JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Jakarta -- Cabai  dikembangkan karena mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, merupakan komoditas unggulan nasional maupun daerah, mempunyai peranan yang sangat strategis sebagai penambah rasa pedas pada masakan, di sukai hampir seluruh penduduk. Di wilayah DKI Jakarta sendiri, permintaan cabai mencapai 65,3 ton per hari.  Permintaan pasar terus meningkat seiring dengan peningkatan pertumbuhan penduduk.

Berangkat dari keadaan tersebut, BPTP Jakarta pun menggelar bimbingan teknis Inovasi Teknologi Budidaya Cabai serta Pasca Panen Olahan Cabai.  Bimtek  di hadiri oleh Penyuluh Suku Dinas KPKP DKI Jakarta , Satuan Pelaksana dan Penyuluh Swadaya.

Faktor pembatas dalam budidaya cabai di perkotaan adalah keterbatasan lahan yang siap untuk di tanami,  Kurang nya lahan  tidak di jadikan suatu alasan untuk tidak bertanam.  Pada lahan yang sempit di pekarangan dapat di budidayakan bahkan kini pertanaman lahan telah berpindah ke wadah pot atau polybag. Ikrarwati, SP.MP,  salah satu narasumber peneliti dari BPTP Jakarta, mengulas bagaimana tanaman di halaman sempit atau dalam pot juga dapat berproduksi dengan baik bahkan bisa unggul dalam menghasilkan buah.  Dalam ulasannya, Tanaman cabai dapat tumbuh baik di dataran tinggi maupun rendah, suhu udara yang baik untuk pertumbuhan cabai adalah 18-27 C dengan curah hujan sekitar 600-1200 mm/tahun. Cahaya matahari  penuh, untuk Jakarta sudah sesuai .  Selain membahas varietas cabai yang unggul  dibahas pula mengenai pupuk, ternyata pupuk sangat menentukan baik dalam segi pertumbuhan maupun dalam pembungaan dan pembuahan.

Mentari beranjak naik, Budidaya cabaipun beralih ke pengenalan Hama Penyakit dan Pengendaliannya, di presentasikan oleh peneliti BPTP Jakarta,  Dr. Anna Feronica, SP.MP. Banyak sekali faktor penyebab tanaman terserang hama penyakit, penyebab ini terbagi dua Biotik (mahkluk hidup) dan Abiotik. Yang disebabkan oleh Biotik adalah, Jamur (cendawan), Bakteri, Virus dan Nematoda.  Sedangkan yang Biotik adalah, Kurangnya unsur hara, Suhu extrim, Cekaman Air dan Polusi.  Kesemuanya ini pun dibahas hingga tuntas.

Materi terakhir di suguhkan dari Pascapanen, mengenai olahan cabai, ada bermacam macam olahan cabai hasil Inovasi Teknologi BPTP Jakarta, Ada cabai kering, cabai bubuk dan cabai Blok. Cabai bubuk di olah kembali menjadi  Saos Cabai, Manisan, Abon cabai Minyak Cabai dan aneka sambal. Di demokan cara membuat abon cabai dan aplikasinya pada tanaman oleh tem Paspa.  Semua produk cabai ini rasanya pedas semua, ternyata dalam cabai terkandung  zat Capsaicin yang membuat buah cabai ini pedas menurut Syarifah Aminah, SP,  MSi (Peneliti Pasca Panen BPTP Jakarta) di saat terakhir sebelum penutupan Bimtek ini.

Semangat Petaniku….Jayalah Pertanian Indonesia…