JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Info Aktual

Jakarta -- Nasi masih menjadi primadona dalam asupan karbohidrat orang Indonesia. "Belum makan kalau belum makan nasi" menjadi quote yang diciptakan oleh orang Indonesia itu sendiri. Beras yang dihasilkan petani haruslah berkualitas baik sehingga nasi yang dikonsumsi dirasa sampai ke hati.

Untuk menguji tingkat kesukaan beras dan nasi oleh petani, tim pascapanen dan penyuluh BPTP Jakarta mengadakan uji hedonik pada 3 varietas padi yaitu inpari 32, 33, dan 42. Komponen yang dinilai dari beras adalah warna, bentuk, dan ukuran butir beras. Sedangkan komponen yang dinilai dari nasi adalah warna, aroma, tekstur, rasa, tingkat kepulenan, tingkat kelengketan, dan kenampakan keseluruhan dari masing-masing varietas.

Uji hedonik ini dilaksanakan pada hari Selasa (19-Nov-2019) di Kelompok Tani Jawa Indah, Jakarta Barat. Ada 12 petani yang menilai beras dan nasi yang dibawa dari BPTP Jakarta. Mayoritas petani Jawa Indah yang mengikuti uji hedonik ini memilih Inpari 42 sebagai beras dan nasi favorite mereka. Diharapkan petani dapat mengetahui nasi yang disukai berasal dari beras varietas yang mana.

Jakarta – Keberadaan Era Revolusi Industri 4.0 sudah tidak bisa ditawar lagi. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus menghadapinya. Namun, untuk bisa survive  di era ini, kita harus membekali diri dengan keterampilan-keterampilan tertentu yang disesuaikan dengan tren yang ada. Berdasarkan hasil riset yang direkomendasikan World Economic Forum (WEF), terdapat sepuluh keterampilan yang dikenal dengan 10 Skills for the Future of Jobs.

Menyadari hal tersebut, Sekretariat Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) mengadakan Seminar Implementasi 10 Keterampilan dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0. Dalam sambutannya, Kepala Pusdiklat Kementerian Luar Negeri, Dr. Yayan G.H. Mulyana, menyampaikan selaku pengelola perpustakaan dan pustakawan harus membekali dirinya dengan skills yang menjadi tuntutan dan muncul dari bergulirnya tren 4.0. Lebih lanjut, Ka Pusdiklat Kemlu menegaskan skills 4.0 yang seperti apa yang harus dimiliki dan diutamakan terutama dalam peningkatan kapasitas SDM di perpustakaan khusus.

Hadir sebagai narasumber, Dra. Opong Sumiati, M.Si. (Kepala Pusat Pengembangan Pustakawan, Perpustakaan Nasional RI) dan Ida Fajar Priyanto, Ph.D. (Universitas Gajah Mada, Yogyakarta).

Dalam paparannya, Ida Fajar Priyanto, Ph.D. memaparkan secara gamblang dan lugas tentang realisasi dan bentuk pekerjaan masa depan di perpustakaan. Karena kesuksesan dan reputasi perpustakaan terkait dengan usaha dan strategi perpustakan perpustakaan yang dilakukan oleh para pustakawan dan pengelola perpustakaannya. Saat ini, perpustakaan harus menjadikan unitnya sebagai media penghasil ide bagi decision making, entrepreneurship, inovasi, inklusi sosial, dan sebagainya.

Dijelaskan pula mengenai 10 keterampilan yang harus dimiliki pustakawan dan pengelola perpustakaan dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0. Kesepuluh keterampilan tersebut adalah: 1. Complex problem solving, kemampuan dalam memecahkan masalah secara sistematis, mulai dari identifikasi masalah, seleksi informasi yang berhubungan dengan masalah tersebut, mencari solusi hingga mengevaluasinya; 2. Critical thinking, atau kempuan dalam berfikir kritis; 3. Creativity, yakni mampu menemukan dan menghasilkan suatu kreativitas yang unik dan orisinil; 4. People management, yakni kemampuan dalam mengatur orang atau biasa disebut dengan leadership; 5. Coordinating with other, yaitu kemampuan melakukan koordinasi dengan orang lain atau team work; 6. Emotion Intelligence, kemampuan untuk mengatur serta mengontrol emosi, atau disebut juga dengan kecerdasan emosional; 7. Judgement and decision making, yakni kemampuan dalam menarik kesimpulan hingga pengambilan keputusan, dalam kondisi apapun; 8. Service orientation; sebagai unit yang salah satu pekerjaannya adalah layanan, maka pustakawan dan pengelola pengelola perpustakaan harus memiliki orientasi pada layanan atau mengedepankan layanan; 9. Negotiation, memiliki kemampuan bernegosiasi; dan 10. Cognitive flexibility, yakni memiliki fleksibilitas kognitif atau mampu berfikir secara spontan sebagai respon dalam menyesuaikan keperluan dan tuntutan situasional.

Ida Fajar Priyanto, Ph.D. juga menekankan bahwa pustakawan dan pengelola perpustakaan memiliki peran tidak saja sebagai penjaga akses namun juga sebagai penjaga pengetahuan. Untuk itu, perlu dilakukan kajian-kajian mengenai user experience. Dimana, dari sana kita bisa mengobservasi perilaku-perilaku dan keebiasaan pengguna terkait dengan perpustakaan. Hasil kajian tersebut nantinya dapat dijadikan masukan sebagai bahan pertimbangan pengembangan perpustakaan ke depannya.

Sementara, Dra. Opong Sumiati, M.Si. menjelaskan bahwa Perpusnas sedang menggalakkan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Inklusi sosial yang dimaksud adalah melalui pendekatan berbasis sistem sosial atau pendekatan kemanusiaan. Untuk itu, perpustakaan harus dirancang agar memiliki nilai kebermanfaatan yang tinggi di masyarakat. Perpustakaan harus berupaya menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk memperoleh solusi, hingga meningkatkan kualitas hidup dan kesejateraannya.

 Di sesi terakhir pada seminar, disosialisasikan program kerja Forum Perpustakaan Khusus (FPK) Indonesia dalam mendukung peningkatan keterampilan SDM perpustakaan khusus oleh Eka Meifrina Suminarsih, SIP., MM. selaku Ketyua Umum FPK Indonesia.

Bogor -- Selasa, 12 November 2019.  BPTP Jakarta kembali mengikuti Bimtek yang dilakukan BBSDLP mengenai Update Verifikasi Luas Baku Sawah Indonesia di Bogor. Acara diisi dengan pemaparan materi dari LAPAN dan BPPT. Materi dari LAPAN mengenai Dukungan LAPAN dalam Verifikasi Lahan Baku Sawah, disampaikan oleh Ka. Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh, yaitu Dr. M. Rokhis Komaruddin. Sedangkan materi dari BPPT mengenai Estimasi dan Peramalan Luas Panen Padi dengan Metode Kerangka Sampel Area (KSA) disampaikan oleh Koordinator Tim KSA, yaitu Ir. Heri Sadmono, M.Sc. Hadir pula Kepala Balitbangtan sebagai pengarah kegiatan ini.

Beberapa arahan dari Kepala Balitbangtan antara lain: 1. Bimtek dihadiri oleh Tim GT dan SC BPTP seluruh Indonesia, serta Tim Pemetaan BBSDLP, 2). Dalam pengarahannya Bapak Ka Balitbangtan menyampaikan bahwa hasil verifikasi Lahan Baku Sawah harus sudah diperoleh paling lambat tanggal 20 Nov. 2019, 3). Bapak Menteri Pertanian akan mendesain Agriculture War Room, Ka. Balitbangtan memposisikan bahwa SI Katam Terpadu adalah salah satu substansi utama di dalam AWR tersebut, 4). Tahun 2020, Balitbangtan akan "menghidupkan" kembali SI Katam Terpadu dengan tampilan baru yg mudah diakses dan difahami banyak pihak, termasuk Bapak Menteri Pertanian, 5). Data standing crop menggunakan citra satelit sentinel-2 (ke depan bisa jadi akan berkembang dgn pemanfaatan sentinel-1 juga) dan pemanfaatan informasinya, juga merupakan substansi yg harus ada dalam AWR tersebut, 6. Tim Katam Pusat dan Tim GT & SC berusaha maksimal untuk menfinalkan Hasil Verifikasi Luas Baku Sawah sebelum tgl 20 November 2019, dan informasi Standing Crop Citra Sentinel-2 seluruh Indonesia dalam 2 bulan ke depan.

Sebagai penutup agenda hari pertama ini adalah penyampaian materi Penggunaan Aplikasi Avenza, yang dilakukan oleh Tim BPSDLP, sebagai pengantar agenda hari berikutnya. Kegiatan Bimtek direncanakan dilaksanakan sampai 13 Nov. 2019.

Jakarta -- Salah satu metode yang dapat digunakan dalam verifikasi lahan adalah dengan menggunakan perangkat lunak Avenza. Selasa 12 November 2019, BPTP Jakarta masih mengikuti Bimtek terkait Update Verifikasi Luas Baku Sawah Indonesia yang diselenggarakan BBSDLP di Bogor. Berkaitan dengan arahan Ka. Balitbangtan bahwa Tim Katam Pusat dan Tim Gugus Tugas (GT) dan Standing Crops (SC) harus berusaha maksimal untuk menfinalkan Hasil Verifikasi Luas Baku Sawah sebelum tanggal 20 November 2019, maka agenda hari kedua dari Bimtek ini diisi dengan praktek penggunaan aplikasi Avenza dalam verifikasi data.

Lahan percobaan yang digunakan sebagai pelatihan adalah areal persawahan di belakang kampus IPB di Dramaga. Peserta dilatih untuk dapat membuat laporan verifikasi data lahan melalui peta dasar yang telah dibuat, yaitu berupa informasi kondisi riil beserta data dukung berupa foto yang dilengkapi koordinat lokasi, verifikasi posisi, serta informasi-informasi penting lain seputar kondisi penggunaan dan status lahan. Data-data tersebut nantinya harus dikumpulkan kepada Tim Katam Pusat sebagai bahan analisis lebih lanjut.

Acara ditutup dengan evaluasi hasil pelatihan dan beberapa pengarahan dari Tim Katam Pusat. Semoga target yang ditetapkan dapat dicapai oleh Tim GT dan SC.

Jakarta -- Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA) Karang Anyar yang berada di Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat adalah RPTRA yang paling luas di Jakarta. Luas lahannya sekitar 5.000 m. Lokasi RPTRA Karang Anyar berada di antara Stasiun Mangga Besar dan Sawah Besar, letaknya tepat di bawah kolong jembatan kereta api. Salah satu sarana edukasi pertanian perkotaan bagi pengunjung yang tersedia di RPTRA Karang Anyar adalah tersedianya fasilitas budidaya tanaman secara hidroponik dan vertiminaponik. Vertiminaponik merupakan kombinasi antara budidaya tanaman menggunakan sistem hidroponik dan budidaya ikan (aquakultur).

Pada hari Selasa, 12 November 2019 di RPTRA Karang Anyar dilakukan panen sayuran kangkung secara vertiminaponik. Pengelola RPTRA Karang Anyar melakukan budidaya kangkung secara vertiminaponik dalam rangka pelaksanaan kegiatan pengkajian “Hidroponik Pascapanen Sayuran”. Acara panen kali ini dihadiri oleh Ibu Camat Sawah Besar, Kasatlakcam Sawah Besar, Penyuluh KB Kelurahan Karang Anyar, Ibu-Ibu PKK Kecamatan Sawah Besar, Ibu – Ibu PKK Kelurahan Karang Anyar, Perwakilan dari Kelurahan Karang Anyar, Penyuluh Pertanian Dinas KPKP Provinsi DKI Jakarta, Pengelola RPTRA Karang Anyar serta Peneliti dan Penyuluh Pertanian BPTP Jakarta.

Hasil panen hari ini memuaskan, dari 16 talang yang dipanen diperoleh sekitar 5.3 kg kangkung dengan kualitas baik. Hal ini terjadi tentunya karena keseriusan, ketekunan dan kesabaran Bapak Avit Kurniawan dan rekan-rekan sesama pengelola RPTRA Karang Anyar dalam menjaga dan merawat tanaman kangkung dengan baik.

Setelah selesai dipanen, kangkung kemudian dicuci menggunakan air mengalir untuk menghilangkan sisa tanah yang melekat pada akar. Selanjutnya kangkung yang sudah dibersihkan akan dijadikan sampel untuk perlakuan penyimpanan dan pengemasan. Pengujian dilakukan di Laboratorium Pascapanen BPTP Jakarta. Selain itu karena lokasi budidaya kangkung secara vertiminaponik dekat dengan jalan raya maka akan diukur kadar logam berat khususnya Pb.