JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Info Aktual

Jakarta Utara (17/9/2021) – Kali ini Kepala Balai Penelitian Peternakan (Balitnak), Dr. Andi Baso Lompengen Ishak, S.Pt., M.P. beserta tim turun langsung ke lokasi kegiatan Hilirisasi Inovasi Teknologi Balitbangtan DKI Jakarta yang terletak di wilayah Kalijodo, tepatnya di bagian utara Hariston Hotel dan Suites Jakarta, Jakarta Utara. Ditemani Kepala BPTP Jakarta (Dr. Ir. Nurhayati, M.Si), beliau mengantarkan dan menyerahkan langsung bantuan kambing jenis Anpera sebanyak 12 ekor, yang terdiri dari 10 ekor betina dan 2 ekor jantan kepada perwakilan Ketua Poktan Garda Bintang Timur (Pak Agung) untuk bisa dikembangkan di lokasi tersebut. Kambing Anpera ini memiliki keunggulan sebagai kambing dwiguna karena bisa menghasilkan daging dan juga susu. Kambing ini merupakan hasil persilangan antara kambing Anglo-Nubian dan Peranakan Etawa (PE).

“Lokasi hilirisasi di Kalijodo ini bisa menjadi Inkubator Pengembangan Pertanian Perkotaan di DKI Jakarta jika digarap dengan serius”, ujar Andi Baso dalam kunjungannya kali ini. Dan beliau juga mengatakan akan memberikan bantuan selanjutnya berupa pupuk kandang dari untuk menjaga kesuburan tanah dalam berbudidaya tanaman sayuran dan buah, tanaman pangan, tanaman obat dan tanaman hias di lokasi hilirisasi ini. Dalam kesempatan yang sama Nurhayati dan juga Poktan GBT penerima bantuan mengucapkan terima kasih atas dukungan Balitnak pada lokasi hilirisasi pengembangan pertanian perkotaan terintegrasi di Kalijodo ini, semoga bisa berkembang dan bermanfaat bagi semuanya.

Setelah penyerahan bantuan ternak kambing, Kepala BPTP Jakarta mengajak Kepala Balitnak untuk berkeliling melihat blok-blok pertanaman sayuran dan buah, tanaman obat, tanaman hias hingga hidroponik di sekitar lokasi pengembangan. Sebelum pulang, Kepala Balitnak juga mencicipi buah semangka inul hasil panen di lokasi.

 

Jakarta -- Para pencinta tanaman hias tentunya sudah sangat mengenal bunga anggrek yang menjadi primadona tanaman hias dengan pesonanya yang sangat indah dan terlihat mewah. Warna, bentuk dan keunikan motif bunga menjadi daya tarik utama dari tanaman ini.

Tanaman anggrek memiliki berbagai macam kelompok dan varietas. Salah satu yang paling mudah untuk dibudidayakan adalah kelompok anggrek tanah. Dinamakan anggrek tanah karena tanaman ini ditanam dan dipelihara di permukaan tanah. Media tanam berupa bahan organik seperti kompos, arang sekam, pupuk kandang, serat pakis, sabut kelapa, serasah daun bambu, hingga serutan kayu diletakkan di permukaan parit tempat pangkal batang anggrek berada. Hal ini dibutuhkan agar drainase menjadi lebih baik dan mudah meloloskan air.

Pertumbuhan anggrek tanah membutuhkan sinar matahari langsung sekaligus  kelembaban yang cukup, serta penyangga saat tanaman semakin meninggi. Pada batang anggrek akan tumbuh akar angin yang berfungsi menyerap air dan hara dari udara sekitar tanaman. Dengan adanya akar angin, maka batang tanaman anggrek tanah dapat menjadi bibit baru dengan cara memotong batang di bawah akar angin tersebut, dan bibit bisa langsung ditanam seperti model stek.

 Anggrek tanah kini hadir di lokasi Hilirisasi Teknologi dan Inovasi Balitbangtan di Kalijodo, tepatnya di sisi Utara Hariston Hotel & Suites di Penjaringan, Jakarta Utara. Dua jenis anggrek tanah yang kini menghuni Kalijodo yaitu Vanda Douglas dan Giwi (kalajengking kuning).

 Potensi ekonomi anggrek sebagai tanaman hias sangat prospektif untuk dikembangkan, mengingat plasma nutfah anggrek di Indonesia sangat besar, dengan keindahan dan keunikan yang beragam.

 Hayoo… tertarik juga kan menanam anggrek tanah?

Jakarta, Kamis, 9 September 2021 telah dilaksanakan diskusi virtual dalam rangka penyusunan buku Memoar Pejuang Teknologi BPTP yang diprakarsai oleh Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) Bogor.

Hadir dalam acara, Sub Koordinator KSPHP sekaligus mewakili Kepala BBP2TP, Dr. Sigit Handoko, SP., M.Si., yang menyampaikan pentingnya buku memoar pejuang teknologi BPTP, termasuk BPTP Jakarta. Sehingga, perlu diskusi bersama antara petani, BPTP Jakarta, dan Suku Dinas KPKP setempat. Kepala BPTP Jakarta yang diwakili oleh Sub Koordinator KSPP, Dra. Dyah Pitaloka, M.Si, Kepala Suku Dinas KPKP Kepulauan Seribu, Ir. Devi Lidia, M.Si. beserta jajarannya, Peneliti dan Penyuluh BPTP Jakarta, serta petani terpilih dari Kelompok Tani Payung Sejahtera yang ada di Pulau Payung yaitu Hasanudin.

Dalam sambutannya Dyah Pitaloka menyampaikan petani terpilih merupakan petani yang konsisten dalam menerapkan teknologi yang pernah diintroduksikan oleh para peneliti dan penyuluh BPTP Jakarta, dan sampai saat ini masih mengembangkan tanaman-tanaman varietas Balitbangtan. Diskusi dipandu oleh Mukhlis, Wartawan Sinar Tani.

Devi Lidia dalam sambutannya menyampaikan Hasanudin adalah salah satu petani di Kepulauan Seribu yang gigih, dengan segala macam kendala yang ada namun tetap semangat melakukan usaha budidaya tanaman di lahan pasir pantai dengan pendampingan dari peneliti penyuluh BPTP Jakarta dan para penyuluh wilayah. Harapannya agar tetap bisa memanfaatkan lahan pasir pantai untuk budidaya tanaman karena hasil panen dari lahan pasir pantai mempunyai rasa yang eksotik, sebagai contoh semangka dan pepaya merah delima yang mempunyai rasa sangat manis. 

Dalam diskusi, Hasanudin menyampaikan bahwa pendampingan teknologi dari BPTP Jakarta yang dimulai tahun 2018, berdampak terhadap peningkatan kemampuannya dalam berbudidaya tanaman di lahan pasir pantai. Sebelumnya, aktivitas harian Hasanudin adalah sebagai nelayan. Sampai saat ini Hasanudin masih menanam aneka sayuran antara lain cabai, terong, tomat, kacang panjang, dan bawang merah. Selain sayuran juga terdapat tanaman buah diantaranya pisang Kepok Tanjung yang adaptif di lahan pasir pantai dan Raja Kinalun, keduanya merupakan pisang varietas Balitbangtan.

Melalui diskusi ini diharapkan segera tersusun buku Memoar Pejuang Teknologi BPTP yang dapat menginspirasi petani-petani lain agar tetap eksis menjalankan perannya sebagai pejuang pangan.

Jakarta (15/9/2021), BPTP Jakarta menyelenggarakan Temu Teknis Hilirisasi Teknologi dan Inovasi Balitbangtan Seri 2 dengan tema “Sukses Bertani dan Peluang Pasar Tanaman Obat di Masa Pandemi”. Adapun tema yang diangkat pada Temu Teknis ini berdasarkan hasil kuesioner yang telah dibagikan kepada Penyuluh PNS, Penyuluh Swadaya, POPT dan Inseminator di Provinsi DKI Jakarta, sehingga harapannya dapat menjawab kebutuhan teknologi dan inovasi serta menjadi solusi terhadap permasalahan yang dihadapi di lapang.

Dalam arahannya, Kepala BPTP Jakarta menyampaikan bahwa beragamnya tanaman obat yang dimiliki Indonesia sangat berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut, apalagi pada masa pandemic covid 19. Permintaan masyarakat terhadap tanaman obat seperti jahe, temulawak, kunyit, sambiloto semakin meningkat, sehingga hal ini menjadi peluang dan kesempatan emas bagi kita. Oleh sebab itu kita harus berupaya untuk terus berinovasi sehingga mampu memenuhi kebutuhan serta tantangan pasar di bidang pertanian.

Narasumber yang hadir pada acara kali ini yaitu Hera Nurhayati, SP, M.Sc (Peneliti Balittro) yang menyampaikan materi dengan judul “Budidaya Tanaman Obat di Masa Pandemi Covid-19”. Selain itu, hadir pula Ir. Heru Wardhana (Head of Kampoeng Djamoe Organik- Martha Tilaar Group) dengan topik materi “Peluang Bisnis Tanaman Obat, Kosmetik dan Aromatik di Masa dan Setelah Pandemi Covid-19” dan Ibu Lasmi (Praktisi/KWT Lestari) dengan materi “Pembuatan Jamu yang Baik, Bermutu dan Bermanfaat untuk Menjaga Kesehatan dan Kebugaran Keluarga”. Temu Teknis Seri 2 ini diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat mulai dari petani, penyuluh sampai dengan wirausaha yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Selain materi, peserta Temu Teknis pun disuguhkan video praktek pembuatan ramuan jamu yang sehat, berkhasiat di masa pandemic covid-19. Belajar silat di hari Rabu, ingin sehat minumlah jamu…

Semoga bermanfaat dan salam sehat

Jakarta, (09/09/2021) --  Benih berkualitas tidak dapat disangkal lagi termasuk faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas bawang merah. Ketersediaan benih berkualitas yang merupakan varietas unggul, bebas hama dan patogen, serta berlabel, masih terbatas. Umumnya petani membeli benih bawang merah tanpa memiliki kriteria benih yang baik dan berkualitas, bahkan tidak berlabel. Penggunaan benih bawang merah dari umbi secara terus menerus pun menanggung resiko yang tinggi, terutama jika tanpa seleksi dapat memunculkan penyakit degeneratif, yaitu penyakit yang berasal dari pertanaman sebelumnya seperti penyakit layu (Fusarium sp.), antraknosa (Colletotrichum sp.), bakteri, dan virus.

BPTP Jakarta bekerja sama dengan Pusat Pengembangan Benih dan Proteksi Tanaman, Dinas Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta, melaksanakan kegiatan budi daya bawang merah yang berasal dari Benih Sumber yang akan diturunkan kembali untuk menjadi benih. Kegiatan berlokasi di BBI Ujung Menteng, Jakarta Timur. Benih yang digunakan berasal dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa).

Hingga saat ini, Balitsa telah melepas 11 varietas bawang merah yang cocok ditanam di dataran rendah sampai tinggi. Beberapa varietas bawang merah dataran rendah yang cocok ditanam di wilayah Jakarta yaitu varietas Sembrani dan Pancasona. Selain cocok ditanam di dataran rendah, varietas Sembrani juga cocok ditanam di luar musim atau pada musim hujan (offseason ).

Ada tiga varietas yang diujiadaptasikan di Jakarta yaitu, varietas Sembrani, Pancasona dan Keramat. Pada fase vegetatif ketiga varietas tersebut, pertumbuhan terlihat baik dan tidak terserang hama penyakit. Semoga hasil perbenihan bawang merah ini dapat memenuhi kebutuhan benih sumber bawang merah di Jakarta dan menginspirasi wilayah sekitarnya untuk ikut bertanam bawang merah. Semoga...