JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Jakarta – Kelinci merupakan hewan penghasil daging protein hewani tinggi dengan kandungan kolesterol rendah. Hal ini membuat daging kelinci aman dikonsumsi oleh manusia yg terkena penyakit jantung atau kelosterol.

Dalam budi daya ternak kelinci, biaya pakan merupakan pengeluaran terbesar yang dapat menyerap dana hingga 60%. Pengeluaran biaya pakan yang tinggi tersebut dapat disiasati dengan pemberian pakan hijauan (berupa sayuran maupun hijauan rumput-rumputan) dan limbah agroindustri. Pakan yang berbasis limbah industri pertanian memiliki harga yang relatif lebih murah dibandingkan pakan komersil yang harganya cukup mahal.

Dalam kegiatan Kaji Terap Budi daya Ternak Kelinci di Rusun Pesakih (11/12/2018), BPTP Jakarta mengenalkan teknologi pengolahan limbah agroindustri menjadi pakan ternak kelinci. Dr. Andi Saenab (peneliti BPTP Jakarta) memberikan penjelasan bagaimana memanfaatkan limbah tersebut menjadi pakan hingga praktek pembuatan pakan. Tidak hanya itu, drh. Neng Risris Sudolar, M.Sc. (peneliti BPTP Jakarta) juga menjelaskan bagaimana teknik perbanyakan kelinci dengan baik.

Kelompok Tani dan warga Rusun Pesakih sangat tertarik untuk mengembangkan budi daya kelinci. Hewan mamalia yang sangat senang berkembang biak ini, memiliki manfaat yang sangat besar untuk meningkatkan pendapatan petani. Tidak hanya dagingnya yang dapat dimanfaatkan untuk dikonsumsi (baik itu segar ataupun olahan dalam bentuk nugget atau bakso), namun kotoran feses dan urinnya juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kandang dan pupuk cair. Kulitnya pun dapat dibuat menjadi krupuk kelinci dan bulunya untuk hiasan.