JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Jakarta Barat masih menyimpan ruang untuk pertanian di perkotaan dengan skala yang cukup luas untuk ukuran Ibu kota Negara.  Salah satunya adalah lahan di wilayah Kelurahan Semanan yang dikelola oleh Sutikno.  Sutikno yang juga merupakan ketua kelompok tani Subur, telah melakukan kegiatan budidaya sayur sejak tahun 1994.  Sayuran yang sering dibudidayakan di lahan seluas 0,5 ha adalah sawi, bayam, kangkung, selada, dan cabai sebagai tanaman tepi.  Khusus untuk selada, Sutikno merupakan satu-satunya petani penangkar benih selada betawi. Dalam melakukan kegiatan perbenihan selada betawi, Sutikno memilih waktu khusus yaitu bulan Mei sampai September. Selain bulan tersebut, kegiatan perbenihan tidak dilakukan dikarenakan saat panen sudah memasuki musim hujan sehingga hasil benih tidak optimal.
 
Selada betawi merupakan sayuran varietas lokal Jakarta yang telah dilepas dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 1836/Kpts/SR.120/4/2011 Tanggal : 8 April 2011 berdasar usulan Walikota Madya Jakarta Barat, Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Hasil Pertanian dan Hasil Hutan Propinsi DKI Jakarta, Sudin Pertanian dan Kehutanan Kotamadya Jakarta Barat, Balai Benih Induk Pertanian dan Kehutanan.  

Peneliti
Asal lokal selada ini adalah dari Semanan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat yang kemudian dilakukan seleksi.  Seleksi dilakukan secara bersama antar instansi yaitu oleh Kristrisasi Helenandari, Edi Setiawardana, Wardoyo,   Entang   Rukmana,   Bejo   Mulyono (BPMSHPHH),   Bambang Wisanggeni, Joko Sinung   Hardjo   (Suku   Dinas  Pertanian   dan Kehutanan Kota Administrasi Jakarta Barat), Ida Herawati, Solihin, Aulia Hakimsyah (Balai Benih Induk Pertanian dan Kehutanan), Redy Gaswanto (Balitsa), Ali Mahsun (Petani).

Karakter Selada Betawi
Selada betawi dapat beradaptasi dengan  baik di dataran rendah dengan altitud 25 – 300 m dpl, pada musim hujan dan musim kemarau. Tinggi tanaman   38 – 40 cm;  Bentuk daun terluar oval bergelombang; Ukuran daun terluar :   panjang 24 – 27 cm, lebar 12 – 13 cm; Warna daun terluar hijau muda; Kerapatan helaian daun 0,5 – 1,0 cm;  Umur panen 45 – 50 hari setelah tanam; Tekstur renyah; Rasa agak manis; Bentuk biji bulat lonjong; Warna biji abu-abu kekuningan;  Berat 1.000 biji 1,0934 – 1,0938 g; Berat per tanaman (akar bersih) 235 – 239 g; Daya simpan pada suhu kamar  (24 – 25 oC) : 2 – 3 hari setelah panen; Jumlah daun yang dapat dikonsumsi 17 – 20 helai.  Hasil  28 – 30 ton krop/ha;  Populasi per hektar 160.000 tanaman; Kebutuhan benih per hektar 250 – 300 g.

Semoga selada betawi sebagai kekayaan lokal Jakarta terus lestari!!