JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Bogor -- Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta telah menghasilkan teknologi budidaya spesifik lokasi Jakarta yang dapat sesuai dan dapat dilakukan oleh masyarakat Jakarta.  Teknologi budidaya yang telah dikaji dalam 5 (lima) tahun terkahir adalah budidaya bawang merah dari umbi dan TSS (true seed shallot), vermikompost, pemanfaatan urin dan feses kelinci pada budidaya sayuran, vertiminaponik, pemanfaatan limbah tahu sebagai fertilizer, hidroponik indoor, serta budidaya okra dan kelor dalam pot.

Inovasi teknologi budidaya tersebut didiseminasikan  pada Temu Teknis Inovasi Pertanian di Jambu Luwuk, Ciawi pada awal bulan Mei 2018. Temu Teknis merupakan forum pertemuan antara peneliti dan penyuluh BPTP dengan penyuluh di lapangan untuk mengkomunikasikan/mendiseminasikan  inovasi budidaya tanaman yang telah dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian untuk digunakan sebagai referensi bagi para penyuluh pertanian dalam penyelenggaraan penyuluhan pertanian di wilayahnya.  Melalui Temu Teknis tersebut diharapkan dapat teridentifikasi teknologi yang dibutuhkan oleh masyarakat dan teknologi yang perlu disempurnakan untuk perbaikan ke depan.

Salah satu teknologi budidaya tanaman spesifik lokasi yang menjadi sorotan peserta pada Temu Teknis  BPTP Jakarta adalah  vermikompos, pemanfaatan urin kelinci, dan budidaya bawang dalam pot.  Vermikompos merupakan kompos yang dalam prosesnya menggunakan agent berupa cacing Eissenia poetida. Vermikompos menghasilkan pertumbuhan tanaman yang lebih baik dibanding kompos yang dihasilkan dari proses konvensional. Hal ini sangat potennsial untuk dikembangkan karena prosesnya yang mudah dan hasil yang diberikan jauh lebih baik. Akan tetapi, yang menjadi kendala di tingkat aplikasi kelompok tani adalah rasa geli anggota kelompok untuk memanen vermikompos karena takut bersenntuhan dengan cacing. Hal ini yang harus diatasi secara pendekatan psikologis maupun teknis, misalnya menggunakan sarung tangan ataupun alat bantu berupa sekop.

Teknologi lain yang menarik perhatian adalah  pemanfaatan urin.  Kajian BPTP menghasilkan data dan informasi bahwa untuk pemanfaatan urin kelinci tidak perlu dilakukan proses fermentasi. Urin yang ditampung cukup  didiamkan minimal 3 minggu, selanjutnya dapat diaplikasikan langsung ke tanaman.  Mengingat sangat mudahnya pemanfaatan urin ini, maka menjadi daya tarik tersendiri peserta temu teknis.  

Budi daya bawang merah di pekarangan menggunakan berbagai macam wadah tanam seperti pot, polybag, talang juga menjadi materi yang sangat menarik.  Hal ini disebabkan berbudi daya bawang merah di Jakarta belum banyak dilakukan. Kajian budidaya bawang merah dalam pot dengan komposisi media tanam dan pemupukannya menjadi salah satu inovasi  teknologi yang mudah dan sangat adaptif untuk diterapkan di pekarangan.

Pertanyaan, saran dan masukan membuat diskusi menjadi sangat hidup, bahkan waktu yang disediakan oleh panitia masih dirasakan belum cukup. Oleh karena itu, Temu Teknis ini merupakan forum untuk mendiskusikan teknologi yang telah dihasilkan oleh para peneliti Badan Litbang Pertanian, dan merupakan forum untuk mendapatkan umpan balik teknologi yang telah diaplikasikan oleh pengguna. Pada Temu Teknis ini, selain peneliti Badan Litbang Pertanian juga menghadirkan narasumber lain untuk memberikan masukan terhadap teknologi yang dihasilkan.

Dalam arahannya, Kepala BPTP Jakarta, menyampaikan bahwa Temu Teknis merupakan forum diskusi bagi peneliti dan penyuluh tentang aplikasi teknologi pertanian perkotaan dan umpan baliknya, sehingga pertanian perkotaan dapat terus dikembangkan di seluruh wilayah Jakarta dan kota-kota lain di seluruh Indonesia. Melalui Bimbingan Teknis materi penyuluhan pertanian diharapkan agar para penyuluh memahami teknologi yang telah dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian dan memiliki kemampuan dan keterampilan untuk dapat menyampaikan kepada penggunanya. Bimbingan Teknis ini akan dilakukan secara berkala sesuai topik dan waktu yang disepakati bersama.