JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

BPTP Jakarta bersama Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (Sudin KPKP) Jakarta Utara dan Jakarta Barat kembali terlibat aktif dalam melakukan verifikasi data tanaman pangan, khususnya produktivitas padi. Kegiatan ini diinisiasi oleh Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian-Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BSDLP-Balitbangtan) dalam rangka melakukan pendugaan produktivitas padi menggunakan penginderaan jarak jauh berdasarkan data Sentinel-1. Kegiatan ini bertujuan untuk memperoleh model penyempurnaan penginderaan jarak jauh terhadap produktivitas padi nasional secara cepat dan akurat. Namun hasil pemodelan ini tetap memerlukan validasi dengan produktivitas sesungguhnya di lapangan, sehingga diperlukan kerja sama yang baik antar instansi terkait. Validasi ini dilakukan dengan cara pengukuran hasil panen dari ubinan yang berukuran 2,5 m x 2,5 m seperti yang digunakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), yang selanjutnya diproyeksi dalam bentuk hasil per hektar.

BBSDLP-Balitbangtan memberikan amanah kepada beberapa BPTP untuk melakukan validasi produktivitas padi nasional, salah satunya adalah BPTP Jakarta. BPTP Jakarta melakukan pengamatan hasil panen ubinan di tiga wilayah Provinsi DKI Jakarta yang memiliki hamparan sawah yang cukup luas yaitu Wilayah Kota Jakarta Utara, Jakarta Timur dan Jakarta Barat. Setiap wilayah kota dilakukan pengamatan luas ubinan sebanyak 5 titik dengan lokasi yang tersebar.

Kegiatan pengamatan yang pertama dilaksanakan di Wilayah Kota Jakarta Utara pada tanggal 12 Agustus 2021 dengan melakukan pengamatan sebanyak 2 titik, sedangkan 3 titik lainnya diamati pada tanggal 20 Agustus 2021. Titik-titik pengamatan berada di Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Kota Jakarta Utara. Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa produktivitas padi dari lima titik ini memiliki produktivitas yang beragam. Dari lima titik pengamatan luas ubinan didapatkan gabah bersih dengan bobot masing-masing 8,08 kg, 4,60 kg, 1,68 kg, 2,89 kg dan 3,11 kg. Setelah diproyeksikan dengan luasan satu hektar maka secara berturut-turut hasilnya adalah 12,93 ton/ha, 7,36 ton/ha, 2,67 ton/ha, 4,62 ton/ha dan 4,98 ton/ha. Beragamnya produktivitas padi di Jakarta Utara ini disebabkan salah satunya oleh gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT). Tantangan organisme pengganggu tanaman (OPT) dari setiap lokasi berbeda. Titik pertama dan kedua menunjukkan hasil yang cukup tinggi karena pada kedua lokasi ini tidak ditemukan OPT yang dominan. Titik ketiga diduga terlambat melakukan panen, terjadi hujan deras sebelum panen sehingga terjadi banjir, serta terdapat serangan burung yang secara signifikan menurunkan hasil panen. Titik keempat dan kelima terdapat serangan sundep dan beluk yang cukup dominan sehingga banyak malai yang kosong dan berwarna putih.

Pendataan produktivitas padi di Jakarta Barat juga telah dilaksanakan pada 16 Agustus 2021 silam pada 2 titik, di lahan sawah daerah Semanan-Kalideres. Pendataan selanjutnya akan dilakukan pada awal September 2021. Semoga data-data pengamatan yang diperoleh secara riil dari lapangan tersebut dapat mendukung peningkatan akurasi data yang diperoleh dari Sentinel-1, sehingga data produktivitas padi nasional yang cepat dan akurat segera terwujud.