JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Rorotan – Penggunaan pupuk kimia yang tidak bijaksana secara bertahun-tahun, tidak membuat lahan pertanian menjadi subur. Melainkan sebaliknya. Hal tersebut dapat menjadikan lingkungan pertanian terancam punah atau tidak lestari.

Untuk menambah wawasan akan pentingnya pelestarian lingkungan, BPTP Jakarta mengenalkan penggunaan pupuk hayati dan decomposer pada kegiatan Bimbingan Teknis Aplikasi Agrimeth dan Persemaian Padi dengan Sistem Dapog di Poktan Karang Tengah Jaya. Dengan menghadirkan Dr. Etty Pratiwi, peneliti Balai Penelitian Tanah, para penyuluh wilayah dan anggota poktan di Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara tersebut disadarkan akan pentingnya penggunaan pupuk organik dan hayati untuk memperbaiki kualitas tanah. Dengan demikian, diharapkan produksi bahan pangan, dalam hal ini padi di Rorotan dapat meningkat.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian diberi amanah oleh Kementerian Pertanian untuk melakukan pendampingan terhadap berbagai program stategis Kementan. Dikarenakan Jakarta masih memiliki sekitar kurang lebih 400 ha, maka BPTP Jakarta mendapat mandat melakukan pendampingan padi di tiga wilayah, yaitu Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Jakarta Timur. Hal tersebut disampaikan Ir. Etty Herawati, M.Si., selaku Kepala BPTP Jakarta dalam sambutan pembukaan bimtek.

“Melalui bimtek, diharapkan produksi padi di Jakarta dapat meningkat, hingga Jakarta bisa berperan dalam membantu menuju swasembada pangan” lanjutnya.

Hal serupa disampaikan oleh Ir. Didi Setiabudi, M.Si., sebagai perwakilan dari Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Prov. DKI Jakarta. Besar harapannya agar ilmu yang didapat dari bimtek mengenai persemaian sistem dapog dan penggunaan transplanter dapat ditularkan ke poktan wilayah lain.

Para peserta juga melakukan praktik aplikasi agrimeth pada persemaian sistem dapog yang dipandu oleh para teknisi dari Balai Besar Mekanisasi Pertanian dan juga BPTP Jakarta.