JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Jakarta -- Diantara padatnya gedung bertingkat dan rumah susun, Metropolitan masih menyisakan lahan untuk bertanam padi. Hampir 80 % dari 440 hektar sawah di Metropolitan adalah milik pengembang. Oleh karena itu sawah tersebut bisa terus berkurang bila lahan tersebut dimanfaatkan oleh pemiliknya.

Optimalisasi lahan di wilayah Jakarta Utara, membuahkan hasil yang menggembirakan melalui kegiatan kerjasama BPTP Jakarta dan Suku Dinas Ketahanan Pangan Kelautan Pertanian (KPKP) Jakarta Utara dengan penyelenggaraan "Panen Padi Bersama" yang dilaksanakan di kelompok tani Marunda Jaya yang berada di Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Acara ini dihadiri oleh Kepala BPS Jakarta Utara, penyuluh dari Dinas Prov. DKI Jakarta, perwakilan dari Sudin KPKP Jakarta Pusat dan Sudin KPKP Jakarta Selatan. Hadir pula perwakilan dari Pusat Pengembangan benih dan Proteksi Tanaman DKI Jakarta.

Kepala BPTP Jakarta, Ir. Etty Herawati, M.Si dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka peningkatan indeks pertanaman (IP) dan mendukung Upsus Swasembada Beras. Inovasi teknologi yang di aplikasikan di Kelompok Tani Marunda Jaya adalah budidaya padi jarwo super dengan penggunaan Varietas Unggul Baru (VUB) Balitbangtan antara lain Inpari 30, Inpari 31, Inpari 32, dan Inpari 35. Selain itu untuk pengolahan lahannya petani diperkenalkan dengan Biodekomposer untuk pengomposan jerami sehingga dapat mengurangi penggunaan pupuk karena dapat meningkatkan NPK. Demikian pula penggunaan pupuk nabati, bioprotektor serta monitoring hama secara rutin agar ramah lingkungan. Berdasarkan hasil ubinan, Inpari 30 dan Inpari 31 menghasilkan hampir 8 ton gabah/hektar dan untuk Inpari 32 dan Inpari 35 menghasilkan hampir 9 ton gabah/hektar.

Wakil dari Suku Dinas KPKP Jakarta Utara, Yohanes menyampaikan bahwa Jakarta Utara akan terus melaksanakan budidaya padi, selama masih ada lahan yang masih dapat dimanfaatkan. Beberapa kendala yang dihadapi para petani di Jakarta Utara terutama pada saat musim penghujan sawahnya akan tergenang sehingga diperlukan penggunaan VUB untuk padi yang tahan genangan. Kendala lain berupa serangan hama tikus yang penanganannya masih belum optimal. Di Jakarta utara sejauh ini bisa menanam padi maksimal hanya 2 kali dalam setahun. Melalui kegiatan ini, diharapkan Indeks Pertanaman (IP) padi bisa ditingkatkan sampai dengan 3.

Diskusi berlangsung secara aktif antara petani dengan narasumber terutama terkait dengan informasi teknologi untuk pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) di lahan padi. Pada acara tersebut juga dilakukan Bimbingan Teknis tentang Bioprotektor dan sosialisasi SMART BPTP Jakarta.