JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Selasa (08/05/2018). Sebagai tindaklanjut dan wujud nyata pelaksanaan PERMENTAN No 19/2017, BPTP Jakarta menyelenggarakan Temu Teknis Inovasi Pertanian di Jambu Luwuk, Ciawi pada hari Selasa tanggal 8 Mei 2018.

Temu Teknis merupakan forum pertemuan antara peneliti dan penyuluh BPTP dengan penyuluh di lapangan dalam rangka mengkomunikasikan/mendiseminasikan inovasi pertanian hasil penelitian dan pengkajian Badan Litbang Pertanian untuk digunakan sebagai referensi bagi para penyuluh pertanian dalam penyelenggaraan penyuluhan pertanian di wilayahnya. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan para penyuluh pertanian terhadap inovasi pertanian. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk melakukan identifikasi teknologi yang dibutuhkan oleh masyarakat dan teknologi yang perlu disempurnakan.

Salah satu teknologi pertanian spesifik lokasi di wilayah DKI Jakarta, yang didiskusikan pada Temu Teknis  BPTP Jakarta adalah budidaya ternak kelinci, yang dibahas secara komprehensif mulai dari teknologi pakan, perkandangan, pembibitan, hingga pascapanennya untuk meningkatkan nilai tambah kelinci. Kegiatan Litkaji terkait budidaya kelinci sudah mulai dirintis BPTP Jakarta sejak tahun 2013. Saat ini, ternak kelinci mulai digalakkan untuk dikembangkan, tidak hanya di wilayah Jakarta tapi juga di berbagai wilayah lainnya mendukung program diversifikasi protein ruminansia maupun unggas.

Program pengembangan ternak kelinci sesuai dengan kondisi di DKI Jakarta yang spesifik, terutama lahan yang terbatas. Faktor keterbatasan lahan baik untuk pemeliharaan ternak ruminansia maupun penyediaan lahan rumput untuk sumber pakannya, menjadi faktor utama peralihan jenis ternak yang dikembangkan di Jakarta dari ternak besar menjadi ternak berukuran kecil. Selain itu, merebaknya kasus flu burung beberapa waktu lampau telah memicu pemerintah DKI Jakarta untuk mengeluarkan regulasi terkait peternakan unggas pangan dengan lokasi peternakan minimal sejauh 25 m dari pemukiman melalui Perda DKI Jakarta No. 4 Tahun 2007. Peraturan tersebut akhirnya membatasi perkembangan peternakan unggas pangan di wilayah Jakarta karena padatnya pemukiman penduduk.Kecepatan reproduksi kelinci serta jumlah anakan yang umumnya tinggi, juga menjadi faktor pendukungpositif untuk mengembangkan ternak kelinci. Beranjak dari berbagai faktor tersebut, ternak kelinci dinilai mampu menjadi alternatif pengembangan ternak di wilayah Jakarta.

Rumusan teknologi yang dihasilkan dari Temu Teknis ini antara lain dari segi pakan, optimalisasi produktivitas ternak perlu di dukung oleh sumber pakandangan kualitas nutrisi yang bagus yang umumnya diperoleh dari pakan pellet, sehingga tidak hanya pakan hijauan yang diberikan. Nutrisi minimal pakan kelinci memiliki kadar protein kasar 16% dan serat kasar berkisar antara 12 hingga 14%, dengan energy sekitar 2500 kkal. Untuk sistem perkandangan, perlu diperhatikan aspek kenyamanannya terkait animal welfare. Sistem perkandangan terdiri dari rumah kandang dan kandang individu. Sanitasi kandang perlu diperhatikan karena memiliki keterkaitan dengan kesehatan kelinci. Bau kandang yang berasal dari urin maupun feses kelinci merupakan salah satu sumber stress bagi kelinci selain suara. Yang menjadi salah satu kunci dalam budidaya ternak kelinci adalah sistem reproduksi. Sebagaimana kita ketahui, kelinci merupakan ternak yang mampu beranak banyak. Seleksi untuk replacement ternak menjadi faktor utama dalam sistem pembibitan. Untuk meningkatkan nilai tambah usaha ternak kelinci selain dari hasil samping berupa urin dan pupuk kelinci, perlu dilakukan olahan produk kelinci seperti nugget, sosis, bakso, serta kerupuk rambak dari kulit kelinci.