JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Jakarta -- Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jakarta pada tahun 2018 melakukan kajian terkait teknologi budidaya bawang merah off season dan uji adaptasi cabai rawit dataran rendah. Kamis, 7 Juni 2018 dilakukan sosialisasi Dua kegiatan tersebut di kompleks perumahan Dinas Lingkungan Hidup Lenteng Agung Jakarta Selatan. Acara dibuka oleh Kepala Seksi Peningkatan Peran Serta Masyarakat dan Penaatan Hukum, H. Yayat Supriatna, mewakili Kepala Sudin Lingkungan Hidup Jakarta Selatan. Dalam arahannya Yayat Supriatna menyampaikan bahwa yang mennjadi tujuan dari kampong iklim adalah perubahan pola tingkah laku atau kebiasaan. Kompleks perumahan DLH Lenteng Agung merupakan percontohan Kampung Iklim Nasional. Sistem pengumpulan dan pengelolaan limbah ada di kampung ini, kompos sebagai hasil olahan limbah juga tersedia sehingga untuk kegiatan budidaya atau bertanam tidak mendapatkan kendala dalam penyediaan media tanam.

Kepala Seksie Kerja Sama dan Pelayanan Pengkajian (KsPP) BPTP Jakarta, Syarifah Aminah, mewakili Kepala Balai BPTP Jakarta menyampaikan apresiasi yang luar biasa terhadap warga RW 09 kompleks DLH yang telah menjadi kampung Proklim. Adanya kajian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan berbudidaya bawang merah dan cabai. Sehingga selanjutnya warga mendapat manfaat dari kegiatan berbudidaya di pekarangan rumah. Sementara itu, Kasatlak KPKP Kecamatan Jagakarsa Sudin Jakarta Selatan, Nur Ayuni mengajak agar ibu-ibu warga RW 09 kompleks DLH Lenteng Agung manfaatkan setiap informasi, pembelajaran yang disampaikan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. selanjutnya diharapkan dapat mandiri melakukan kegiatan budidaya bawang maupun cabai.

Budidaya bawang merah off season merupakan teknik budidaya yang dilakukan pada saat musim hujan. Secara umum, bawang merah dibudidayakan pada saat musim panas atau curah hujan rendah, sehingga pada musim hujan ketersediaan bawang merah menjadi terbatas. Untuk menghadapi kondisi tersebut, maka kajian budidaya bawang merah off season skala pekarangan atau lahan terbatas perlu dilakukan setidaknya untuk pemenuhan pada lingkup skala rumah tangga atau kelompok. Teknologi yang diujikan meliputi varietas bawang merah, sembrani, trisula, bima, mentes, dan teknologi jumlah umbi dengan penanaman 3 umbi/polybag, pemupukan NPK 16-16-16 + NPK 15-09-20, serta pengendalian hama secara manual serta menggunakan pestisida nabati bioprotector. Teknologi ini dibandingkan dengan teknnologi eksisting petani yaitu varietas bima brebes, pemupukann NPK 16-16-16, dan aplikasi pestisida sintesis.

Sementara itu, uji adaptasi cabai rawit dataran rendah dilakukan untuk mendapatkan varietas cabai rawit yang sesuai untuk wilayah Jakarta. Varietas cabai yang diuji adaptasikan adalah Agri Prima Horti dan Rabani varietas yang dilepas oleh Balai Penelitian Sayuran Badan Litbang Pertanian, serta varietas Tunduk yang telah dilepas oleh perusahaan swasta. Selain varietas, dikaji juga teknologi pengendalian penyakit keriting yang selama ini menjadi kendala dalam budidaya cabai. Kajian pengendalian penyakit keriting dilakukan dengan memberikan perlakuan terhadap benih yaitu seed prime (priming) menggunakan agensi hayati MM dan Chitosan. Sebelum ditanam, benih direndam dahulu pada larutan yang mengandung MM dan Chitosan. MM merupakan konsorsium mikroba yang telah dirilis oleh Balitsa, badan Litbang Pertanian. Pengendalian secara teknis yaitu menggunakan sungkup dan tanpa sungkup diaplikasikan pada fase pembibitan. Selanjutnya, pada fase selanjutnya yaitu vegetatif dan generatif pengendalian dilakukan dengan aplikasi bioprotector.

Sosialisasi ini merupakan tahap awal dari rangkaian kegiatan pengkajian lapang, untuk menyampaikan paket teknologi yang akan diujikan serta menjaring respon calon petani kooperator terhadap kegiatan yang akan dilakukan. Semoga kegiatan pengkajian ini berjalan dengan lancar dan memberikan hasil yang sesuai dengan kebutuhan petani/kooperator di lapangan. Bersama petani kita bisa!!