JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Jakarta -- Salah satu masalah yang dihadapi petani saat penanganan pascapanen adalah kehilangan hasil pada setiap tahapan kegiatan pascapanen padi. Tingkat kehilangan hasi padi di Indonesia masih tinggi sekitar 10 – 15 persen. Oleh karena itu Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta dalam rangka pelaksanaan Kegiatan Pendampingan Strategis Pengembangan Komoditas Utama Kementerian Pertanian pada Tanggal 23 Juli 2019 mengadakan Bimbingan Teknis Penangan pascapanen padi untuk menekan kehilangan hasil di Kelompok Tani Jawa Indah, Semanan, Kalideras, Jakartaa Barat.

Dalam sambutannya Kepala BPTP Jakarta yang diwakili oleh Syarifah Aminah, SP, M.Si manyampaikan Bimbingan Teknis perlu disampaikan ke petani bukan hanya tentang proses budidaya tetapi juga tentang penanganan pascapanen padi dan harapannya setelah mengikuti Bimbingan Teknis ini, pengetahuan dan keterampilan yang didapatkan dapat diterapkan oleh petani di wilayah Jakarta Barat untuk mengurangi kehilangan hasil. Acara diawali dengan panen bersama. Varietas padi yang dipanen adalah Inpari 32 dan dilanjutkan dengan Bimbingan Teknis.

Narasumber pada Bimbingan Teknis kali ini adalah Ir. Sigit Nugraha (Peneliti Madya Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen) yang menyampaikan materi Penanganan Pascapanen Padi untuk Menekan Kehilangan Hasil. 

Dalam pemamparannya beliau menyampaikan tahapan kegiatan yang dilakukan pada saat panen padi, titik kritis panen padi, salah satunya umur panen. Selain itu juga disampaikan perkembangan teknik pemanenan padi untuk menekan susut hasil dan meningkatkan mutu beras dan perkembangan cara perontok padi untuk mengurangi kehilangan hasil. Proses pengeringan padi harus segera dilakukan agar kerusakan mutu gabah dapat dihindari. Proses pengeringan bertujuan untuk menurunkan kadar air gabah.

Selanjutnya beliau menyampaikan Inovasi Teknologi Pengeringan yang telah ada serta proses penggilingan berdasarkan sistem kerja unit penggilingan dan kondisi penggilingan padi di Indonesia saat ini. Kondisi saat ini, rendemen masih rendah, kualitas beras yang dihasilkan masih rendah dan kehilangan hasil di PPK diperkirakan masih tinggi. Untuk itu perlu dilakukan optimalisasi penggilingan dan  pengolahan hasil padi  menjadi beras. Ada beras secara umum dan beras fungsional. Hal penting lain yang perlu diperhatikan adalah penyimpanan. Teknologi penyimpanan tertutup memiliki beberapa kelebihan, diantaranya mengurangi aktivitas serangga, kadar airnya cukup stabil, meningkatkan daya simpan benih dari 6 bulan menjadi 12 bulan, mempertahankan mutu giling dan melindungi beras dari burung dan hewan pengerat.

Bimbingan Teknis Penanganan Pascapanen Padi untuk Menekan Kehilangan Hasil dihadiri oleh Peneliti dan Penyuluh BPTP Jakarta, Penyuluh dan POPT Wilayah Jakarta Barat, Kasatlak Kecamatan Kalideres dan Kelompok Tani Jawa Indah. Acar diakhiri dengan diskusi dan tanya jawab.