JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Jakarta -- Bawang merah termasuk komoditas sayuran yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Kunci keberhasilan peningkatan produksi bawang merah adalah penggunaan benih varietas unggul yang berkualitas. Salah satu upaya untuk memperbaiki kualitas benih bawang merah adalah perbanyakan melaui biji botani (True Shallot Seed /TSS). Penggunaan TSS sebagai sumber benih bawang merah sangat prospektif dalam rangka meningkatkan produksi dan kualitas umbi bawang merah.

Sampai saat ini, penggunaan TSS di tingkat petani masih menghadapi kendala. Budidaya bawang merah menggunakan benih umbi lebih mudah dan praktis, sedangkan budidaya bawang merah benih biji membutuhkan ketekunan pemeliharaan, khususnya pada fase awal pertumbuhannya. Selain itu, persentase hidup bawang merah yang langsung ditanam di lahan dari biji masih sangat rendah (> 50%). Oleh sebab itu, upaya untuk mengintroduksi teknologi ini kepada petani, terutama inovasi yang mudah dan murah untuk diaplikasikan, harus terus dilakukan.

Rabu (17/10/2018), Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta mengadakan bimbingan teknis budidaya bawang merah menggunakan benih TSS guna mendukung peningkatan kapasitas penyuluh dan diseminasi inovasi pertanian. Kegiatan dilaksanakan di ruang pertemuan BPTP Jakarta.

Kegiatan bimtek ini dibuka oleh Ka BPTP Jakarta, Ir. Etty Herawati, M.Si. Dalam sambutannya, disampaikan perkembangan teknologi budidaya bawang merah di perkotaan mendapat respon positif dari para penyuluh Dinas dan Suku Dinas. Hal tersebut dapat dijadikan modal dasar bagi BPTP Jakarta untuk dapat terus melakukan pengawalan dan pendampingan.

Sebagai narasumber, Ir. Emi Sugiartini, M.Si (peneliti BPTP Jakarta), menyampaikan pada tahun 2016 BPTP Jakarta telah menguji beberapa varietas bawang merah TSS (Maserati, Pancasona, Trisula dan Tuktuk). Teknologi budidaya bawang merah dengan TSS mimiliki banyak kelebihan antara lain 1). kebutuhan benih sedikit (7,5 kg/ha) dibandingkan dengan umbi bibit (1,5-2 ton/ha), 2) menghasilkan tanaman yang lebih sehat dan umbi yang lebih besar, 3). Daya hasil lebih tinggi, 4) bebas penyakit dan virus, 5) tidak ada masa dormasi, 6) tidak memerlukan penanganan khusus, 7). Daya simpan kurang lebih 2 tahun, Sedangka kelemahan TSS waktu produksi lebih lama.

Sukardi (Koordinator Penyuluh Jakarta Selatan), sangat tertarik dengan teknologi TSS ini, karena selama ini baru mengenal budidaya bawang merah melalui umbi. "Ini sangat bagus sekali, karena cara penyemaian mudah, cuma ada beberapa kendala karena semaian bisa beberapa minggu dan usia panennya juga  agak  cukup panjang. Namun demikian akan kita sosialiasikan ke  Ibu-ibu PKK, para pengelola gang hijau dan RPTRA di Jakarta Selatan", ujarnya.

 Upaya untuk mengembangkan teknologi pertanian perkotaan akan terus dilakukan oleh BPTP Jakarta. Kerjasama dengan berbagai pihak terkait, terutama dalam pendiseminasian sangat diperlukan.