JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Jakarta, 07 Agustus 2018. Ditengah-tengah gedung yang menjulang tinggi nan megah dan padatnya penduduk, ternyata Jakarta masih memiliki lahan lebih dari 400 Ha untuk melakukan usaha tani padi di sawah. Lahan tersebut sebagian besar adalah lahan garapan alias lahan milik pengembang. Namun apabila dibiarkan kosong, lahan tersebut tentu tidak bermanfaat, bahkan bisa menimbulkan banyak masalah. Demikian pula dengan penggarapnya, sebagian besar petani penggarap di Metropolitan berasal dari luar Jakarta. Misalnya kelompok tani Hizbul Waton, anggota kelompoknya berasal dari Indramayu. Mereka hijrah ke Jakarta untuk menyulap lahan kosong di kelurahan Pegadungan, kecamatan Kalideres, Jakarta Barat menjadi sawah dan kebun sayur. Berbekal pengalaman di kampungnya, para petani tersebut menggarap lahan yang belum dimanfaatkan untuk usaha tani padi dan sayur. Hasilnya lumayan, cukup untuk menghidupi keluarganya.

Dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan pendapatan petani, khususnya di kelompok tani Hizbul Waton, BPTP Jakarta menyelenggarakan Bimtek Jarwo Super. Acara tersebut dihadiri oleh penyuluh dari Suku Dinas KPKP Jakarta Barat, peneliti danp enyuluh BPTP Jakarta dan anggota kelompok tani Hizbul Waton. Acara diawali dengan sambutan dari Kepala BPTP Jakarta, dalam hal ini diwakili oleh Kasie KSPP Syarifah Aminah. Dalams ambutannya, Kepala BPTP Jakarta menyampaikan agar kelompok tani secara berkala mengadakan pertemuan untuk membahas berbagai hal yang berkaitan dengan peningkatan hasil panen, penggunaan varietas padi yang tepat, cara budidaya yang sesuai, penggunaan pupuk dan pestisida yang benar dan lain-lain untuk meningkatkan penghasilan petani. Dalam satu kelompok, sangat dianjurkan untuk menanam padi secara serentak untuk menghindari serangan hama wereng. Masalah yang berkaitan dengan pemilihan varietas, budidaya, penggunaan pupuk dan pestisida dapat dikonsultasikan dengan penyuluh dari Dinas atau Suku Dinas KPKP atau BPTP Jakarta. Hari ini, BPTP Jakarta memberikan pelatihan tentang cara penanaman padi dengan sistem Jarwo Super. Penggunaan teknologi tersebut dapat meningkatkan produksi padi yang dihasilkan sehingga pendapatan petani dapat meningkat.

Bimbingan Teknis tentang jarwo super 2 : 1 disampaikan oleh Ana Veronica, peneliti dari BPTP Jakarta. Dalam bimtek tersebut disampaikan bahwa Jajar Legowo (Jarwo) super merupakan teknologi budidaya padi secara terpadu berbasis jajar legowo. Jarak tanam antar baris 25 cm, dalam baris 12,5 cm, antar jajar legowo 50 cm. Teknologijarwo super adalah teknologibudidaya padi yang menggunakan; (1) benih bermutu varietas unggul baru dengan potensi hasil yang tinggi, (2) biodekomposer pada saat pengolah tanah, (3) pupuk hayati sebagai perlakuan benih dan pemupukan berimbang, (4) teknik pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) secara terpadu dan (5) penggunaan alat mesin pertanian terutama untuk tanam dan panen.

Dalam bimtek tersebut para petani bukan hanya dibekali teori tentang cara budidaya padi saja tetapi dilatih untuk menggunakan caplak, pengukuran pH tanah, pengukuran kandungan N dalam tanah, pengukuran kandungan K dalam tanah dan pengukuran P dalam tanah, untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani.

Semoga Jarwo Super dapat menjadi terobosan baru bagi petani Metropolitan untuk meningkatkan produksi padi dan menambah pendapatan.