JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Rekomendasi Kebijakan Pembangunan Pertanian di DKI Jakarta: Strategi Pengembangan Pertanian di Kepulauan Seribu (2016)

Kepulauan Seribu merupakan gugusan pulau-pulau kecil dengan struktur tanah berpasir. Sebagaimana kepulauan kecil lainnya, budidaya tanaman di Kepulauan Seribu memiliki tantangan yang relatif lebih berat dibandingkan di daratan. Tantangan tersebut dimulai dari aspek penguasaan teknis budidaya, ketersediaan sumberdaya lahan dan air serta sarana dan prasarana, hingga aspek sosial dan budaya masyarakat.  Kondisi ini tentu berpengaruh terhadap pola penyediaan bahan pangan bagi masyarakat Kepulauan Seribu yang tergantung pada pasokan pangan dari daratan Jakarta maupun Tangerang. Oleh sebab itu, penanganan yang menyeluruh dan tepat perlu diterapkan sehingga pengembangan pertanian di Kepulauan Seribu dapat dilakukan secara optimal, efisien, efektif, dan berdaya-guna. Pengembangan pertanian agroekologi merupakan salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk pembangunan pertanian berkelanjutan sehingga ketahanan pangan Kepulauan Seribu dapat terwujud. Pertanian agroekologi secara komprehensif yang meliputi potensi agroklimat, teknologi budidaya dengan potensi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat, untuk pengembangan budidaya tanaman pangan yang terintegrasi dengan ternak serta pengolahan hasil pertanian maupun pengelolaan limbahnya sehingga menghasilkan suatu model pembangunan pertanian terpadu yang bersifat zero waste. Model pertanian ini yang ditunjang dengan penguatan sosiokulturalnya selain menyediakan pangan aman dan sehat, juga memiliki nilai tambah serta ramah lingkungan. Untuk mensiasati teknik budidaya di lahan pasir, beberapa strategi yang dapat diterapkan oleh petani meliputi mekanisme toleransi tanaman, budidaya tanaman adaptif, rekayasa teknologi budidaya di lahan pasir. Rekayasa teknologi yang dapat diintroduksikan diantaranya adalah sumur renteng, budidaya di dalam pot, dan budidaya tanpa media (hidroponik dan akuaponik). Namun demikian pengembangan budidaya di masa depan harus diarahkan pada field cropping system (tanaman penutup tanah) yang bertujuan konservasi kadar air tanah dan menyediakan hara organik bagi tanaman. Sedangkan ternak yang dapat dikembangkan antara lain ternak eksisting yaitu kambing/domba, maupun ternak introduksi yaitu kelinci pedaging.