dan mengetahui metode fermentasi ayam mati yang paling efisien dengan hasil yang paling baik, dari segi kualitas gizi dan kandungan mikrobanya, sebagai bahan pakan untuk ternak/ikan. Pengkajian terbagi dua tahap yaitu : 1). Pembuatan fermentasi limbah RPA/RPU (ayam mati). Pada tahap ini digunakan beberapa metode formulasi untuk mendapatkan hasil yang terbaik, 2). Setelah didapatkan formula  fermentasi ayam mati yang memberikan hasil terbaik, kegiatan dilanjutkan dengan pembuatan fermentasi ayam mati ini di lokasi RPA/RPU dengan melibatkan petugas-petugas  dan pedagang-pedagang yang ada di RPA/RPU tersebut. Rancangan yang digunakan adalah RAK pola faktorial 2 x 3 dengan 10 ulangan. Faktor I : cacahan ayam mati + 20% molases dengan perlakuan  penambahan Lactobacillus sp, penambahan Streptomycetes sp, dan penambahan Lactobacillus sp + Streptomyces sp. Faktor II : cacahan ayam mati + 20% molases + 20% tepung jagung dengan perlakuan penambahan Lactobacillus sp, penambahan Streptomycetes sp, dan Penambahan Lactobacillus sp + Streptomyces sp. Lama fermentasi 3 minggu, 6 minggu dan 9 minggu.

Hasil yang diperoleh adalah formulasi fermentasi ayam mati yang paling baik adalah: ayam mati + molases 20% + tepung jagung 20% + Lactobacillus sp dengan lama  fermentasi 3 minggu, menghasilkan tepung dengan kadar protein18,71%, lemak 34,39%, dan energi 2315 kkal/kg. Selain memperkenalkan teknologi fermentasi, pada temu lapang ini juga didemonstrasikan pembuatan pellet untuk pakan lele dengan bahan utama tepung fermentasi ayam mati yang telah dicampur dengan bahan  pakan lainnya. Temu lapang dilaksanakan untuk memberikan pengetahuan kepada petugas dan pedagang yang ada di RPU mengenai teknik pengolahan ayam mati menjadi bahan pakan yang bermanfaat disambut sangat antusias. Sehingga apabila keseluruhan RPU yang ada di wilayah DKI Jakarata telah beroperasi secara maksimal, permasalahan mengenai banyaknya ayam mati bisa tertangani karena dapat langsung diolah di lokasi RPU menjadi bahan pakan ternak. Dengan demikian pengeluaran ayam mati dari RPU dalam bentuk utuh dan penyalahgunaan ayam mati tidak ada lagi.