JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Info Aktual

Pada awal april di tahun 2020 telah dimulai penanaman padi serempak di Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Tanam padi secara serempak direncanakan akan dilakukan pada hamparan lahan sawah seluas ±363 ha dengan potensi produksi 1.815 ton GKP. Hamparan sawah dikelola oleh delapan kelompok tani dan satu gabungan kelompok tani. Penanaman serempak tetap memperhatikan kaidah social distancing mengingat sebaran pandemic yang ada di DKI Jakarta.

Salah satu jenis varietas yang ditanam pada musim tanam ini adalah varietas Inpari Nutri Zinc yang merupakan salah satu varietas unggul baru Badan Litbang Pertanian, dengan keunggulan memiliki kandungan zinc tinggi, yang baik untuk kesehatan. Varietas ini ditanam seluas satu hektar dengan menggunakan jarak tanam jajar legowo.

BPTP Jakarta bekerjasama dengan Dinas KPKP provinsi DKI Jakarta melakukan introduksi varietas unggul Baru Badan Litbang Pertanian dalam rangka sinergitas mengoptimalkan nilai tambah dan produksi padi di DKI Jakarta. Penanaman varietas ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk pertanian di wilayah perkotaan, mengingat varietas ini merupakan salah satu jenis beras fungsional dengan pasar spesifik yang banyak tersedia di DKI Jakarta.Penanaman varietas ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk pertanian di wilayah perkotaan, mengingat varietas ini merupakan salah satu jenis beras fungsional dengan pasar spesifik yang banyak tersedia di DKI Jakarta.

Penanaman secara serempak diharapkan dapat meminimalisir serangan hama dan penyakit yang ada, mengurangi biaya penggunaan pestisida kimia dan menekan kehilangan hasil produksi

Usahatani padi di DKI Jakarta patut mendapatkan apresiasi tinggi baik dari pemerintah maupun stakeholder terkait karena di tengah keterbatasan yang ada, petani urban tetap memiliki semangat yang tinggi dalam menyediakan sumber pangan utama masyarakat kota.

Majulah pertanian Jakarta, majulah pertanian Indonesia

Jakarta --- Bertani di lahan pasir pantai dengan salinitas yang tinggi, bukanlah perkara yang mudah. Itulah yang dihadapi oleh petani sayuran dan buah-buahan di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Namun, disaat Corona merebak di Indonesia, semangat petani sayur dan buah-buahan disana tidak pernah luntur.

Seperti yang diungkapkan oleh petani hortikultura dari Pulau Payung, Kepulauan Seribu, Pak Hasan. "Awalnya sulit untuk bertani di Pulau Payung ini. Tanahnya marjinal dengan salinitas tinggi, bahan organik dan kadar unsur hara rendah, serta daya mengikat air rendah. Tapi berkat pendampingan dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) DKI Jakarta, kami bisa," cerita Hasan.

Berbagai jenis sayuran dan buah, seperti: bawang merah, cabai, ketimun, tomat, kacang panjang, papaya dan pisang dapat tumbuh dengan baik, walaupun produktivitasnya tidak bisa menyamai daerah yang bukan tanah berpasir.  Aneka hortikultura tersebut dapat tumbuh subur dibawah pemeliharaan mereka.  Pada lahan seluas 1 ha, hasil  panen yang didapatkan bisa memenuhi sebagian kebutuhan masyarakat di Pulau Payung yang terdiri dari 51 KK. 

Adanya pertanian di Pulau Payung, ternyata sangat membantu masyarakat disana untuk pemenuhan kebutuhan akan sayuran dan buah, terutama pada saat musim angin Barat ketika ombak yang besar dan angin kencang tidak memungkinkan masyarakat untuk belanja ke pulau lain atau ke daratan seperti: Jakarta dan Tangerang. Begitupula, ketika merebaknya serangan virus Corona dan diterapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) seperti saat ini di Wilayah DKI Jakarta. "Kami tidak menyerah, kami akan terus bertanam dan memanen sayuran dan buah-buahan untuk kebutuhan masyarakat," tekad Hasan. 

Dari areal pertanaman yang tidak seberapa luas tersebut, Hasan bisa mendapatkan tambahan pendapatan untuk keluarga dan kawan-kawannya yang tergabung dalam kelompok tani. Panen bawang merah pada luasan 84 meter persegu bisa menghasilkan produksi 40 kg basah yang dijual dengan harga Rp.30.000,-/kg.

Begitupula, panen cabai rawit pada luasan 196 meter persegi, yang ditanam pada Desember 2019 bisa menghasilkan produksi sebanyak 7,1 kg yang dijual dengan harga Rp. 50.000,-/kg, serta panen pepaya merah delima yang manis dan disukai masyarakat sekitar dijual dengan harga Rp.15.000/kg.  "Sebelum panen bawang merah, cabai dan pepaya, juga telah dipanen ketimun, timun suri, pisang dan kacang panjang.  Penanaman sayuran tersebut dilakukan secara bergilir oleh petani.  Modalnya berasal dari penjualan sayuran dan buah pada musim-musim sebelumnya.  Produksi yang dihasilkan tersebut dipasarkan kepada masyarakat di Pulau Payung dan Pulau Tidung," beber Hasan.

Pendampingan dan penyebarluasan inovasi teknologi untuk petani seperti Hasan di Kepulauan Seribu oleh BPTP DKI Jakarta ini merupakan bagian dari kebijakan riset Balitbangtan. "Mulai 2020 hasil riset dibumikan atas kebutuhan masyarakat, petani dan pelaku usaha.  Sebagaimana yang dilakukan BPTP Balitbangtan Jakarta dimana penerapan teknologi pertanian yang sesuai mampu mencukupi kebutuhan masyarakat lokal," ungkap Kepala Badan Litbang Pertanian, Dr. Fadjry Djufry. Hal ini mutlak untuk dilakukan, guna mengantisipasi berbagai kemungkinan buruk yang mungkin terjadi di pulau-pulau kecil seperti Kepulauan Seribu.

 
Editor : Gesha
Reporter : Kontributor (tabloidsinartani.com)
Sumber : BPTP DKI Jakarta

Jakarta -- DKI Jakarta merupakan wilayah dengan paparan Pandemi covid 19 terbesar. Hal ini cukup mengkhawatirkan perekonomian daerah, akan tetapi ternyata di beberapa titik sektor pertanian tetap bersemangat menyediakan sumber bahan pangan. Salah satunya dapat terlihat di kelompok tani Tani Maju, Jakarta Utara. Seolah terbebas dari pandemi petani padi di kelompok tani ini tetap semangat melakukan persiapan tanam.

Pada Rabu, 1 April 2020 telah dilakukan persiapan tanam Inpari IR Nutri Zinc di lokasi tersebut. Varietas Inpari IR Nutri Zinc merupakan salah satu varietas unggul baru Badan Litbang Pertanian. Padi ini memiliki karakteristik berumur ± 115 hari dengan tekstur nasi pulen dan memiiki potensi hasil 9,98 ton/ha GKG. Pertumbuhan tanaman di semaian cukup baik dan akan direncanakan pindah tanam di akhir minggu ini. Penanaman di lokasi akan dilakukan secara serempak untuk meminimalisir terjadinya serangan hama.

Semangat petani melakukan budidaya dan adanya Introduksi varietas unggul padi Badan Litbang Pertanian diharapkan dapat mengobati kekhawatiran langkanya produk pangan di tegah pandemi, meningkatkan produksi, meningkatkan nilai tambah produk dan mengoptimalkan pendapatan petani.

Pulau Payung -- Ditengah merebaknya serangan virus corona di DKI Jakarta, petani Pulau Payung, Kepulauan Seribu tetap mampu melaksanakan panen bawang merah, cabai dan pepaya di areal yang dimilikinya. Seberapa luaskah areal tanam di pulau tersebut, yang ternyata selain ditanami dan bisa memanen bawang merah, cabai dan pepaya, juga menghasilkan cabai rawit, ketimun, kacang panjang, daun katuk dan pisang? Ternyata hanya seluas satu hektar (1 Ha) namun dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga pulau-pulau sekitarnya di saat mereka tidak diperbolehkan ke daratan untuk mendapatkan kebutuhan pangan sehari-hari.

Melalui areal pertanaman yang tidak seberapa luas tersebut namun bisa memberikan tambahan pendapatan bagi petani Pulau Payung. Panen bawang merah akhir bulan lalu pada luasan 84 m2 menghasilkan produksi 40 kg basah dan dijual dengan harga Rp.30.000,-/kg. Cabe rawit yang ditanam pada Desember 2019, dengan luasan 196 m2, sampai saat ini sudah menghasilkan produksi sekitar 7,1 kg, dijual dengan harga Rp. 50.000,-/kg. Pepaya merah delima yang manis dan disukai masyarakat sekitar, dipanen terakhir pada awal April dengan hasil buah 8 kg dan dijual seharga Rp.15.000/kg.

Selanjutnya masyarakat Pulau Payung bisa menghasilkan produk pangannya sendiri. Panen sayuran dan buah di pulau tersebut sangat membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan akan sayur dan buah.

Jakarta Utara -- (16/03) - Indeks Pertanaman (IP) lahan sawah di wilayah Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara teridentifikasi masih IP 200 (2 kali tanam padi dalam 1 tahun), hal ini diketahui dari hasil koordinasi tim Peningkatan IP BPTP Jakarta dengan Pak Muhamad Soleh (petugas POPT Kec. Cilincing) di BPP Sukapura. Petani padi sawah umumnya tanam pada bulan Februari-April (MT-I) dan tanam lagi pada bulan Juli-September (MT-II), itu pun dilakukan dengan memperhatikan kondisi cuaca di lapangan. Jadwal tanam bisa saja mundur karena tidak ada hujan (musim kering), terutama pada jeda antara MT-I dan MT-II. Petani juga belum menerapkan pola tanam serempak, sehingga jika dilihat, lahan sawah di Kecamatan Cilincing tetap ada tanaman padi dengan perbedaan umur tanamnya. Hal ini dikhawatirkan akan menimbulkan serangan hama dan penyakit yang tidak terputus.

Terdapat potensi luasan sawah sekitar 300-an ha di Kec. Cilincing, dengan sebagian besar lahan sawah irigasi setengah teknis. Ada peluang peningkatan IP di lahan sawah ini untuk ditingkatkan pada waktu antara MT-I dan MT-II, yaitu dengan melakukan pergiliran tanaman yang umur tanamnya < 2-3 bulan, yaitu kacang kedelai. Selain untuk meningkatkan peluang pendapatan petani, pergiliran tanaman ini juga memungkinkan karena ada sebagian lahan yang bisa diatur ketersediaan airnya (dikeringkan/dialiri air). Menurut Pak Abbas, petani dari Poktan Tani Maju, petani tidak mampu jika harus menanam padi hingga 3 kali dalam 1 tahun, namun jika bertanam kedelai walaupun belum pernah dicoba, namun petani cukup berminat. Mengingat ada usaha industri tahu dan tempe yang kemungkinan bisa dijajaki kerjasama pemasarannya.

Tim Peningkatan IP juga menjajaki identifikasi CP/CL di Kelurahan Ujung Menteng, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur pada Poktan Tani Indah dengan Ketua Poktan Pak Hariri. Lahan sawah di Poktan ini mengalami pengurangan luasan dikarenakan adanya penggusuran lahan sawah untuk kegiatan proyek LRT, sehingga diperkirakan luas lahan produktif nantinya hanya sekitar 2 ha saja.