JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Kepulauan Seribu -- Indonesia sering kali disebut dengan negara megabiodiversitas karena kekayaan sumber daya genetiknya yang sangat melimpah. Selain memiliki sangat banyak spesies serangga, spesies tanamannya pun sangat beragam karena memiliki hutan tropis yang luas. Namun seriring dengan masifnya pembangunan di Indonesia banyak terdapat habitat hewan dan tanaman yang rusak sehingga bila terus dibiarkan spesies hewan atau tanaman ini akan hilang tergerus oleh pembangunan yang sangan cepat ini. Perlu dilakukan pegelolaan sumber daya genetik sehingga spesies-spesies liar dapat terus bertahan dari kepunahan. Langkah pelestarian spesies lokal sudah diambil oleh pemerintah dengan mengumpulkan data-data spesies untuk kemudian didaftarkan dan ditanam pada kebun koleksi. Selain untuk menghindari punahnya spesies-spesies unik, kegiatan pelestarian sumber daya genetik ini juga menyediakan berbagai karakter unik dan unggul bagi kegiatan perakitan spesies baru.

Kepulauan Seribu yang merupakan bagian wilayah dari provinsi DKI Jakarta merupakan areal kepulauan yang memiliki vegetasi yang unik yang dapat dijumpai hanya pada pulau itu sendiri. BPTP Jakarta turut melakukan kegiatan pelestarian sumber daya genetik yang berlokasi di Kepulauan Seribu, tepatnya Pulau Payung dan Pulau Lancang. Kegiatan yang dilakukan berupa ekplorasi berbagai macam vegetasi yang tumbuh alami di wilayah kepulauan dan pesisir, dilakukan pula karakterisasi tanaman unik yang berpotensi dimanfaatkan lebih jauh lagi. Pulau Payung memiliki luas 21 ha dengan dominasi ruang terbuka berupa hutan dan semak. Tanaman besar di Pulau Payung didominasi oleh pohon sukun (Artocarpus altilis dan Artocarpus communis), pandan (Pandanus odorifer) dan cemara laut (Casuarina equisetifolia). Pohon sukun yang dimanfaatkan untuk diambil buahnya, sedangkan pohon cemara laut umumnya diambil batangnya untuk digunakan sebagai kayu bakar. Selain itu terdapat pohon Stigi (Pemphis acidula) yang dikenal memiliki batang yang sangat kuat, pohon stigi ini biasanya dimanfaatkan sebagai bahan bangunan atau rangka kapal kayu. Hasil eksplorasi menemukan beberapa tanaman unik yang memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut antara lain pohon pelonco yang memiliki buah kecil berwarna merah dengan rasa manis yang dapat dikonsumsi, rumput Ischaemum muticum yang digunakan sebagai pakan kambing yang sering disebut dengan rumput kawat-kawat oleh penduduk lokal. Selain rumput kawat-kawat, tanaman yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi tanaman pakan adalah pohon nasi-nasi (sebutan penduduk setempat) yang memiliki morfologi mirip dengan tanaman bidara dan pohon lebar daun (sebutan penduduk setempat) yang memiliki morfologi dengan tanaman jarak.

Berbeda dengan Pulau Payung, Pulau Lancang hampir seluruh areal wilayahnya dipenuhi oleh rumah penduduk sehingga vegetasi didominasi pohon buah dan pohon hias pekarangan. Vegetasi yang banyak ditemukan umumnya pohon buah antara lain pohon pepaya, pisang, jambu biji, jambu air, srikaya, sukun, belimbing dan sawo. Dari hasil eksplorasi di Pulau Lancang ditemukan 2 jenis sawo unik yang jarang ditemukan di daerah Kepulauan Seribu ataupun di Provinsi DKI Jakarta di luar kepulauan yaitu Sawo Karnali dan Sawo Kicik. Sawo Karnali berbeda dengan bentuk sawo umumnya, Sawo Karnali memiliki buah yang bulat seperti apel dan bagian ujung buah agak masuk ke dalam dan terdapat bagian seperti duri yang lunak. Sedangkan Sawo Kicik memiliki buah berwarna kuning atau merah pada fase buah muda, pada fase buah matang buah dari Sawo Kicik ini memiliki warna coklat gelap sampai dengan hitam. Sawo Kicik memiliki ukuran buah lebih kecil dari buah sawo umumnya, bentuk buah seperti melinjo dengan ukuran yang lebih besar dengan rasa daging buah seperti sawo pada umumnya.