JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Jakarta -- Tiada kata libur bagi mereka....kali ini rekan-rekan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jakarta masih melanjutkan liput panen di Jakarta Utara. Hari ini tanggal 23 Desember 2017, liputan panen dilakukan di dua wilayah, Rorotan dan Marunda. Panen di wilayah Rorotan dilakukan di dua lahan anggota kelompok tani Makmur Jaya, yaitu pak Wasja’ dan pak Dursin. Kedua anggota keltan ini menanam Inpari-32 seperti anggota keltan setempat lainnya. Sedangkan di Marunda, dengan luas baku penanaman yang lebih kecil, dijumpai pemanenan berada dilahan milik pak Latif. Beliau menanam varietas Ciherang.  Lahan di Rorotan (60-70 mdpl) agak berbeda dengan yang di Marunda. Sawah di Rorotan menggunakan sistem pengairan irigasi yang lebih terkendali (ada saluran irigasi yang membantu pengaturan kebutuhan air untuk lahan), sedangkan lahan di Marunda yang cenderung lebih rendah (20-30 mdpl) dan belum ada saluran pembungan air, menyebabkan lahan relatif lebih sering tergenang. Hal yang terakhir ini menyebabkan petani agak kesulitan dalam proses penangan panen dan pasca panen. Untuk musim tanm berikutnya, varietas Inpara akan diperkenalkan kepada mereka.

Luas panen hari ini di masing-masing petani wilayah Rorotan adalah 1,1 Ha dan 1,4 Ha. Hasil panen hari ini diduga berkisar antara 7-8 ton/Ha gabah basah (kadar air + 25%). Sedangkan  untuk lahan di Marunda, dan 5-6 ton/Ha untuk lahan seluas 1,3 Ha. Meskipun belum menerapkan paket teknologi budidaya padi yang direkomendasikan secara lengkap, tetapi secara perlahan tapi pasti, setiap komponen paket teknologi sudah ‘diterima’. Penggunaan varietas unggul, sistem tanaman jajar legowo, sistem pengendalian hama terpadu, dan penambahan bahan organik sebagai pupuk dasar telah dilakukan.Hal masih belum dicermati adalah melakukan pengukuran terhadap kebutuhan unsur hara, melalui menggunaan perangkat uji cepat untuk tanah sawah (PUTS).

Dikarenakan petani menjual gabah secara langsung pada kondisi basah (Sistem “Gabruk-an”), maka petani tidak memerlukan ruang khusus untuk penanganan pasca panen. Menurut petani, tahun ini harga yang diberikan oleh Pedagang Pengumpul musim tanam ini relatif lebih tinggi, yaitu Rp. 470.000,-/Kuintal. Hal ini memberikan pendapatan yang terbilang baik bagi petani, meskipun secara produksi pada musim tanam ini tidak sebaik musim tanam sebelumnya. Faktor yang mempengaruhi penurunan produksi tersebut adalah kondisi cuaca yang cenderung tinggi curah hujannya. Meski mendung menggantung di atas bumi Rorotan dan Marunda, namun petani tetap tersenyum ceria bersama hasil panen padi nya...