JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Jakarta --- Bertani di lahan pasir pantai dengan salinitas yang tinggi, bukanlah perkara yang mudah. Itulah yang dihadapi oleh petani sayuran dan buah-buahan di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Namun, disaat Corona merebak di Indonesia, semangat petani sayur dan buah-buahan disana tidak pernah luntur.

Seperti yang diungkapkan oleh petani hortikultura dari Pulau Payung, Kepulauan Seribu, Pak Hasan. "Awalnya sulit untuk bertani di Pulau Payung ini. Tanahnya marjinal dengan salinitas tinggi, bahan organik dan kadar unsur hara rendah, serta daya mengikat air rendah. Tapi berkat pendampingan dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) DKI Jakarta, kami bisa," cerita Hasan.

Berbagai jenis sayuran dan buah, seperti: bawang merah, cabai, ketimun, tomat, kacang panjang, papaya dan pisang dapat tumbuh dengan baik, walaupun produktivitasnya tidak bisa menyamai daerah yang bukan tanah berpasir.  Aneka hortikultura tersebut dapat tumbuh subur dibawah pemeliharaan mereka.  Pada lahan seluas 1 ha, hasil  panen yang didapatkan bisa memenuhi sebagian kebutuhan masyarakat di Pulau Payung yang terdiri dari 51 KK. 

Adanya pertanian di Pulau Payung, ternyata sangat membantu masyarakat disana untuk pemenuhan kebutuhan akan sayuran dan buah, terutama pada saat musim angin Barat ketika ombak yang besar dan angin kencang tidak memungkinkan masyarakat untuk belanja ke pulau lain atau ke daratan seperti: Jakarta dan Tangerang. Begitupula, ketika merebaknya serangan virus Corona dan diterapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) seperti saat ini di Wilayah DKI Jakarta. "Kami tidak menyerah, kami akan terus bertanam dan memanen sayuran dan buah-buahan untuk kebutuhan masyarakat," tekad Hasan. 

Dari areal pertanaman yang tidak seberapa luas tersebut, Hasan bisa mendapatkan tambahan pendapatan untuk keluarga dan kawan-kawannya yang tergabung dalam kelompok tani. Panen bawang merah pada luasan 84 meter persegu bisa menghasilkan produksi 40 kg basah yang dijual dengan harga Rp.30.000,-/kg.

Begitupula, panen cabai rawit pada luasan 196 meter persegi, yang ditanam pada Desember 2019 bisa menghasilkan produksi sebanyak 7,1 kg yang dijual dengan harga Rp. 50.000,-/kg, serta panen pepaya merah delima yang manis dan disukai masyarakat sekitar dijual dengan harga Rp.15.000/kg.  "Sebelum panen bawang merah, cabai dan pepaya, juga telah dipanen ketimun, timun suri, pisang dan kacang panjang.  Penanaman sayuran tersebut dilakukan secara bergilir oleh petani.  Modalnya berasal dari penjualan sayuran dan buah pada musim-musim sebelumnya.  Produksi yang dihasilkan tersebut dipasarkan kepada masyarakat di Pulau Payung dan Pulau Tidung," beber Hasan.

Pendampingan dan penyebarluasan inovasi teknologi untuk petani seperti Hasan di Kepulauan Seribu oleh BPTP DKI Jakarta ini merupakan bagian dari kebijakan riset Balitbangtan. "Mulai 2020 hasil riset dibumikan atas kebutuhan masyarakat, petani dan pelaku usaha.  Sebagaimana yang dilakukan BPTP Balitbangtan Jakarta dimana penerapan teknologi pertanian yang sesuai mampu mencukupi kebutuhan masyarakat lokal," ungkap Kepala Badan Litbang Pertanian, Dr. Fadjry Djufry. Hal ini mutlak untuk dilakukan, guna mengantisipasi berbagai kemungkinan buruk yang mungkin terjadi di pulau-pulau kecil seperti Kepulauan Seribu.

 
Editor : Gesha
Reporter : Kontributor (tabloidsinartani.com)
Sumber : BPTP DKI Jakarta