JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Jakarta, (28/06/18) -- Balai Pengkajian teknologi Pertanian Jakarta bersama Sudin KPKP Jakarta Utara mengadakan kegiatan "Panen Padi Bersama" yang dilaksanakan di kelompok tani Marunda Jaya yang berada di Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Acara ini dihadiri oleh peneliti dan penyuluh BPTP Jakarta dan perwakilan undangan dari Dinas Provinsi DKI Jakarta, Sudin KPKP Jakarta Pusat dan Sudin KPKP Jakarta Selatan. Hadir pula kepala BPS Jakarta Utara dan perwakilan dari Pusat Pengembangan benih dan Proteksi Tanaman DKI Jakarta.

Kepala BPTP Jakarta, Ir. Etty Herawati, M.Si dalam sambutannya menyampaikan bahwa inovasi teknologi yang di aplikasikan di Jakarta Utara, khususnya di kelompok tani Marunda Jaya merupakan teknologi yang dihasilkan oleh Badan Litbang Kementerian Pertanian dalam rangka mendukung Upsus Swasembada Beras. Inovasi teknologi yang di aplikasikan salah satunya berupa penggunaan bioprotektor yang di paparkan secara langsung oleh Dr. Wiratno selaku narasumber dari Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balitro). Selain itu teknologi Varietas Unggul Baru (VUB), yang diaplikasikan di Jakarta Utara ini antara lain varietas 30, 31, 32, dan 35. Dalam kesempatan kali ini juga diperkenalkan Smart BPTP Jakarta yang berupa aplikasi online sebagai sumber informasi yang dapat diakses untuk mendapatkan informasi, konsultasi dan kegiatan lainnya yang disampaikan oleh Syarifah Aminah, M. Si. selaku Kasie KsPP BPTP Jakarta.

Selanjutnya Kepala Sudin KPKP Jakarta Utara yang diwakili oleh Bapak Yohanes menyampaikan kondisi pertanaman padi di Jakarta Utara. Luasan lahan padi di Jakarta Utara yaitu sekitar 440 hektar, 80% dari luasan tersebut merupakan milik pengembang, sehingga masih akan menyusut. Disampaikan juga dalam sambutan tersebut, selama masih ada lahan, kegiatan budidaya di Jakarta Utara ini masih akan tetap berjalan. Sebelumnya juga sudah dicoba VUB yaitu Inpari 30 yang sudah mencapai hasil 8-9 ton/hektar.

Yohanes menambahkan beberapa kendala terutama pada saat musim penghujan lahan padi menjadi tergenang sehingga diperlukan penggunaan VUB untuk padi yang tahan genangan. Kendala lain berupa serangan hama tikus yang penanganannya masih belum optimal. Di Jakarta utara sejauh ini bisa menanam padi maksimal 2 kali dalam setahun, dengan adanya kegiatan ini, diharapkan dapat meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) padi sampai dengan 3. Diskusi berlangsung secara aktif antara petani dan narasumber terutama terkait dengan informasi teknologi untuk pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) di lahan padi.