JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Jakarta – Bahan perpustakaan dan naskah kuno di Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dan Dinas perpustakaan memerlukan penanganan yang serius. Hal ini dikarenakan faktor iklim di Indonesia merupakan salah satu penyebab laju kerusakan yang sangat tinggi.

Berbagai regulasi diamanatkan kepada Perpusnas untuk melaksanakan pelestarian dan penyelamatan koleksi naskah kuno. Regulasi yang dimaksud adalah UU Nomor 43 tentang Perpustakaan, pasal 1 ayat 5 dan pasal 3 yang menyebutkan bahwa salah satu fungsi Perpusnas adalah sebagai perpustakaan pelestarian. Selain itu, regulasi juga terdapat dalam UU Nomor 13 tahun 2018 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam, pasal 3 pada butir (a) mewujudkan koleksi nasional dan melestarikannya sebagai hasil budaya bangsa, dan butir (b) menyelamatkan karya cetak dan karya rekam dari ancaman bahaya.

Naskah kuno sendiri merupakan hasil pemikiran dari para leluhur yang berisikan tentang keberagaman budaya bangsa. Budaya merupakan warisan yang memiliki nilai tinggi bagi suatu bangsa. Budaya akan mengarahkan pemahaman anak bangsa terhadap suasana masyarakat, keadaan sosial jaman dahulu dan tingkat perkembangan intelektual yang melingkupinya.

Warisan budaya yang tertoreh pada sebuah media banyak mengandung filosofi, nilai, keyakinan, kebiasaan, konvensi, adat istiadat, etika dan lain sebagainya. Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan keberagaman jenis dan jumlah khazanah budaya dari tiap wilayahnya di nusantara. Terdapat beberapa naskah kuno milik Indonesia yang telah mendapatkan pengakuan sebagai ingatan dunia dalam Memory of the World UNESCO. Salah satunya adalah Naskah Babad Diponegoro. Saat ini, Perpusnas sedang melakukan konservasi pada naskah ini dengan berkolaborasi antara konservator yang berasal dari Berlin dan Belanda selama 7 hari.

Peran strategis perpustakaan dalam upaya melestarikan budaya dan membangun peradaban bangsa sangat besar. Paradigma perpustakaan dalam bidang pelestarian saat ini telah mengalami transformasi yang sangat signifikan; dari pola pekerjaan yang hanya menyimpan dan merawat koleksi menjadi memberikan dan memperluas akses informasi dan pengetahuan kepada masyarakat; dari menyediakan kebutuhan koleksi menjadi diversifikasi dan implementasi konten,
sehingga tetap lestari pada masyarakat.

Pengaruh globalisasi tidak selamanya dapat melenyapkan identitas bangsa, namun teknologi mempermudah implementasi proses pelestarian dari khasanah budaya bangsa dengan
mengumpulkan, menyimpan, mengawetkan, dan melestarikan hasil karya cipta, rasa dan karsa bangsa. Salah satu cara pelestarian informasi adalah dengan melakukan transformasi melalui alih media, baik dalam bentuk mikro maupun dalam bentuk digital.

Semakin banyak naskah dan koleksi langka yang diselamatkan kandungan informasinya melalui digitalisasi, maka semakin besar pula keterbukaan akses masyarakat terhadap koleksi-koleksi langka tersebut. Karena sejatinya tujuan dari preservasi adalah memastikan para generasi penerus di masa yang akan datang dapat terus menikmati koleksi-koleksi buku, naskah ataupun literatur lain yang kita miliki saat ini.

Daalm rangka meningkatkan kompetensi para pustakawan dalam melakukan preservasi bahan pustaka, Perpusnas menyelenggarakan Seminar dan Workshop Metode Pelestarian Bahan Pustaka. Tema yang diangkat pada kegiatan ini adalah Pelestarian Naskah Kuno Nusantara Melalui Implementasi Teknologi Preservasi, Dalam Mewujudkan Perpustakaan Berbasis Elektronik. Kegiatan berlangsung selama tiga hari, 26-28 Agustus 2019, dan dihadiri oleh para pustakawan dari berbagai daerah.