JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Ragunan -- Bagaimana dengan pertanian di ibu kota seperti Jakarta? Ini mungkin menjadi banyak pertanyaan bagi masyarakat umumnya. Dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi di ibu kota Jakarta, menjadi tantangan saat ini dan kedepan untuk bagaimana berbudidaya di lahan yang semakin terbatas, serta dapat memberikan jaminan keamanan pangan terhadap konsumen ibu kota. Tentunya sudah banyak regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam mengatur pemanfaatan area lahan tidur atau bantaran sungai. Namun bagaimanan keberlanjutannya, tentunya perlu dilakukan suatu tinjauan untuk itu dariberbagai sudut pandang.

Di awal minggu pertama Juli 2019, bertempat di BPP Ragunan, tim kegiatan Analisis Kebijakan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta  melakukan sosialisasi tentang keberlanjutan pertanian perkotaan kepada Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Jakarta Selatan pada acara rapat rutin BPP yang selalu dilaksanakan setiap hari jumat.

Sosialisasi ini dilakukan untuk menyampaikan tujuan kegiatan, metode pelaksanaan kegiatan serta identifikasi lokasi yang telah melakukan kegiatan pertanian perkotaan.

Nurmalinda, selaku penanggungjawab kegiatan menyampaikan bahwa untuk mendapatkan hasil akhir berupa rekomendasi tentang keberlanjutan pertanian perkotaan, perlu dilihat dari tiga aspek, yaitu aspek ekonomi, aspek sosial dan aspek lingkungan.  Selain itu juga dikaji peranan kelembagaan pertanian (penyedia saprodi, pemasaran hasil), penyuluh, petani dengan kelompoknya;  kerjasama antarstakeholder, serta kebijakan pemerintah. 

Selanjutnya, kegiatan anjak BPTP Jakarta akan dilakukan dilokasi atau wilayah  yang sudah mengembangkan pertanian perkotaan dengan berbagai model, seperti hidroponik, aquaponik, verkultur di 10 kecamatan yang ada di Jakarta Selatan.

Harapannya pertanian perkotaan tetap berkembang dan memberikan kontribusi bagi masyarakat metropolitan.