JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Kepulauan Seribu – Secara administratif, kegiatan KP4S yang dilakukan BPTP Jakarta di Pulau Payung dan Pulau Tidung, Kab. Adm. Kepulauan Seribu, pada bulan Mei 2019 akan segera selesai. Kegiatan yang mengambil tema besar “Model Pertanian Terintegrasi pada Lahan Berpasir Mendukung Kemandirian Pangan di Kepulauan Seribu Provinsi DKI Jakarta” telah menghasilkan model pertanian yang direkomendasikan cocok untuk dikembangkan di Kep. Seribu, khususnya Pulau Payung dan Pulau Tidung. Untuk memastikan keberlanjutan pelaksanaan model ini, maka Rabu-Kamis, 15-16 Mei 2019, BPTP Jakarta mengadakan kegiatan diskusi dan urun rembug dalam menyusun Strategi Keberlanjutan Kegiatan KP4S di Kepulauan Seribu.

Berdasarkan hasil survey pendahuluan yang dilakukan di Kepulauan Seribu, diketahui bahwa masyarakat pulau mayoritas masih meng-import sayuran dari daratan. Untuk itu, salah satu tujuan dilakukan kegiatan KP4S di Kepulauan Seribu adalah untuk membantu Pemprov. DKI Jakarta menumbuhkan kemandirian pangan masyarakat kepulauan dengan menghasilkan pangan dari wilayahnya sendiri. Berdasarkan survey karakteristik biofisik lahan, sistem usahatani, sosial ekonomi, hingga prasarana pertanian, maka dipilihlah Pulau Payung dan Pulau Tidung sebagai lokasi pelaksanaan kegiatannya.

Pulau Tidung merupakan salah satu kelurahan yang terdapat di Kecamatan Kepulauan Seribu SelatanKabupaten Kepulauan Seribu. Pulau Tidung sendiri terbagi menjadi dua, yaitu Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Pulau Payung juga merupakan bagian dari Kelurahan Pulau Tidung.

Selama ini, pulau-pulau tersebut berkembang ke arah wisata bahari. Berdasarkan hal tersebut, sebagai salah satu destinasi wisata, maka baik Pulau Tidung maupun Pulau Payung secara tidak langsung memiliki kebutuhan pangan yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan pangan, tidak saja untuk para penduduknya, tetapi juga para wisatawannya.

Perlakuan kegiatan di Pulau Payung dan Pulau Tidung memiliki perbedaan. Untuk Pulau Payung, kegiatan budi daya dilakukan berbasis lahan seluas 1 ha, sementara di Pulau Tidung yang sudah padat penduduk, maka kegiatan budi daya pertanian menggunakan teknologi-teknologi yang mudah diaplikasikan di lahan yang terbatas.

Plt. Kepala BPTP Jakarta, Sudi Mardianto, menyampaikan “Salah satu yang dilihat oleh BPTP Jakarta, di kegiatan ini bahwa adanya sumber daya pasir yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan budi daya pertanian”. Lebih lanjut, disampaikan “Kegiatan ini merupakan upaya dalam usaha mewujudkan kemandirian pangan masyarakat Kepulauan Seribu”. Kemandirian dari kebutuhan pangan, tentunya bukan saja dilihat dari jumlahnya tapi juga kualitasnya.

Muhammad Alim, Ketua RW 01 Kel. Pulau Tidung, menyampaikan “Saat ini sudah hampir semua masyarakat mencoba melakukan kegiatan bercocok tanam. Namun, masyarakat lebih menyukai budi daya dengan sistem hidroponik, karena tekstur sayuran yang dihasilkan lebih renyah” ujarnya.

Secara umum, dalam kegiatan diskusi, segenap jajaran pemerintah daerah mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi kepada BPTP Jakarta atas pelaksanaan kegiatan KP4S di Pulau Payung dan Pulau Tidung. Bahkan, saat ini Pemprov DKI Jakarta telah melakukan replikasi KP4S di Pulau Tidung Kecil dengan tanaman komoditas hortikultura yang beragam pula.

Untuk keberlanjutan pelaksanaan kegiatan ini, Ilhamsyah, Kasie Ketahanan Pangan dan Pertanian, Sudin KPKP Kab. Adm. Kep. Seribu, meminta rekomendasi dari model yang telah dilakukan ini. Tujuannya agara pemprov dapat menyediakan anggaran agar kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut.

Hal serupa juga disampaikan oleh Iwan P. Samosir, Asisten Administrasi Ekonomi dan Pembangunan Kab. Adm. Kep. Seribu. Seraya mengucapkan terima kasih atas pelaksaan kegiatan ini, disampaikan kini Pulau Payung sudah bisa mengekspor sayuran ke Pulau lainnya, seperti Pulau Tidung, Pulau Pramuka, Pulau Pari.

Lebih lanjut, disampaikan “Kepulauan sangat rentan terhadap cuaca, maka ketahanan pangan secara mandiri perlu dilakukan. Secara potensi, pertanian di Kepulauan Seribu bisa dikembangkan, maka diharapkan BPTP Jakarta bisa memfokuskan kegiatannya di Kepulauan Seribu”.

Disuksi mengenai strategi keberlanjutan kegiatan KP4S tersebut berjalan hangat. Disampaikan dalam diskusi, kambing-kambing anpera yang dibudidayakan di Pulau Payung terdiri dari 2 ekor pejantan dan 10 ekor betina. Kebutuhan pakan ternak dipenuhi dari lahan yang digarap tersebut. Saat ini seluruh kambing betina tersebut dalam keadaan bunting, bahkan diperkirakan dalam waktu dekat kambing-kambing betina tersebut akan beranak secara berurutan. Selesai diskusi dilakukan tinjauan lapangan ke lahan kegiatan KP4S di Pulau Payung beserta penunjukkan beberapa asset kegiatan yang akan diserahkan kepada Pemprov DKI Jakarta.