JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Jakarta – Keberadaan Era Revolusi Industri 4.0 sudah tidak bisa ditawar lagi. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus menghadapinya. Namun, untuk bisa survive  di era ini, kita harus membekali diri dengan keterampilan-keterampilan tertentu yang disesuaikan dengan tren yang ada. Berdasarkan hasil riset yang direkomendasikan World Economic Forum (WEF), terdapat sepuluh keterampilan yang dikenal dengan 10 Skills for the Future of Jobs.

Menyadari hal tersebut, Sekretariat Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) mengadakan Seminar Implementasi 10 Keterampilan dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0. Dalam sambutannya, Kepala Pusdiklat Kementerian Luar Negeri, Dr. Yayan G.H. Mulyana, menyampaikan selaku pengelola perpustakaan dan pustakawan harus membekali dirinya dengan skills yang menjadi tuntutan dan muncul dari bergulirnya tren 4.0. Lebih lanjut, Ka Pusdiklat Kemlu menegaskan skills 4.0 yang seperti apa yang harus dimiliki dan diutamakan terutama dalam peningkatan kapasitas SDM di perpustakaan khusus.

Hadir sebagai narasumber, Dra. Opong Sumiati, M.Si. (Kepala Pusat Pengembangan Pustakawan, Perpustakaan Nasional RI) dan Ida Fajar Priyanto, Ph.D. (Universitas Gajah Mada, Yogyakarta).

Dalam paparannya, Ida Fajar Priyanto, Ph.D. memaparkan secara gamblang dan lugas tentang realisasi dan bentuk pekerjaan masa depan di perpustakaan. Karena kesuksesan dan reputasi perpustakaan terkait dengan usaha dan strategi perpustakan perpustakaan yang dilakukan oleh para pustakawan dan pengelola perpustakaannya. Saat ini, perpustakaan harus menjadikan unitnya sebagai media penghasil ide bagi decision making, entrepreneurship, inovasi, inklusi sosial, dan sebagainya.

Dijelaskan pula mengenai 10 keterampilan yang harus dimiliki pustakawan dan pengelola perpustakaan dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0. Kesepuluh keterampilan tersebut adalah: 1. Complex problem solving, kemampuan dalam memecahkan masalah secara sistematis, mulai dari identifikasi masalah, seleksi informasi yang berhubungan dengan masalah tersebut, mencari solusi hingga mengevaluasinya; 2. Critical thinking, atau kempuan dalam berfikir kritis; 3. Creativity, yakni mampu menemukan dan menghasilkan suatu kreativitas yang unik dan orisinil; 4. People management, yakni kemampuan dalam mengatur orang atau biasa disebut dengan leadership; 5. Coordinating with other, yaitu kemampuan melakukan koordinasi dengan orang lain atau team work; 6. Emotion Intelligence, kemampuan untuk mengatur serta mengontrol emosi, atau disebut juga dengan kecerdasan emosional; 7. Judgement and decision making, yakni kemampuan dalam menarik kesimpulan hingga pengambilan keputusan, dalam kondisi apapun; 8. Service orientation; sebagai unit yang salah satu pekerjaannya adalah layanan, maka pustakawan dan pengelola pengelola perpustakaan harus memiliki orientasi pada layanan atau mengedepankan layanan; 9. Negotiation, memiliki kemampuan bernegosiasi; dan 10. Cognitive flexibility, yakni memiliki fleksibilitas kognitif atau mampu berfikir secara spontan sebagai respon dalam menyesuaikan keperluan dan tuntutan situasional.

Ida Fajar Priyanto, Ph.D. juga menekankan bahwa pustakawan dan pengelola perpustakaan memiliki peran tidak saja sebagai penjaga akses namun juga sebagai penjaga pengetahuan. Untuk itu, perlu dilakukan kajian-kajian mengenai user experience. Dimana, dari sana kita bisa mengobservasi perilaku-perilaku dan keebiasaan pengguna terkait dengan perpustakaan. Hasil kajian tersebut nantinya dapat dijadikan masukan sebagai bahan pertimbangan pengembangan perpustakaan ke depannya.

Sementara, Dra. Opong Sumiati, M.Si. menjelaskan bahwa Perpusnas sedang menggalakkan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Inklusi sosial yang dimaksud adalah melalui pendekatan berbasis sistem sosial atau pendekatan kemanusiaan. Untuk itu, perpustakaan harus dirancang agar memiliki nilai kebermanfaatan yang tinggi di masyarakat. Perpustakaan harus berupaya menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk memperoleh solusi, hingga meningkatkan kualitas hidup dan kesejateraannya.

 Di sesi terakhir pada seminar, disosialisasikan program kerja Forum Perpustakaan Khusus (FPK) Indonesia dalam mendukung peningkatan keterampilan SDM perpustakaan khusus oleh Eka Meifrina Suminarsih, SIP., MM. selaku Ketyua Umum FPK Indonesia.