JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Jakarta - Ternyata panen padi bukan hanya milik petani yang ada di pedesaan. Terbukti (18/12/2017), Jakarta yang menyandang predikat sebagai kota metropolitan, petaninya pun dapat panen padi. Memang luasan sawah di Jakarta tidak seluas di wilayah lain, konversi lahan dari tahun ke tahun menyebabkan lahan pertanian terus berkurang. Tercatat, bahwa pada tahun 2015 jumlah sawah yang ada di Jakarta kurang lebih seluas 644 Ha tersebar di Jakarta Utara (433 Ha), Jakarta Barat (137 Ha) dan Jakarta Timur (74 Ha), tapi sekarang (2017) telah mengalami penurunan menjadi sekitar 574 Ha. Dari sejumlah luasan tersebut, sebagian besar kepemilikkannya bukan lagi di tangan petani, melainkan perusahaan. Jadi, petani di Jakarta harus bersiap-siap untuk mencari lokasi baru apabila sewaktu-waktu lahan tersebut diambil alih oleh pemiliknya.

Apabila dilihat dari jumlah kelompok taninya, di Jakarta Utara masih terdapat sembilan kelompok tani yang eksis dengan komoditas utamanya adalah padi, yaitu berlokasi di Kelurahan Rorotan dan Marunda, Kecamatan Cilincing. Sebut saja Poktan Tani Maju yang berlokasi di Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, sudah hampir satu minggu ini berlangsung kegiatan panen padi, dengan produktivitas 6-7 ton/ha. Preferensi petani di Jakarta Utara terhadap varietas Ciherang sangat tinggi, sehingga BPTP Jakarta mengintroduksikan varietas yang memang mempunyai tetua Ciherang, salah satunya adalah Inpari 32. Semenjak diintroduksikan oleh BPTP Jakarta pada tahun 2016, Poktan Tani Maju masih terus mengembangkan Inpari 32 sampai saat ini. Keunggulan varietas Inpari 32 yang dirasakan oleh petani adalah relative tahan terhadap hama wereng, serta mempunyai jumlah anakan yang banyak, sehingga jumlah produksinya pun akan tinggi. Dibandingkan dengan Inpari 42 yang juga pernah ditanam di Jakarta Utara, petani poktan Tani Maju lebih memlilih Inpari 32. Memang dari segi kepulenan nasi, Inpari 42 lebih unggul dibandingkan Inpari 32, tetapi dilihat dari jumlah anakan yang dihasilkan lebih sedikit, yang tentunya akan berpengaruh terhadap penerimaan petani.

Selain varietas, inovasi teknologi yang telah diadopsi adalah cara penanaman dengan sistem jajar legowo, yang sudah hampir seluruh kelompok tani di Jakarta Utara menerapkan metode tersebut. Meskipun antara kelompok yang satu dengan yang lain menerapkan sistem jajar legowo yang bervariasi, yaitu jarwo 4: 1 ataupun 6: 1 disesuaikan dengan kondisi dan tenaga kerjanya. Bersama dengan instansi terkait, BPTP Jakarta masih terus berupaya untuk memberikan dukungan terhadap pejuang pangan di metropolitan, karena kalau bukan kita siapa lagi ? Salam...