JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Jakarta – Tren “back to nature” dan “green living” yang mulai marak belakangan ini, secara tidak langsung mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan kelestariannya, termasuk keamanan produk pangan yang akan dikonsumsi. Terkait dengan hal tersebut, BPTP Jakarta menggelar Temu Teknis Pembuatan Pestisida Nabati untuk Sayuran pada Selasa (16/04/2019). Kegiatan ini tidak hanya dihadiri oleh para peneliti dan penyuluh, tetapi juga oleh para petani, mahasiswa, dan para teknisi litkayasa.

Dalam pembukaan, Plt Kepala BPTP Jakarta, Dr. Sudi Mardianto, M.Si., menyampaikan bahwa “Efektivitas pestisida nabati tidak secepat pestisida kimia, namun pestisida nabati lebih aman baik pada produk pertaniannya juga lingkungannya”. Perwakilan penyuluh wilayah, Ir. Didi Setiabusi, M.Si., menyampaikan dalam sambutanya, “Pestisida nabati bukan barang baru, namun terkait dengan pertanian perkotaan, gang hijau, dan sebagainya, pestisida nabati sangat diperlukan terutama kaitannya dengan budidaya sayuran berumur pendek, dengan demikian akan aman untuk dikonsumsi”.

Materi pembuatan pestisida nabati untuk sayuran, disampaikan oleh Dr. Indarti Puji Lestari, SP., M.Si., peneliti budidaya dari BPTP Jakarta. Dalam pemaparan disampaikan bahwa penggunaan pestisida kimia dalam beberapa kasus dapat menimbulkan kerugian atau efek negatif. Kasus kerugian tersebut seperti keracunan, polusi lingkungan, hingga serangga menjadi resisten dan resurgen.

Salah satu alternatif pengendalian hama dan penyakit yang ramah lingkungan diantaranya adalah dengan penggunaan pestisida nabati. Pestisida yang terbuat dari bahan alami tersebut bersifat mudah terurai sehingga aman bagi lingkungan, atau dengan kata lain tidak mencemari lingkungan. Namun demikian, tidak sedikit petani yang lebih menyukai penggunaan pestidida kimia. Hal ini salah satunya disebabkan daya bunuh pestisida kimia lebih kuat dibandingkan pestisida nabati. Pestisida kimia atau yang sering juga disebut dengan pestisida sintetis lebih mudah didapatkan dan dapat langsung diaplikasikan. Ketersediaanya yang berkesinambungan, memudahkan untuk penggunaan pada frekuensi yang tinggi. Namun, penggunaan pestisida sintesis dalam jangka panjang, tidak saja dapat merusak lingkungan tetapi juga berbahaya bagi kesehatan.

Pestisida nabati yang bersifat mengendalikan pathogen ini, relatif aman walau digunakan dalam dosis tinggi. Dengan demikian, produk pertanian yang dihasilkan pun relatif lebih sehat, serta keberadaan musuh alami dapat dipertahankan. Bahan baku pembuatan pestisida nabati terdiri dari kenikir, sirsak, sereh wangi, lengkuas, kunyit, dll.

Materi yang sangat menarik perhatian para peserta ini, membuat jalannya diskusi sangat hidup. Di akhir kegiatan, para peserta melakukan praktik pembuatan pestisida nabati yang dipandu oleh para penyuluh dari BPTP Jakarta.