JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Kunjungan siang ini, Kamis 17 Mei 2018 dilakukan di wilayah Kebon Baru-Tebet-Jakarta Selatan. Lahan seluas kurang lebih 2.000 m2 itu ditata rapi dengan 5 bangunan rumah kasa berwarna hijau beratap plastik warna putih susu. Di dalam rumah kasa juga sudah tertata dengan rapi barisan polibag-polibag berukuran diameter 40 cm berisi tanaman-tanaman cabai dengan umur yang beragam. Mulai dari umur sekitar 1 minggu setelah semai, hingga 1 bulan setelah pindah tanam. Dalam setiap rumah kasa terdapat sekitar 600-1000 polibag (dengan penataan yang rapat). Jenis cabai yang coba untuk dikembangkan adalah cabai besar dan cabai rawit.

Kegiatan berbudidaya cabai ini sudah mereka inisiasi beberapa waktu sebelumnya dikebun terpisah dengan luasan yang lebih kecil. Semangat yang luar biasa dimiliki oleh anak-anak muda yang notabene bukan berbasik keilmuan budidaya pertanian, nampak jelas dari keseriusannya dalam menyiapkan sarana dan prasarana budidaya yang tergolong lengkap. Mulai dari pemilihan lokasi, model bertanam (sistem pot dalam rumah kasa), pupuk, pestisida, dan berbagai sarana produksi lainnya, bisa dikatakan mereka sangat siap untuk melakukan agribisnis di tengah megahnya ibu kota negara ini.

Namun ternyata terdapat beberapa masalah yang tidak terduga bagi mereka, yaitu adanya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) dan pertumbuhan tanaman yang sangat jauh berbeda dibanding pertanaman yang ada dilokasi sebelumnya.  Setelah melalui beberapa analisis hal itu diduga kuat dikarenakan penggunaan atap rumah kasa yang kurang sesuai dan penanganan OPT yang kurang tepat yang membuat 100% dari populasi tanaman cabai yang ada tidak dapat diselamatkan (selain  bibit baru), khususnya oleh penyakit keriting yang disebabkan adanya penyebaran vektornya (kutu-kutuan).

Melalui diskusi yang mendalam antara para petani muda tersebut, Peneliti-Penyuluh BPTP, dan Sudin KPKP Jakarta Selatan, kemudian disepakati beberapa teknis utama yang perlu diperhatikan dalam perbaikan berbudidaya cabai di lokasi tersebut, yaitu: 1) Mengeradikasi tanaman-tanaman cabai yang ada di lokasi, 2) Sterilisasi media tanam, 3) Pengkondisian atap rumah kasa sehingga intensitas cahaya yang diterima tanaman cabai sesuai kebutuhan, 4) Penyiapan bibit yang sudah diinduksi dengan agens hayati, dan 5) Penanganan OPT yang tepat (tepat dalam memperlakukan tanaman sakit, tepat dalam pemilihan dan aplikasi produk-produk pengendali).

Diharapkan setelah melakukan hal-hal tersebut di atas kondisi pertanaman akan jauh lebih baik, sehingga impiananak-anak muda di Tebet ini untuk meraup rupiah dari agribisnis cabai ini dapat terwujud.